intervensi wilayah crimea ukraina
(Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)
7 Shares

Masalah Ukraina yang melibatkan Rusia tidak lepas dari kepentingan politik. Masalah yang terjadi ketika salah satu wilayah yaitu Crimea memutuskan untuk melepaskan diri dari Ukraina dan bergabung ke negara Rusia. pada 2003 masalah ini terjadi ketika Presiden Ukraina yaitu Viktor Yakunovych membatalkan kesepakatan Ekonomi dengan Uni Eropa yang membuat warga demo yang membuat Yakunovych harus turun dari jabatannya menjadi presiden karena posisi Uni Eropa adalah salah satu mitra terbesar dan menyumbang sekitar sepertiga dari perdagangan eksternal di Ukraina Dan Ukraina membatalkan perundingan kerja sama tersebut intervensi dan tekanan dari pihak Rusia adanya kepentingan politik di wilayah Crimea.

Rusia pada saat itu menyatakan bahwa tindakan mereka itu untuk melindungi masyarakat Rusia yang berada di Ukraina dari kekacauan dari para kelompok yang pro-Ukraina. Setelah itu Crimea bergabung ke Rusia dan Ukraina melakukan kerja sama yang dulu sempat dibatalkan oleh Viktor Yakunovych dengan Uni Eropa yang pada akhirnya disahkan kembali pada tahun 2006.

Baca Juga: Analisa Konflik Krisis Ossetia

Kesepakatan tersebut membahas sebuah hubungan politik dan perdagangan bebas untuk mendekati Uni Eropa dengan berbicara soal politik dan membuat aturan-aturan baru untuk kerja sama agar diharapkan Ekonomi dan Politik di Ukraina bangkit kembali. Ukraina mampu melaksanakan mengembangkan kekuatan militernya dan Ukraina membuat kerja sama latihan militer dengan AS dan NATO. Kerja sama Ukraina dengan AS dan NATO yaitu untuk konsultasi dan dukungan keuangan di dalam bidang diplomasi publik, hubungan media kemudian komunikasi yang strategis serta sektor pertahanan dan keamanan yang sedang diperkuat melalui pengembangan kemampuan tersebut.

Rusia merupakan aktor dalam masalah tersebut akan berhadapan dengan Uni Eropa, Amerika dan NATO. Dukungan dari negara-negara besar kepada Ukraina itu membuat Rusia merasa terancam dalam memberikan pengaruhnya di bagian Eropa Timur.  Ukraina termasuk ke dalam negara kecil dan tidak memiliki cukup kekuatan dalam melawan negara seperti Rusia. Maka dari itu Ukraina melakukan strategi tersebut untuk melawan Rusia. Hal ini dilakukan oleh Ukraina karena Ukraina sangat membutuhkan dukungan yang baik dari negara lain maupun organisasi internasional yang dapat melindungi Ukraina dari ancaman Rusia.

Pengaruh dengan adanya kebijakan Rusia di Ukraina begitu dirasakan berbagai pihak sehingga mendorong pihak tersebut untuk terlibat dalam konflik di Ukraina, Kebijakan berdampak pada lingkup eksternalnya yang berarti kondisi di luar wilayah teritorial Rusia sendiri seperti kondisi internal Ukraina, relasi Rusia-Ukraina, dan kondisi politik kawasan antara Rusia dengan negara poros kekuatan seperti  AS, Uni Eropa, NATO, dan negara-negara pecahan Soviet lainnya secara meluas.

Secara internal, maka kebijakan tersebut juga memiliki dampak bagi kondisi domestik Rusia terlebih pasca kebijakan tersebut dilakukan oleh Rusia, pihak-pihak seperti Uni Eropa, Amerika Serikat dan beberapa negara sekutunya mendatangkan sanksi ekonomi terbatas pada Rusia sehingga sanksi tersebut berdampak pada kondisi perekonomian Rusia. Begitu juga Tetapi, semua pertemuan tersebut berujung pada sebuah krisis baru yakni jalan buntu suatu negosiasi. Ketika hal itu terjadi, maka yang berbicara bukan politik atau kebijakan, melainkan angkatan bersenjata (militer).

