tingkat analisa
(Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)
12 Shares

Persoalan mengenai tingkat analisa menjadi penting dalam hubungan internasional. Hal tersebut dikarenakan tingkat analisa digunakan untuk melihat empat hal penting atas fenomena yang sedang dijelaskan. Pertama, tingkat analisa digunakan untuk menjelaskan peristiwa internasional, misalnya tindakan eksternal negara, yang biasanya dianggap merupakan aktor penting dalam sebuah negara. Kedua, kerangka berpikir tingkat analisa membantu memilah-milah faktor mana yang harus paling banyak ditekankan dalam sebuah penjelasan. Kerangka ini juga menunjukkan bahwa tingkat analisa yang penting pada satu situasi mungkin tidak penting pada situasi lain.

Ketiga, kerangka tingkat analisa memungkinkan untuk memilah-milah mana dampak dari sekumpulan faktor tertentu terhadap suatu fenomena dan mana dampak dari sekumpulan faktor lain terhadap fenomena itu. Kemudian membandingkan dampak dari kedua kelompok faktor yang berbeda itu. Keempat, kita harus peka terhadap masalah tingkat analisa karena adanya kemungkinan melakukan kesalahan metodologi yang disebut dengan fallacy of composition dan ecological fallacy. Fallacy of composition yaitu kesalahan akibat berasumsi bahwa generalisasi tentang perilaku “bagian” bisa dipakai untuk menjelaskan “keseluruhan”. Sedangkan ecological fallacy yaitu kesalahan akibat memakai generalisasi yang ditarik pada tingkat “keseluruhan” digunakan untuk menjelaskan “bagian”.

Dalam hubungan internasional, menurut Patrick Morgan, ada lima tingkat analisa yang biasa digunakan dalam menjelaskan sebuah fenomena internasional dalam konstelasi politik global. Berikut kelima tingkat analisa yang sudah dirangkum oleh Reviewnesia:

Baca Juga: 3 Pandangan Kenneth Waltz dalam Neorealisme

1. Perilaku Individu

Para analis yang melakukan analisa hubungan internasional pada tingkat ini beranggapan bahwa fenomena hubungan internasional pada akhirnya adalah akibat dari perilaku individu-individu yang saling berinteraksi di dalamnya. Karena itu, untuk memahami hubungan internasional, kita diharuskan menelaah sikap dan perilaku tokoh-tokoh utama pembuat keputusan, seperti kepala pemerintahan, menteri luar negeri, penasihat keamanan, dan sebagainya. Pada tingkatan unit analisa pertama ini, kita dapat melihat alasan mengapa seorang aktor pemerintah mengambil kebijakan.

2. Perilaku Kelompok

Para analis yang menekankan tingkat analisa kedua ini berasumsi bahwa individu pada umumnya melakukan tindakan internasional dalam kelompok. Hubungan internasional sebenarnya adalah hubungan antar berbagai kelompok kecil di berbagai negara. Artinya, peristiwa internasional sebenarnya ditentukan bukan oleh individu, tetapi oleh kelompok kecil seperti kabinet, dewan penasihat keamanan. Hubungan internasional dianggap sebagai peristiwa yang dilakukan oleh organisasi, birokrasi, badan pemerintahan, dan lainnya. Dengan demikian, untuk memahami hubungan internasional kita harus mempelajari perilaku-perilaku kelompok kecil dan organisasi-organisasi yang terlibat dalam hubungan internasional.

3. Negara-Bangsa

Para Ilmuan Hubungan Internasional yang menekankan tingkat ini berasumsi bahwa semua pembuat keputusan, di manapun berada, pada dasarnya berperilaku sama apabila menghadapi situasi yang sama. Karenanya, analisa yang menekankan variasi atau perbedaan antara perilaku sekelompok pembuat keputusan di suatu negara dengan sekelompok lain di negara lain dianggap akan sia-sia saja. Analisa para ilmuwan seharusnya ditekankan pada perilaku unit negara-bangsa, karena hubungan internasional pada dasarnya didominasi oleh perilaku negara-bangsa. Dalam hal ini, perilaku individu, kelompok, organisasi, lembaga, dan proses perpolitikan mereka, hanya akan diperhatikan sejauh perilaku mereka itu berkaitan dengan tindakan internasional negara yang bersangkutan. Dengan kata lain, kita harus mempelajari proses pembuatan keputusan tentang hubungan internasional, yaitu politik luar negeri oleh suatu negara-bangsa sebagai unit yang utuh.

4. Kelompok Negara-Negara

Ilmuan yang menempatkan tingkat keempat ini beranggapan bahwa sering kali negara-bangsa tidak bertindak secara sendiri-sendiri, tetapi sebagai kelompok. Hubungan internasional menurut mereka ini, pada dasarnya merupakan interaksi yang membentuk pola dan pengelompokan. Karena itu, unit analisa yang harus ditelaah adalah pengelompokan negara-negara seperti pengelompokan regional, aliansi, persekutuan ekonomi dan perdagangan, blok ideologi, pengelompokan dalam PBB, dan sebagainya.

5. Sistem Internasional

Para analis pada tingkat analisa ini berpendapat bahwa bangsa-bangsa di dunia ini dan interaksi di antara mereka merupakan suatu sistem. Struktur sistem itu dan perubahan-perubahan yang telah dialaminya selama ini telah menentukan perilaku aktor-aktor hubungan internasional yang terlibat di dalamnya. Sistem sebagai lingkungan telah menentukan perilaku negara-bangsa. Karena sistem internasional dianggap sebagai penyebab terpenting terjadinya perilaku negara-bangsa. Maka para analis yang menekankan tingkat analisa ini menganjurkan untuk mempelajari sistem ini sebagai suatu keseluruhan. Pengetahuan mengenai dinamika sistem yang beranggotakan berbagai negara-bangsa bisa digunakan untuk menjelaskan perilaku aktor-aktor dalam hubungan internasional yang terlibat di dalamnya.

12 Shares