Sciency Diplomacy
kolaborasi ilmiah yang dilakukan oleh Negara untuk menyelesaikan suatu permasalahan bersama dengan membangun kemitraan internasional (Foto: Eulacfocusnet/reviewnesiacom)
0 Shares

Science Diplomacy atau yang dikenal dengan diplomasi sains adalah kolaborasi ilmiah yang dilakukan oleh Negara untuk menyelesaikan suatu permasalahan bersama dengan membangun kemitraan internasional.  Diplomasi sains ini merujuk kepada 3 pemahaman, yakni science in diplomacy, diplomacy for science, dan science for diplomacy. Science in diplomacy yakni yang bermakna bahwa sains yang dapat menyediakan informasi dan mendukung terlaksananya kebijakan luar negeri. Kedua diplomacy for science yakni yang berarti bahwa proses diplomasi yang dapat memfasilitasi kerja sama internasional yang bersifat ilmiah. Serta, science for diplomacy yang memiliki makna kerja sama internasional yang dapat menunjang hubungan internasional.

Diplomasi sains ini menjadi penting karena pada kenyataannya, para ilmuwan dan insinyur memiliki peran yang sangat signifikan untuk menciptakan dunia yang maju dengan memanfaatkan kemajuan dalam bidang sains teknologi dan informasi (STI). Banyak tantangan dalam bidang perekonomian global terkait kesehatan, laju pertumbuhan ekonomi, dan perubahan iklim yang dapat dibantu dengan adanya peran dari diplomasi sains.

Baca Juga:
Diplomasi Publik; Pelaku, Dimensi, hingga Hierarki dalam Aktivitas Diplomasi
Diplomasi Multilateral Uni Eropa

Science Diplomacy; Prospek dan Tantangan Diplomasi Indonesia
para ilmuwan dan insinyur memiliki peran signifikan menciptakan dunia maju dengan memanfaatkan bidang sains teknologi dan informasi (Foto: Sciencediplomacyorg /reviewnesiacom)

Sementara di Indonesia, kita dapat melihat persimpangan antara sains dan hubungan internasional. Terjadi usaha untuk memisahkan antara Science Technology Engineering Arts Math (STEAM) dengan rumpun ilmu sosial. Banyak pendapat yang menyatakan bahwa hanya ilmuwan dari bidang STEAM yang dapat bertahan lama untuk menghadapi persoalan dunia yang semakin kompleks. Padahal, sejatinya harus ada kerja sama antara bidang sains dan rumpun ilmu sosial untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di suatu Negara.

Sebagai contoh adalah terkait masalah pembakaran lahan yang sering bahkan setiap tahun terjadi di Indonesia. Banyak peneliti yang kemudian menjadikan hasil temuan penelitiannya, tetapi tidak dipadukan dengan sains sehingga permasalahan serupa kembali terjadi. Atau pandemi global yang saat ini sedang terjadi. Di saat Negara lain sudah maju dengan industri dalam bidang kesehatannya karena perpaduan sains dan diplomasi, Indonesia masih berharap dan mencoba menapaki jalan untuk bisa menempuh yang disebut dengan science diplomacy.

Seperti yang disebutkan dalam pernyataan Presiden Indonesia, Joko Widodo dalam telekonferensi di Istana Merdeka Rabu 20 Mei 2020 “Saat ini dunia sedang beradu cepat dalam menangani covid-19 dan kita harus menjawab dengan inovasi dan karya-karya nyata, ini adalah momentum baru bagi bidang sains dan teknologi, khususnya di bidang kesehatan”. Indonesia membutuhkan perpaduan antara bidang sains, teknologi, dan informasi dengan bidang ilmu sosial untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang terjadi di dalam negeri. Tentu, science diplomacy menjadi sebuah paduan yang tepat agar kerja sama internasional tercipta dengan baik dan setiap permasalahan dapat menemukan solusi yang tepat.

Prospek dari diplomasi sains bagi Indonesia adalah untuk memecahkan masalah internasional secara kolaboratif sambil menyeimbangkan kesejahteraan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat. Diplomasi sains ini berfungsi mengembangkan hubungan bilateral dan multilateral. Perluasan dari konsep diplomasi sains ini bertepatan dengan pemahaman yang berkembang bahwa sains dan teknologi dapat menopang begitu banyak tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini. Tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia adalah bagaimana para ilmuwan dapat mengintegrasikan sains ke dalam kebijakan luar negeri yang tidak hanya berfungsi untuk memajukan kepentingan nasional, tetapi juga untuk mengatasi tantangan dalam konstelasi politik global.

Diplomasi sains dapat dilakukan oleh Indonesia dalam berbagai bentuk, seperti ketika Indonesia melakukan negosiasi kerja sama dalam pengelolaan perikanan, pengelolaan lingkungan hidup, dan pemantauan penyakit menular. Indonesia tidak hanya membutuhkan diplomat untuk menyampaikan maksud dari kepentingan nasional dan formulasi kebijakan luar negeri, tetapi juga membutuhkan keahlian ilmiah. Penggunaan keahlian ilmiah untuk memajukan proses diplomasi telah terbukti mencapai sejumlah keberhasilan dalam memajukan perdamaian, keamanan, dan kemakmuran.

Peran diplomasi dalam memajukan teknologi di seluruh dunia juga menjadi perhatian bagi Indonesia. Komunitas sains di hampir setiap disiplin ilmu dunia telah mengakui bahwa sains membutuhkan keterlibatan diplomat agar dapat berjalanan beriringan menyelesaikan permasalahan global. Tidak ada Negara yang dapat mengatasi tantangan dan permasalahan secara mandiri. Oleh karena itu, kebijakan luar negeri yang diformulasikan Indonesia perlu kiranya tereintegrasi sains dan diplomasi yakni dengan menggabungkan dunia yang semakin kompleks secara ilmiah dan teknis.

Pada saat yang sama, nilai-nilai ilmiah dan rasional sangat dibutuhkan agar dapat membantu mendukung tata kelola global yang lebih baik dalam membangun kepercayaan antar Negara yang ada di dunia. Kekuatan sains memungkinkan partisipasi dan difusi ketegangan sehingga berkontribusi bagi inovasi dan perdamaian dunia. Bagi Indonesia, harusnya dapat memadukan dua lensa antara kerja sama sains dan kemampuan ilmiah untuk memajukan kepentingan nasional yang lebih luas dalam hubungan internasional dengan Negara lain.  

0 Shares