NATO telah menyusun strategi-strategi militernya. Dalam latihan militernya Amerika serikat mengadakan latihan militer di darat bersama Polandia dan di laut dengan Bulgaria dan Romania. Sedangkan Rusia mengadakan latihan besar-besaran di wilayah barat Rusia yang wilayahnya berbatasan dengan  wilayah Ukraina. Hal ini mengisyaratkan bahwa kedua belah pihak baik Barat maupun Rusia telah siap jika solusi militer menjadi langkah terakhir dari bagian krisis ini.

Jika ini terjadi, perang dunia ke-III yang sudah lama tertidur akan dibangunkan kembali jika kita lihat dari posisi Rusia yang sangat tegas akan keputusannya. Langkah Rusia memilih untuk terisolasi bisa jadi memang menjadi bagian dari strategi untuk membangunkan kembali sentimen perang dunia. Dan dengan keadaan Rusia yang terisolasi, mengakibatkan Rusia memperoleh peluang besar dalam otonominya untuk Rusia dapat bergerak. Dengan kekuatan armada militernya yang kuat atau berada setara dengan AS, bukan mustahil jika kekacauan besar di dunia ini akan terjadi.

Ukraina yang berhasil menerima bantuan finansial dari IMF dan negara-negara Barat memicu reaksi keras dari pihak Rusia. Presiden Federasi Rusia memerintahkan pasukan militernya untuk bersiaga di wilayah barat Rusia karena tindakan tersebut meningkatkan kewaspadaan dengan hal-hal yang dapat memicu terjadinya perang. Hal ini dilakukan Pemerintah Rusia sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemerintahan Ukraina yang baru setelah kekuasaan Yanukovych ditumbangkan oleh people power di Lapangan Kemerdekaan Maidan. Persiapan perang di Rusia ini bersamaan pula semakin ricuhnya keadaan di wilayah Republik Otonom Crimea.

Keuntungan yang di peroleh Putin dengan intervensi di Crimea Ruslan Phukov dalam artikelnya di International New York Times (6/3): “What Putin really wants in Crimea” bahwa yang ingin dicapai adalah bukan pemisahan de jure Crimea dari Ukraina melainkan otonomi yang lebih besar, dengan kebebasan yang lebih besar yang pada akhirnya secara de facto menjadi wilayah protektorat Rusia. Dengan otonomi besar yang dimiliki dan adanya kecenderungan separatisme yang dimilikinya.  Crimea akan menjadi faktor ketidakstabilan dan bahkan menjadi jalan bagi Rusia guna menekan Ukraina untuk memainkan kartu hampir sejuta suara pro-Rusia dalam setiap pemilu di Ukraina.

Dalam waktu yang relatif singkat tindakan intervensi dapat merusak kepercayaan Rusia di mata dunia dan tentunya dapat memicu konflik bersenjata antar kekuatan dunia. Dalam jangka panjang pengabaian hukum dan standar internasional mengenai integritas wilayah suatu negara akan merugikan Rusia. Di wilayah Siberia Timur, Rusia menguasai sumber daya alam  yang cukup besar di perbatasan yang dekat dengan China dan  Beijing akan mencatat tentang betapa mudahnya doktrin Rusia mengenai bahasan batas wilayah negara. Rusia juga harus ingat bahwa Jepang juga mengklaim Kepulauan Kuril.

Dan secara paradoks, invasi yang dilakukan oleh Rusia di Crimea justru akan menolong negara Ukraina, karena dapat menghilangkan isu legitimasi dalam pemerintahan baru yang dalam dekade ini dipermasalahkan Rusia. Lihat saja, IMF dan Uni Eropa sudah menyatakan komitmen akan membantu keuangan pemerintah baru itu.

