terorisme
Aksi terorisme kembali terjadi di wilayah Indonesia. (Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)

Beberapa hari terakhir, Indonesia khususnya daerah Sulawesi dikagetkan lagi dengan adanya insiden bom bunuh diri di sekitar gereja Katedral Makassar. Tindak pelaku kejadian yang melukai puluhan orang di sekitar gereja menarik perhatian dunia internasional seperti Singapura, Turki, dan Yordania. Dikursus mengenai terorisme berikutnya menjadi hal yang merasuki pikiran masyarakat dunia.

Terorisme tidak hanya dipandang mengancam keamanan manusia, tetapi juga berpengaruh terhadap politik identitas masyarakat muslim yang sering kali disangkut pautkan dengan kejadian aksi bom bunuh diri. Kecenderungan seperti ini akhirnya akan menjadi ironi dan berpotensi melahirkan konflik baru dalam kehidupan sosial masyarakat.

Jika melihat definisi dari beberapa literatur, terorisme merujuk kepada intimidasi dan ancaman. Perilaku dan tindakan terorisme adalah salah satu cara untuk mengintimidasi dan mengancam orang lain. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pembunuhan, penganiayaan, pemboman, pembakaran, dan pembajakan.

Akan tetapi, sering kali tindakan teror itu didasarkan pada kebencian terhadap golongan tertentu dan sikap subjektif si pelaku. Sementara, Islam tidak pernah sama sekali mengajarkan pengikutnya untuk melakukan aksi terorisme dengan alasan apapun.

Sekiranya ditemui aksi teror dengan kedok Islam dan gerakan yang ada di dalamnya itu adalah dalih. Islam tidak pernah mengajarkan pengikutnya untuk bunuh membunuh dan melakukan kekerasan untuk menyelesaikan masalah apapun.

Baca Juga : Terorisme dalam Ideologi Konflik Asimetris dan Aspek Struktural

Di dalam surat Al-A’raf ayat 199 disebutkan bahwa Allah berfirman “berikanlah pengampunan, bimbinglah ke arah yang damai lagi baik dan janganlah bertindak bodoh..”. Jelas disebutkan bahwa untuk kesalahan apapun, Islam tidak membenarkan umatnya untuk saling menyakiti dengan alasan yang bodoh apalagi sampai menimbulkan rasa tidak aman.

Sementara dalam hadis dikatakan bahwa “Iman itu memiliki 77 cabang, yang paling tinggi adalah dengan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan. Sedangkan malu adalah bagian dari iman”.

Baca Juga  8 Fakta Menarik Tari Saman Gayo

Bisa dibayangkan bagaimana Islam meletakkan damai, aman, dan hidup tenteram itu menjadi fokus perhatian. Tentu dengan tidak mengganggu orang lain. Bagaimana orang bisa dengan mudah mengatakan Islam itu dekat dengan teroris, kalau duri dan penghalang di jalan saja diminta untuk disingkirkan dengan alasan keselamatan orang lain.

Artinya, ketika memang ada yang melakukan tindakan teror dan mereka beragama Islam, bukan Islam yang mengajarkan hal yang demikian. Akan tetapi, mereka yang memahami hal yang salah dan memaksakan kehendak untuk memerangi orang-orang yang tidak sesuai jalan pikiran mereka. Sementara Islam, sama sekali tidak memaksa orang dan pemeluk agama lain untuk memiliki persepsi yang sama dengan ajaran Islam.

Di Qur’an surat An-Nahl ayat 125 disebutkan bahwa “Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…”. Tidak ada sama sekali Islam memerintahkan pemeluknya untuk membantai, menyebabkan ketakutan, apalagi memeranginya dengan melakukan aksi teror dan tindakan intimidasi.

Pada bagian yang lain, dalam surat Al Mujadilah ayat 13 disebutkan bahwa “Hai orang-orang yang beriman, sungguh Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.

Sungguh Allah maha mengetahui”. Di ayat ini jelas disebutkan bahwa manusia itu diciptakan untuk saling mengenal satu sama lain, hidup berdampingan, dan saling tolong menolong. Bahkan beberapa ilmuan dunia menjelaskan bahwa kata “yang paling mulia adalah yang paling bertakwa” merujuk pada arti yang paling baik dalam kehidupan adalah mereka yang paling banyak memiliki kontribusi positif.

Baca Juga  3 Ciri dan Tipe Unit Teori Sistem Dunia Immanuel Wallerstein

Di hadis yang lain menyebutkan “Demi Allah tidaklah beriman. Demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman. Siapa wahai Rasul? Dia yang tidak memberi rasa aman bagi tetangganya dari gangguannya (H.R Bukhari Muslim).

Pandangan yang salah di mata masyarakat adalah pemahaman mengenai bom bunuh diri adalah jihad fisabiliah atau holy war yang menggunakan identitas Islam sebagai kedok membenarkan kegiatan teror. Padahal itu adalah pemikiran yang salah dan tidak benar. Istilah the holy war itu sebenarnya tidak pernah dikenal dalam perbendaharaan Islam Klasik.

Istilah tersebut diyakini berasal dari sejarah Eropa dan dimengerti sebagai perang karena membawa alasan keagamaan. Pandangan Barat tersebut telah memberi dan citra negatif kepada Islam sebagai agama yang meyakini cara-cara kekerasan dan bergerak dalam kehidupan yang membenarkan tindakan teror terjadi di dalam masyarakat global.

Sejumlah kalangan ternyata telah salah mengartikan Jihad yang hanya dengan satu makna yakni dengan dalih perjuangan senjata yang menawarkan alternatif hidup mulia atau mati syahid (‘isy karīman aw mut syahīdan). Opini yang berkembang di tengah masyarakat adalah para pelaku jihad dikaitkan dengan teroris. Padahal itu adalah konstruksi yang tidak tepat dan Islam tidak mengajarkan hal tersebut.