Bagaimana NGO, Perusahaan Swasta, dan Aktor Non-Negara Membentuk Aksi Kemanusiaan?

BY Sayyidul Mubin
22 Mei 2024
Bagaimana NGO, Perusahaan Swasta, dan Aktor Non-Negara Membentuk Aksi Kemanusiaan?

Meninjau aspek historis dari diplomasi kemanusiaan, dimana istilah ini lahir dari sebuah tujuan untuk memberikan perhatian lebih kepada manusia, peran aktor non-negara yang mendominasi. Hal ini didasarkan dari asusmsi bagaimana Konvensi Jenewa dan sebuah lembaga bernama Palang Merah yang menjadi pelopor gerakan kemanusiaan ini yang akhirnya diadaptasi menjadi sebuah diskursus di Ilmu Hubungan Internasional. Peran tersebut berkembang menjadi penting dalam menangani krisis kemanusiaan yang terjadi akibat konflik ataupun bencana alam. Organisasi-organisasi non-pemerintah internasional dan berbagai inisiatif sipil lainnya semakin terlibat aktif dalam menyediakan bantuan dan advokasi, menegaskan pentingnya solidaritas dan kerjasama lintas batas untuk mengatasi penderitaan umat manusia.

Pada saat pandemi covid-19 melanda, terlihat bagaimana lembaga-lembaga non-pemerintah berusaha keras untuk melaksanakan aksinya dalam penanganan pengendalian virus. Salah satunya adalah ICRC, dimana pusat-pusat kesehatan yang ada di jangkauan wilayahnya beberapa dialihkan fokus untuk lebih mewaspadai penyebaran virus. Selain ICRC, NGO lokal sering memainkan peran penting dalam mengidentifikasi dan menangani kebutuhan masyarakat rentan. Misalnya, Goonj, sebuah NGO India, membagikan makanan, kebutuhan kebersihan, dan masker kepada pekerja upah harian, dan orang tua, yang secara tidak proporsional terkena dampak kesulitan ekonomi. Salah satu wujudnya, NGO  ini juga memberikan pemecahan masalah kepada warga yang tidak bisa ke kota untuk bekerja, dengan bertani menggunakan irigasi yang diswadayakan (Goonj, 2021).

Para pemikir konstruktivis melihat bahwa aksi dari aktor non-negara merupakan sebuah hal yang lebih fleksibel dalam diplomasi kemanusiaan (Mubin, 2023). Hal ini dikarenakan tidak ada kepentingan politik praktis negara yang harus menjadi landasan dalam melaksanakan diplomasi kemanusiaan. NGO seperti ICRC bergerak murni karena tugas kemanusiaan yang diemban oleh relawan. Pendekatan ini memungkinkan mereka untuk bertindak lebih cepat dan efektif dalam menanggapi krisis, serta membangun kepercayaan dengan masyarakat lokal dan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Fleksibilitas ini juga memungkinkan mereka untuk beradaptasi dengan situasi yang berubah-ubah dan memastikan bantuan dapat disalurkan secara tepat sasaran, tanpa dibatasi oleh birokrasi yang seringkali menghambat upaya diplomatik yang dilakukan oleh negara.

Hal lain yang membuat perusahaan swasta adalah aktor diplomasi kemanusiaan yang baik adalah dari aksi dan dukungan finansial dari mereka. Melalui inisiatif Corporate Social Responsibility (CSR), banyak perusahaan berkomitmen untuk memberikan dampak positif terhadap krisis global (Msosa, 2023). Misalnya, perusahaan logistik seperti UPS menggunakan rantai pasokan canggih dan teknologi logistik mereka untuk memastikan pengiriman bantuan yang efisien ke daerah-daerah yang dilanda bencana, sering bekerja bersama-sama dengan NGO dan pemerintah untuk menjalankan aksi kemanusiaannya (UPS, 2023). Demikian pula, perusahaan teknologi seperti Cisco menyediakan infrastruktur komunikasi penting di zona darurat, memfasilitasi koordinasi dan penyebaran informasi. 

Namun, keterlibatan perusahaan swasta dalam upaya diplomasi kemanusiaan bukan tanpa sebuah dilema dalam perdebatan. Ada perdebatan yang sedang berlangsung tentang keseimbangan antara motif laba dan tujuan altruistik (sikap atau naluri untuk memperhatikan dan mengutamakan kepentingan dan kebaikan orang lain), dengan kritik mempertanyakan apakah tujuan utama perusahaan adalah benar-benar kemanusiaan atau jika mereka didorong oleh peningkatan merek dan perluasan pasar. Terlepas dari pertimbangan etis ini, manfaat nyata yang dibawa oleh perusahaan swasta melalui inovasi, skalabilitas, dan mobilisasi sumber daya  menunjukkan peran vital mereka dalam diplomasi kemanusiaan, melengkapi upaya aktor negara tradisional dan NGO.