Sesungguhnya Rusia harus memperhitungkan kembali  tentang apa yang sudah dilakukan dan  langkah apa yang akan diambil selanjutnya di Crimea jika tidak ingin adanya  isolasi  lagi dan tertimpa masalah yang telah dilemparkannya sendiri dengan adanya  dampak kebijakan tersebut pada kondisi dalam negeri politik Rusia, karena perebutan wilayah dengan paksaan tersebut akan melibatkan proses  integrasi  atau penyatuan wilayah Crimea dan juga yang berkaitan dengan berbagai opini dari masyarakat dunia internasional.  Rusia memilih untuk tetap terisolasi dari organisasi Uni Eropa maupun NATO dan AS. Rusia tetap bersikap untuk mempertahankan Crimea.

Dari aspek rasional tersebut juga dapat ditelusuri bagaimana logika self help menjadi kondisi alamiah dari sebuah negara di bawah tekanan sistem internasional. Putin memahami betul bahwa kebutuhan Rusia sebagai poros kekuatan yang bangkit kembali harus ditunjukkan melalui cara tersendiri seperti halnya Amerika Serikat yang secara unilateral menginvasi Iraq pada tahun 2003.

Begitu juga dalam permainan stabilitas hegemoni ketika Amerika Serikat berupaya memaksakan dunia internasional untuk berpartisipasi dalam global on teror, Rusia di lain hal mencoba menyampaikan pesan bahwa sebagai negara poros kekuatan Rusia juga memiliki hak yang sama untuk membina kepentingannya yang secara spesifik ditujukan pada konsep wilayah pengaruh yang dihuni oleh negara-negara pecahan Soviet.

Secara tidak langsung Rusia menunjukkan kepada masyarakat Rusia dan masyarakat internasional bahwa untuk dapat bertahan maka Rusia harus bisa menolong dirinya sendiri yang dimaknai dengan keharusan Rusia untuk mengenali dan mengantisipasi jenis dan bentuk ancaman terhadap keamanan nasional dan kepentingan nasionalnya.

Konsekuensinya, kondisi perimbangan kekuatan antar hegemoni di atas wilayah Crimea adalah sebuah kondisi nyata yang tidak dapat dipungkiri. Sekaligus ini membuktikan bagaimana relativitas Power  memainkan peranannya dalam menggambarkan bagaimana sistem internasional bekerja. Oleh karena itu untuk melakukan analisis terhadap motivasi kebijakan tersebut, konsep perimbangan kekuatan juga dapat membantu dalam memahami bagaimana Rusia mencoba mengomunikasikan kepentingan nasionalnya terhadap rival politiknya.

Aneksasi Crimea bukanlah agresi emosional Putin ataupun Rusia, melainkan terdapat pola kebijakan luar negeri yang terencana cukup baik. Sekilas memang terlihat bahwa aneksasi Crimea oleh Rusia dilakukan secara spontan. Akan tetapi, kebijakan tersebut dapat ditelusuri melalui apa yang menjadi strategi dan taktik dalam menyusun pola kebijakan luar negeri. Dari situ, dapat diidentifikasi bahwa Rusia melakukan tiga bentuk pendekatan. Pertama pendekatan berbasis etnisitas terhadap warga Rusia di Ukraina. Kedua, intervensi militer dengan alasan kemanusiaan, yaitu keselamatan warga Ukraina keturunan Rusia di wilayah Crimea. Ketiga, penggunaan wajah demokrasi untuk melegalkan tindakannya yaitu dengan membiarkan pemerintahan baru Crimea menggelar referendum.

