terorisme ideologi konflik asimetris aspek struktural
Kelompok teroris dan pemberontak memiliki satu sasaran yakni pemerintah (Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)
11 Shares

Semenjak 11 September 2001 banyak para pemikir mempertanyakan perihal ancaman keamanan yang berhubungan dengan terorisme. Ekaterina menjelaskan bahwa terorisme itu selalu digunakan dalam konflik yang asimetris. Hal itu terjadi ketika terjadi kesenjangan kekuatan baik ekonomi, militer dan kekuasaan. Seperti Al-Qaeda yang menggunakan terorisme sebagai bentuk perlawanannya pada dunia barat, karena mereka tahu bahwa pihak lawan tidak bisa dikalahkan secara kekuatan yang bersifat konvensional. Dalam tulisan ini juga dijelaskan bahwa ada banyak pertanyaan yang masih butuh untuk dijelaskan secara lebih jauh lagi.

Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Dr Stepanovas selama satu dekade mengenai terorisme, ia kemudian menjelaskan mengenai kekerasan politik serta konflik bersenjata. Laporan tersebut melihat adanya dua ideologi utama mengenai kelompok militan. Yaitu, nasionalisme yang radikal dan keagamaan yang ekstrem. Kemudian pada tingkat nasional maupun global, dijelaskan bagaimana saling keterkaitan antara ideologi dan struktur tersebut. Laporan ini juga menjelaskan bahwa mobilisasi kekuatan dari kelompok nasionalis yang radikal merupakan sebuah alternatif dari kepercayaan agama yang bersifat ekstrem.

Baca Juga: Reformasi Tata Kelola Politik Luar Negeri Indonesia; Sebuah Kajian Strategis dalam Merespons Perkembangan Dunia

Tidak semua konflik kekerasan dikatakan sebagai aksi teroris. Pada waktu yang bersamaan, tragedi teroris itu bisa terjadi pada konflik kekerasan yang bersifat terbuka. Hingga saat ini bahkan teroris merupakan taktik yang sudah umum dan tersistematis dalam bentuk sebuah konfrontasi. Konflik asimetris merupakan konflik di mana aktor yang terdapat di dalamnya bersifat tidak sama atau tidak seimbang. Ketidakseimbangan antara aktor tersebut yang kemudian sulit untuk dijelaskan dan didefinisikan ke dalam karakteristik yang bersifat khusus. Perang atau konflik yang bersifat asimetris merupakan perang atau kekerasan generasi keempat melihat adanya beberapa pergeseran dalam aspek dari perang-perang sebelumnya.

Hal itu dapat dilihat dari beberapa hal seperti taktik, strategi, tujuan, sistem persenjataan. Perang ini cenderung bersifat tidak teratur karena medan perangnya tidak ditentukan, tidak adanya penentuan kombatan atau non-kombatan, serta munculnya aktor non Negara sebagai aktor perang. Sebagai generasi keempat, perang asimetris merupakan perang yang terjadi antara kedua aktor kuat dengan aktor lemah, di mana strategi dan taktik yang digunakan dalam perang sudah sangat jauh dari sifat perang yang konvensional. Dengan kata lain, perang asimetris adalah perang yang sudah tidak teratur.

Konflik ini tidak selalu dimenangkan oleh aktor yang kuat, karena pola interaksi yang berbeda dengan perang generasi sebelumnya. Jadi, terdapat kemungkinan bahwa aktor yang lemah akan mampu untuk bisa memenangkan perang. Karena kemenangan dalam konflik asimetris ditentukan oleh interaksi strategis. Hasil dari konflik asimetris dapat dijelaskan melalui tipologi strategi konflik sebagai titik awal yang dapat digunakan untuk analisis.

Dalam konflik setidaknya ada dua strategi yang dapat digunakan, yaitu langsung dan tidak langsung. Strategi langsung dapat dikatakan merupakan suatu pendekatan serangan ataupun pertahanan secara langsung yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan kekuatan militer untuk dijadikan sebagai pertahanan. Adapun target dari strategi langsung adalah pasukan militer musuh dengan bertujuan mengambil alih kekuatan dan melumpuhkan kekuatan militer musuh. Kemudian strategi tidak langsung merupakan pendekatan serangan maupun pertahanan secara tidak langsung yaitu dengan tujuan yang sama yakni menghancurkan kapasitas musuh namun dengan memanfaatkan sumber kekuatan yang tidak hanya militer seperti teknologi, kampanye, ideologi, budaya.

