Schelling dan Realisme
Schelling dan Realisme Strategis. (Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)

Sejak tahun 1950-an, pendekatan-pendekatan realis baru muncul yang merupakan hasil revolusi dari kaum behavioralis dan upaya pencarian ilmu sosial positivis dalam hubungan internasional.

Banyak kaum realis dewasa ini enggan untuk memberikan analisis normatif politik dunia karena dipandang bersifat subjektif dan menjadi tidak ilmiah. Sikap terhadap studi nilai-nilai dalam politik dunia tersebut menandai pemisahan fundamental antara kaum realis klasik di satu sisi dan kaum realis strategis di sisi lain.

Schelling tidak banyak memberikan penekanan terhadap aspek-aspek realisme yang bersifat normatif, meskipun Ia mencatat tentang keberadaan aspek-aspek normatif tersebut dalam latar belakang pemikirannya.

Realisme strategis secara sentral memfokuskan pada pembuatan keputusan kebijakan luar negeri. Ketika para pemimpin negara menghadapi isu-isu diplomatik dan militer mendasar, mereka diwajibkan untuk berpikir secara strategi, yaitu secara instrumental jika mereka berharap untuk berhasil.

Schelling berupaya untuk menyediakan sarana-sarana analitis bagi pemikiran strategis. Dia memandang diplomasi dan kebijakan luar negeri. Terutama negara-negara besar dan terutama Amerika Serikat, sebagai aktivitas instrumental rasional yang dapat lebih dalam dipahami dengan pemakaian suatu bentuk analisis logika yang disebut dengan “game theory”.

Oleh karena itu, konsep sentral yang digunakan Schelling adalah “ancaman”, analisisnya menyangkut dengan bagaimana warga negara dapat menghadapi secara rasional ancaman dan bahaya perang nuklir. Misalnya, tulisan tentang penangkalan nuklir Schelling membuat sebuah observasi penting.

Baca Juga : 6 Prinsip Realisme Politik Dalam Pemikiran Hans J. Morgenthau

Bagi Schelling, aktivitas kebijakan luar negeri secara teknis bersifat instrumental dan karenanya bebas dari pilihan moral. Hal tersebut bukanlah sesuatu yang paling diperhatikan oleh Schelling, tentang hal apa yang baik atau hal apa yang dianggap benar. Hal ini sangat erat kaitannya dengan pertanyaan mengenai “apa yang diperlukan dalam mengeluarkan sebuah kebijakan agar negara dikatakan berhasil?”.

Baca Juga  Xenophobia and Racism against AAPI in America

Schelling mengidentifikasi dan meneliti secara mendalam mengenai berbagai macam mekanisme, strategi, dan gerakan yang dapat menggerakkan kolaborasi dan mencegah bencana dalam dunia negara-negara bersenjata nuklir yang cenderung penuh dengan konflik.

Namun, Schelling tidak memberikan penekanan terhadap analisis instrumentalnya terkait etika sipil dan politik seperti yang telah dilakukan oleh Machiavelli. Nilai-nilai normatif yang dipertaruhkan dalam kebijakan luar negeri dipastikan dapat diterima secara luas. Hal itu menandakan perbedaan penting antara realisme klasik, realisme strategis, dan neo-realisme.

Instrumen krusial kebijakan luar negeri bagi negara besar seperti Amerika Serikat adalah angkatan bersenjata. Salah satu hal yang terkait dengan realisme strategis adalah mengenai penggunaan angkatan bersenjata atau kekuatan militer dalam sebuah kebijakan luar negeri suatu negara. Dia mengamati perbedaan penting antara kekuatan yang kejam dan kekerasan; “antara mengambil apa yang kamu inginkan dan membuat seseorang memberikannya kepadamu”.

Schelling selanjutnya membuat pernyataan yang mendasar untuk kaum realis, agar kekerasan menjadi efektif sebagaimana yang diperlukan kebijakan luar negeri “bahwa kepentingan negara dan kepentingan lawan tidak terlalu bertolak belakang. Kekerasan perlu menemukan perundingan”.

Kekerasan merupakan suatu cara untuk membawa musuh ke dalam sebuah perundingan dan menjadikan musuh tersebut untuk melakukan apa yang kita inginkan tanpa mereka harus menolaknya.

Realisme strategis dalam pemikiran Schelling, biasanya menekankan mengenai etika-etika kebijakan luar negeri suatu negara, ia hanya memisalkan tujuan-tujuan luar negeri mendasar tanpa adanya pandangan lain. Misalnya mengenai aspek-aspek yang bersifat normatif dalam kebijakan luar negeri negara-negara super power biasanya bersenjatakan nuklir yang sangat berbahaya.

Mengenai hal tersebut, Schelling membahas inti realisme strategis “yang kotor” dan “bersifat memeras” dengan mudahnya, tetapi ia tidak menanyakan mengapa diplomasi sejenis itu dapat disebut “kotor” atau “memeras”, dan ia tidak menyatakan apakah hal itu dapat dibenarkan atau tidak.

Baca Juga  5 Model Perumusan Politik Luar Negeri

Realisme strategis mensyaratkan nilai-nilai dan membawa implikasi-implikasi normatif. Tidak seperti realisme klasik, oleh karenanya, ia tidak menguji atau mengeksplorasinya. Namun, peran sistem-sistem nilai tidak secara eksplisit diselidiki Schelling sehingga jelaslah bahwa perilaku berkaitan dengan nilai, seperti kepentingan-kepentingan nasional yang bersifat vital.

Nilai-nilai dianggap sebagaimana adanya dan diperlakukan secara instrumental. Dengan kata lain, inti pokok dari cara berperilaku para pembuat kebijakan yang dianjurkan Schelling tidak dieksplorasi, diklarifikasi, atau bahkan ditegaskan.

Dia memberikan analisis strategis, tetapi bukan teori normatif hubungan internasional. Hal utama yang harus dipersiapkan dalam tatanan dunia yang dinamis menurut realisme strategis adalah strategi yang mampu menjadi komunikator global dan negosiator global.