Uni Soviet adalah sebuah negara yang sangat besar sebelum terjadinya perpecahan. Uni Soviet adalah salah satu negara dari beberapa negara besar yang memiliki arti penting dalam perkembangan dan juga sejarah dunia. Uni Soviet adalah negara terbesar yang menganut ideologi komunis terbesar di dunia, dimana lawannya yaitu Amerika Serikat menganut ideologi demokrasi. Sudah tidak lazim lagi di telinga kita tentang negara Uni Soviet yang selalu berbeda kubu atau bisa dibilang musuh dari Amerika serikat. Selain negara Amerika serikat yang memang sudah terkenal dengan kekuatan militernya, Uni Soviet juga memiliki militer yang sangat kuat.

Ternyata tidak hanya sampai pada kemenangan yang dirasakan Uni Soviet pada masa perang dunia kedua, melainkan setelah perang dingin pun memberikan arti penting bagi Uni Soviet. Arti penting yang dimaksud mungkin dapat dikatakan negatif bagi pihak Uni Soviet karena terpecahnya Negara yang menganut ideologi komunis terbesar di dunia pada saat itu. Perpecahan yang terjadi mungkin dianggap hal yang positif bagi negara pecahan dari Uni Soviet.

Terdapat 15 negara pecahan dari negara Uni Soviet pada saat itu, dimana ke 15 negara tersebut semua merdeka pada tahun 1991. Negara-negara tersebut ialah Negara Armenia, lalu Azerbaijan, Belarus, Estonia, Georgia, Kazakhstan, Kirgizstan, Latvia, Lituania, Moldova, Rusia, Tajikistan, dan Turkmenistan, Ukraina, Serta Uzbekistan. Memutuskan untuk mendeklarasikan negara tentu saja memiliki alasan tersendiri, sehingga sampai terjadi adanya pemisahan wilayah yang mereka lakukan.

Dalam jurnal ini yang akan kami bahas ialah salah satu dari 15 negara pecahan dari Uni Soviet. Wilayah tersebut ini masih sering terjadi konflik perebutan antara Rusia dan Ukraina. Negara Rusia dengan negara Ukraina adalah 2 negara yang sama-sama menjadi negara pecahan dari Uni Soviet. Kedua negara tersebut berkonflik dikarenakan perebutan satu wilayah. Wilayah Crimea ialah wilayah yang memang memiliki letak geografis yang bisa dikatakan sangat menarik untuk bisa dikuasai oleh negara-negara. Perebutan wilayah Crimea ini dilakukan oleh kedua negara tersebut yaitu negara Rusia dan Ukraina. Wilayah Crimea tersebut adalah wilayah yang memiliki arti yang penting bagi kedua negara tersebut dimana Crimea adalah wilayah kedaulatan yang strategis bagi Ukraina dan wilayah yang penting bagi Rusia.

Konflik Crimea ini sebenarnya berpuncak pada saat presiden dari Ukraina yang bernama Viktor Yanukovych digulingkan. Penggulingan dari presiden Viktor Yanukovych tersebut merupakan sebuah protes yang dilakukan oleh masyarakat Ukraina terhadap sang presiden. Protes masyarakat tersebut disebabkan oleh pembatalan atas kesepakatan dagang yaitu European Association Agreement (EAA) dengan Uni Eropa pada 21 November 2013. Pembatalan yang dilakukan sang presiden Viktor Yanukovych terhadap EAA tersebut digantikan dengan presiden memutuskan untuk melakukan kerja sama dan juga menerima utang dengan Rusia. Dimana keputusan yang telah diambil oleh sang presiden Viktor Yanukovych tidak sesuai dengan kemauan masyarakat dari Ukraina. Dimana masyarakat itu sendiri lebih memilih untuk Ukraina bisa lebih dekat dengan menjalin kerja sama dengan Uni Eropa.

Kekecewaan yang dirasakan masyarakat Ukraina pada saat itu ternyata membuat dampak yang besar dimana sampai terjadinya penggulingan kekuasaan terhadap sang presiden Viktor Yanukovych. 21 Februari 2014 adalah sebuah hari dimana presiden Viktor Yanukovych meninggalkan Ukraina karena terjadinya protes besar-besaran yang terus terjadi.