Di luar NGO dan perusahaan swasta, beragam aktor non-negara lainnya semakin membentuk respons kemanusiaan. Filantropis dan yayasan individu, seperti Bill and Melinda Gates Foundation, memainkan peran penting dengan mendanai inisiatif kesehatan skala besar dan merintis solusi inovatif untuk tantangan global. lembaga ini sering memiliki fleksibilitas untuk berinvestasi dalam proyek jangka panjang dan bereksperimen dengan pendekatan baru yang mungkin terlalu berisiko bagi pemerintah (Foundation, 2020). Kelompok masyarakat dan agama juga berkontribusi secara signifikan, memanfaatkan ikatan dan kepercayaan lokal mereka yang mendalam untuk memberikan bantuan langsung dan peka budaya. Misalnya, selama pandemi covid-19, banyak organisasi keagamaan bergerak cepat untuk mendukung kampanye vaksinasi dan mendistribusikan persediaan penting. 

Selain itu, lembaga akademik dan penelitian adalah komponen penting lainnya. Mereka menawarkan keahlian dalam analisis data, melakukan penilaian kebutuhan, dan mengembangkan strategi berbasis bukti untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas intervensi kemanusiaan. Pekerjaan mereka memastikan bahwa tanggapan tidak hanya cepat tetapi juga secara ilmiah sehat dan berkelanjutan. Secara kolektif, aktor-aktor non-negara ini meningkatkan ketahanan dan kemampuan beradaptasi upaya kemanusiaan, mengisi kesenjangan kritis dan sering memimpin dalam inovasi dan implementasi. Lembaga seperti FXB Center for Health and Human Rights Harvard University melakukan penelitian kritis tentang kesetaraan kesehatan dan hak asasi manusia dalam situasi krisis yang mana mempengaruhi kebijakan dan praktik (Harvard, 2021). Peran dari mereka cukup krusial dalam aksi kemanusiaan, karena data dan juga penanganan yang tepat membutuhkan sebuah penelitian yang komprehensif.

Diplomasi kemanusiaan adalah upaya untuk memfokuskan atensi dari sebuah permasalahan yang ada menuju kepada penyelesaian masalah yang berakibat ke manusia. Lembaga-lembaga non pemerintah seperti NGO, perusahaan swasta, bahkan kelompok masyarakat mampu untuk memberikan aksinya untuk kemanusiaan. Perdebatan yang hadir terkait kepentingan politik praktis bahkan kepentingan nasional tidak akan muncul di permukaan jika aktor ini melaksanakan upaya kemanusiaannya. Namun, perdebatan yang muncul ialah apakah benar aktor non-pemerintah ini ingin membantu atau mencari momen untuk memperluas segmentasi branding dari lembaga mereka masing-masing. Perdebatan dalam hal ini tidak bisa dinilai dengan objektif. Segmentasi pasar dan motif tidaklah diketahui tanpa adanya pendalaman investigasi yang komprehensif. Namun, dalam hal ini tujuan diplomasi kemanusiaan ialah membantu manusia, selama ini aktor non-negara telah andil banyak bagian dalam meningkatkan mutu hidup manusia, khususnya mereka yang berada di wilayah konflik atau tempat yang kurang beruntung. Hadirnya aktor ini menjadi jawaban dari pemikir konstruktivis, bahwa advokasi, lobbying, dan sosialisasi mengenai diplomasi kemanusiaan mampu dijalankan oleh aktor non-negara dengan baik.

 

REFERENSI 

Foundation, B. &. (2020). Annual Report 2020. Retrieved from https://www.gatesfoundation.org/about/financials/annual-reports/annual-report-2020

Goonj. (2021, May). We Are Afraid of Hunger More Than of Covid. Retrieved from Goonj.org: https://goonj.org/we-are-afraid-of-hunger-more-than-of-covid-sandhiha-village/

Harvard. (2021). Harvard University FXB Center for Health and Human Rights, Annual Report 2021. Harvard University. Retrieved from https://fxb.harvard.edu/

Msosa, S. K. (2023). Corporate Social Responsibility in Developing Countries: Challenges in the Extractive Industry.Cham: Springer.

Mubin, S. (2023). Catalyzing Peace Through Moderated Humanitarian Diplomacy: The Icrc's Humanitarian Diplomacy Amidst the Armed Conflict in Afghanistan (2010-2021). Jurnal Studi Diplomasi Dan Keamanan, 48.

UPS. (2023). UPS Repurposes Shipping Containers as Mobile Health Clinics. Retrieved from https://about.ups.com/us/en/our-impact/community/health-humanitarian-relief/ups-repurposes-shipping-containers-as-mobile-health-clinics.html