Teori queer
Teori Queer menekankan sifat seksualitas yang sesuai dengan norma-norma sosial. (Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)

Teori Queer menawarkan jalan yang cukup baik untuk merekonstruksi konsep dan teori dalam studi hubungan internasional yang sudah ada. Teori ini muncul dari serangkaian publikasi utama, konferensi-konferensi akademik, organisasi-organisasi politik, dan teks-teks yang diterbitkan sebagian besar selama awal tahun 1990-an.

Dalam teori Queer menerapkan pandangan interdisipliner untuk memajukan perspektif kritis baru mengenai seksualitas, gender, fenomena LGBT, dan lain sebagainya. Namun, teori Queer tidak hanya sebatas pada seksualitas, gender, dan fenomena LGBT tetapi ia juga mempertanyakan hubungan sosial, ekonomi, dan politik yang berhubungan dengan keamanan.

Asal mula teori Queer yang ada dalam studi LGBT berfokus pada fenomena seksualitas dan gender. Oleh karena itu, memahami Queer harus dimulai dengan memahami konstruksi identitas gender dalam teori feminis.

Gender merupakan konsep utama feminisme yang mempertentangkan antara feminitas dan maskulinitas sebagai interpretasi budaya dengan perbedaan jenis kelamin secara biologis.

Teori Queer menekankan sifat seksualitas yang sesuai dengan norma-norma sosial. Teori queer juga menganalisis dan mengkritik norma-norma sosial dan politik khususnya yang terkait dengan pengalaman seksualitas dan gender.

Oleh karenanya, teori Queer mempertanyakan dan menentang identifikasi gender dengan mengemukakan argumen-argumen bahwa tidak hanya gender (maskulin dan feminism) tetapi jenis kelamin (pria dan wanita) merupakan wujud dari sebuah konstruksi sosial.

Baca Juga : 3 Teori Utama dalam Ekonomi Politik Internasional

Dengan demikian gender merupakan kategori yang selalu berubah dan gender tidak selalu dipahami sebagai identitas yang stabil atau berpusat. Gender dipahami sebagai sebuah identitas yang terbentuk oleh waktu dan dilembagakan melalui tindakan yang berulang-ulang.

Sehingga, identitas ialah sesuatu yang bisa berubah karena dipengaruhi oleh sosialnya dan terjadi berulang-ulang. Jadi, Ketika seorang individu terlahir dengan identitas laki-laki, maka hal tersebut dapat berubah sesuai dengan bagaimana setiap individu mau melakukan suatu performa baru yang kemudian mengubah identitas dirinya dan menjadi berbeda.

Baca Juga  Kerja Sama Internasional Australia-Indonesia dalam Bidang Pendidikan Indonesia Melalui Australia Awards Scholarship

Kata ‘Queer’ digunakan untuk mendeskripsikan homoseksual yang banyak terjadi tepatnya pada abad kesembilan belas. Istilah Queer tersebut kemudian digunakan dalam bidang ilmiah sebagai studi yang berkenaan dengan kajian mengenai gay atau lesbian. Status seksualitas dan politik gender dalam studi hubungan internasional telah banyak terangkat melalui kasus-kasus domestik maupun internasional.

Selain itu, isu mengenai kasus LGBT ini ternyata memberikan dampak pada kebijakan seperti kebijakan pertahanan, perawatan kesehatan, dan peraturan tenaga kerja yang dengan demikian menciptakan jalan baru untuk membangun kembali konsep dalam studi hubungan internasional yang konvensional.

Teori Queer memandang seksualitas dan gender sebagai konstruksi sosial yang membentuk cara orientasi seksual dan identitas gender ditampilkan didepan umum dan dengan demikian sering direduksi menjadi isu hitam putih yang dapat dimanipulasi atau diubah.

Teori Queer mencakup ide-ide intelektual yang berakar di dalam anggapan bahwa identitas tidak stabil atau tidak tetap dan tidak menentukan siapa kita. Lebih tepatnya, identitas dilihat sebagai proses yang dikontruksi secara histroris.

Namun, sesungguhnya teori Queer tidak berusaha menjelaskan identitas homoseksual atau heteroseksual itu sendiri tetapi lebih kepada menggolongkan homoseksual atau heteroseksual sebagai suatu gambaran pengetahuan atau kekuasaan yang menata keinginan, perilaku, lembaga-lembaga sosial dan hubungan-hubungan sosial.