Kepergian presiden Viktor Yanukovych membuat pemerintahan di Ukraina terpaksa membentuk pemerintahan sementara. Pembentukan pemerintahan sementara tersebut ternyata membuat Rusia berpendapat bahwasanya pemerintahan sementara telah melakukan kudeta atas sang presiden Viktor Yanukovych. Kudeta atau penggulingan yang terjadi pada saat itu terhadap sang presiden Viktor Yanukovych membuat Rusia tidak setuju dengan hal tersebut. Bukan hanya negara Rusia yang tidak setuju tetapi juga masyarakat semenanjung Crimea di selatan Ukraina mereka tidak terima atas kejadian tersebut, dikarenakan masyarakat tersebut pro terhadap Rusia.

Ketidaksetujuan masyarakat Crimea akan hal yang telah dilakukan atas terbentuknya pemerintahan sementara yang muncul karena penggulingan kekuasaan terhadap presiden Viktor Yanukovych, yang mana masyarakat Crimea sangat setuju dengan pemerintahan di bawah Viktor Yanukovych. Hal tersebut membuat pemerintah sementara melakukan demonstrasi di wilayah Crimea yang kemudian terjadilah sebuah referendum Crimea. Akhir bulan Februari tahun 2014 membuat sekali lagi sebuah peristiwa besar terjadi. Dimana peristiwa besar tersebut ialah penyerangan yang dilakukan oleh masyarakat Crimea di gedung pemerintahan Crimea dan mengambil alih parlemen. Melihat hal tersebut terjadi tentu saja Rusia tidak tinggal diam melainkan Rusia menaruh atau mengirimkan pasukan bersenjatanya di wilayah Crimea dengan alasan supaya bisa melindungi etnis Rusia yang ada di wilayah Crimea.

Penyerangan yang terjadi pada saat itu berujung pada diadakannya pemungutan suara yang mana diserahkan kepada masyarakat Crimea untuk memilih. Hasil dari dilakukannya pemungutan suara tersebut ialah 95% dari seluruh hasil pemungutan suara menginginkan bahwasanya Crimea bergabung dengan Rusia. Kemudian presiden Crimea akan melakukan penggabungan terhadap wilayah Rusia, ternyata tidak semua dari masyarakat Crimea setuju dengan Rusia dan ingin bergabung dengan Rusia. Adapun kelompok yang tidak pro atau tidak mengikuti Rusia telah melakukan pemboikotan terhadap hasil pemungutan suara tersebut dan nampaknya tetap saja hasil dari pemungutan suara tersebut tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Hasil keputusan dari pemungutan suara yang telah dilakukan oleh masyarakat Crimea membuat Crimea melakukan tahap-tahap selanjutnya. Sehingga sampailah ke tahap referendum Crimea yaitu pada tanggal 16 Maret 2014. Dimana referendum Crimea tersebut membuat Crimea melepaskan diri dari wilayah Ukraina dan bergabung dengan federasi Rusia. Ternyata hal yang telah dilakukan tersebut membuat beberapa pihak tidak setuju. Dimana negara Ukraina, PBB, dan juga Uni Eropa mengecam Crimea atas apa yang telah mereka lakukan.

Tepat pada tanggal 18 Maret 2014 Crimea bersama dengan Rusia melakukan tahap selanjutnya yaitu penandatanganan perjanjian bahwasanya wilayah Crimea resmi bergabung dengan federasi Rusia. Keputusan tersebut nampaknya membuat negara internasional berpendapat bahwasanya Rusia telah melakukan sebuah pelanggaran yaitu melanggar hukum internasional. Tetapi Rusia tidak mau ambil pusing karena menurut Rusia kita berhak menghormati atas keputusan yang telah diambil oleh Crimea.

7 Shares