Konflik asimetris merupakan konflik yang terjadi antara sebuah kekuatan besar melawan kekuatan kecil, misalnya konflik antara pemerintah dan kelompok pemberontak, atau konflik antara mayoritas dan minoritas. Keadaan yang digambarkan dalam situasi konflik seperti ini terbilang sangatlah unik. Hal ini dikarenakan sering kali kekuatan di atas yang memiliki sumber daya jauh lebih besar, cenderung akan menang. Pada akhirnya cara terbaik untuk menyelesaikan konflik jenis ini adalah melakukan perombakan dan perubahan struktur sesuai dengan aspirasi dari kelompok yang melakukan pemberontakan.

Pengaplikasian resolusi konflik dalam upaya penyelesaian konflik antar kelompok memiliki kerumitan tersendiri dan bukan proses yang mudah. Dalam banyak kebudayaan, konflik digambarkan sebagai sesuatu yang sangat kompleksitas dan memiliki tingkat kerumitan yang sangat tinggi. Dalam pengaplikasiannya dibutuhkan tingkat kooperatif antara kelompok yang berkonflik serta waktu yang tidak singkat. Duffey mendeskripsikan penyelesaian konflik layaknya ‘melepaskan sesuatu yang tersangkut di jala’.

Pada akar konflik terhadap ikatan hubungan problematik, kepentingan yang  diperselisihkan dan pandangan yang berbeda. Menguraikan ikatan ini adalah sebuah proses yang tidak mudah. Keberhasilannya tergantung pada bagaimana ikatan tersebut diikat dan urut-urutan langkah untuk melepaskannya. Ditambahkan oleh Fisher dan Keasley bahwa waktu dan koordinasi untuk mereka yang bertugas untuk mentransformasi sangat penting. Mereka perlu mengembangkan energi dan momentum yang memadai untuk mengatasi hambatan dan sifat konflik yang cenderung untuk tetap bertahan.

Para teoritisi pendukung resolusi konflik (conflict resolution) umumnya berargumen bahwa dalam konflik-konflik komunal dan identitas, pihak-pihak yang bertikai sangat sulit melakukan kompromi terhadap kebutuhan-kebutuhan yang dianggapnya sangat fundamental. Meski demikian, kelompok teoritis ini meyakini tentang kemungkinan berubahnya konflik jika pihak-pihak yang bertikai ini dibantu untuk mengeksplor, menganalisis, mempertanyakan kembali untuk kemudian memberikan kerangka ulang posisi-posisi dan kepentingan-kepentingannya atas konflik yang tengah dialami.

Karena itu, teoritisi pendukung resolusi konflik (conflict resolution) menekankan pentingnya campur tangan dari pihak-pihak lain yang potensial bekerja sama dengan pihak-pihak yang berkonflik dalam rangka memperkuat pikiran-pikiran dalam kerangka hubungan-hubungan baru antar pihak-pihak yang berkonflik. Intinya, resolusi konflik (conflict resolution) melihat kembali akar-akar penyebab konflik dan mengidentifikasi solusi-solusi kreatif yang kemungkinan oleh pihak-pihak yang terlibat konflik terlewatkan dari komitmen-komitmen penyelesaian yang pernah dilakukan.

Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi aktor-aktor yang terlibat dalam konflik asimetris ini. Seperti faktor pengalaman, tingkat pendidikan, penguasaan media massa, serta pembentukan opini publik. Konflik asimetris ini masih sering sekali dikaitkan dengan terorisme dan kegiatan pemberontakan. Hal ini kemudian dianggap wajar karena kelompok teroris dan pemberontak biasanya memiliki satu sasaran yakni pemerintah atau Negara lain yang sedang berkuasa baik secara struktur dan kekuasaan.

11 Shares