Racism
Xenophobia dan racism masih marak terjadi di Amerika. (Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)

Isu racism merupakan suatu hal yang sangat sering terjadi di berbagai belahan dunia tak terkecuali di negara besar seperti Amerika Serikat.

Beberapa waktu lalu, dunia sempat digemparkan dengan tindakan rasisme terhadap warga kulit hitam di Amerika Serikat, puncaknya adalah pada saat tragedi kematian George Floyd di tangan anggota kepolisian Minneapolis yang memicu demonstrasi besar-besaran anti-rasisme melalui gerakan black lives matter.

Namun, ternyata aksi rasisme dan diskriminasi juga diterima oleh warga Amerika Serikat yang berketurunan Asia atau daerah pasifik lainnya. Kelompok ini biasa dikenal sebagai warga AAPI yang merupakan singkatan dari Asian American and Pasific Islander.

Aksi rasisme terhadap AAPI di Amerika Serikat ini juga ditambah dengan adanya isu Xenophobia yang merupakan rasa ketidaksukaan dan ketakutan terhadap warga yang datang dari negara lain atau yang dianggap sebagai warga asing pendatang.

Aksi rasisme terhadap AAPI di Amerika Serikat ini semakin meningkat dan memburuk semenjak dimulainya Pandemik Virus Covid-19. Sebagaimana yang kita tahu bahwasanya virus tersebut berasal dari Tiongkok yang notabenenya merupakan negara Asia.

Akibatnya, banyak warga negara Amerika Serikat keturunan Asia yang mendapatkan perlakuan diskriminasi, padahal sebenarnya tidak ada sangkut pautnya antara penyebaran virus dengan keturunan atau ras tertentu.

Hal ini semakin memburuk akibat adanya pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh mantan Presiden Donald Trump terhadap Tiongkok sebagai negara penyebab awal mulanya pandemik yang mengguncang dunia hingga saat ini.

Baca Juga : British Royal Family: Scandal and How It’s Effect to Their Image

Di sisi lain, rasisme terhadap warga Amerika Serikat keturunan Asia diduga juga dikarenakan adanya rasa superioritas warga kulit putih Amerika Serikat yang merupakan penduduk mayoritas di sana serta latar belakang sejarah mereka sebagai penduduk yang paling lama tinggal di wilayah Amerika Serikat.

Baca Juga  Menelisik Dampak Budaya Pop Terhadap Perubahan Iklim: Sandang, Pangan, dan Papan

Mungkin hal ini juga mirip dengan yang terjadi di berbagai belahan dunia, salah satunya Indonesia, di mana penduduk mayoritas selalu berusaha untuk mendominasi penduduk minoritas.

Banyak warga Amerika Serikat keturunan Asia yang menerima intimidasi baik dalam bentuk verbal seperti ucapan yang menyinggung ras dan fisik hingga pembunuhan atau dalam bentuk lainnya. Hal tersebut melahirkan berbagai gerakan yang menyuarakan slogan “Stop Asian Hate”.

Belakangan ini, isu rasisme terhadap AAPI semakin memburuk dengan terjadinya kasus pembunuhan di Kota Atlanta negara bagian Georgia, Amerika Serikat. Kasus pembunuhan ini menewaskan sejumlah warga Amerika Serikat keturunan Asia di sebuah panti pijat oleh seorang pria bersenjata.

Tentunya informasi mengenai kasus pembunuhan ini tersebar sangat cepat hingga ke seluruh penjuru dunia mengingat status Amerika Serikat sebagai salah satu negara besar di dunia yang banyak disorot oleh mata dunia internasional.

Meskipun kasus pembunuhan di Atlanta masih dalam proses penyelidikan, tentunya hal ini telah membangunan opini publik warga Amerika Serikat ataupun publik internasional dalam menilai isu Asian Hate yang terjadi belakangan ini.

Hingga saat ini, pihak berwajib masih mencari tahu apakah ada motif rasisme atau tidak yang melatar belakangi kasus pembunuhan tersebut. Di sisi lain, hal ini diduga juga diakibatkan dengan adanya kebebasan penggunaan senjata api oleh masyarakat sipil Amerika Serikat yang masih menuai pro dan kontra.

Sumber : 

FPCI UPN Veteran Jakarta dalam acara WEEKLY TALK AND FORUM DISCUSSION Episode 5