budaya
Jepang adalah salah satu negara yang kaya akan warisan budaya. (Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)

Kebudayaan tradisional Jepang yang kita kenal saat ini di era modern rupanya tidak semerta – merta sebagai hasil warisan sejarah atau leluhur masyarakat Jepang masa lampau. Kita tentu saja selama ini mengetahui spirit bushido dan ajaran – ajaran Shinto yang kita pahami sebagai “cara hidup dan berkeyakinan” masyarakat Jepang asli.

Rupanya, fakta mengungkapkan bahwa bushido dan nilai – nilai Shinto yang ada di Jepang merupakan sesuatu yang baru berusia beberapa dekade. Hal ini disebabkan adanya usaha rekayasa budaya Jepang oleh pemerintah pasca era Meiji, tujuannya adalah untuk membentuk karakter dan “nilai luhur” masyarakat Jepang yang dapat bersaing dengan karakter dan nilai – nilai barat yang mulai meresap secara radikal dalam pola pikir masyarakat Jepang pada masa itu.

Dimulai dari ajaran Shinto, dimana ajaran tersebut dimodifikasi dalam upaya membendung ajaran misionaris Katolik di Tiongkok. Ajaran Katolik berusaha mencari cela dari kepercayaan Buddha maupun Konfusianism yang ada, sehingga muncullah kelompok oposisi yang berusaha memodifikasi Buddha menjadi kepercayaan Shinto yang mendewakan Kaisar dan keluarganya.

Ajaran Shinto yang dipoles ini berkeyakinan bahwa Kaisar adalah keturunan langsung dari Dewi Matahari. Perlahan ajaran Buddha memudar hingga terjadinya penghancuran kuil – kuil Buddha dan berujung pada diangkatnya keluarga Kaisar sebagai pemimpin spiritual agama Shinto, padahal sebelumnya keluarga Kaisar menganut agama Buddha.

Terkait fakta spirit Bushido dalam mentalitas masyarakat Jepang, sebenarnya merupakan deskripsi dari spirit ksatria bangsa Eropa yang dianggap sebagai bagian dari nilai – nilai Buddha dan Konfusianisme. Definisi salah mengenai Bushido yang popular sekarang merupakan hasil karya kreatif tokoh bernama Nitobe Inazo (1862-1933) dalam bukunya yang berjudul The Soul of Japan.

Baca Juga  Menelisik Dampak Budaya Pop Terhadap Perubahan Iklim: Sandang, Pangan, dan Papan

Baca Juga : 3 Paradigma Dalam Politik Lingkungan

Nitobe sendiri bukan seseorang yang mengerti tentang konsep Bushi (武士) namun dirinya menyama artikan konsep tersebut dengan Chivalry. Latar belakang Nitobe juga sangat kental dengan dunia barat dan ajaran Protestan, yang sangat disayangkan tafsiran Nitobe tentang Bushi ini dianggap menggambarkan pondasi moral masyarakat Jepang yang sesungguhnya. Di sisi lain, tujuan Nitobe menulis buku tersebut untuk meyakinkan bangsa barat bahwa Jepang memiliki kehidupan masyarakat yang juga beradab.

Karakter masyarakat Jepang sekarang yang terkenal disiplin, hemat, rajin dan sebagainya pun juga merupakan hasil rekayasa pemerintah Jepang pasca Perang Rusia 1904-1905. Mengambil contoh figur Ninomiya Sontoku, pemerintah menciptakan Asosiasi Hotoku Nasional agar masyarakat Jepang yang semula bodoh dan malas mau menjadi pekerja keras untuk simbol penghormatan terhadap dewa dan orang-orang berjasa terhadap kehidupan mereka.

Tidak berhenti sampai situ, Jepang juga menangkal adaptasi ideologi sosialis yang berasal dari barat. Perspektif baru di Jepang menimbulkan ketidakstabilan dalam tatanan masyarakat yang mulai banyak melakukan protes sosial.

Ideologi sosialis akhirnya dianggap sebagai perspektif radikal dan tidak sesuai dengan budaya Jepang. Solusinya Jepang menciptakan ideologi saingan melalui Nihon Bunka Renmei di tahun 1930 dan melakukan diplomasi budaya lewat film, pamflet, diskusi, dll.

Permasalahan mental masyarakat Indonesia sebenanya hampir mirip dengan masyarakat Jepang: malas, berpikiran sempit, kurang bekerja keras, tidak disiplin dan sebagainya. Jika saja pemerintah Indonesia mau turut andil melakukan rekayasa budaya tradisional seperti Jepang maka tentu kualitas SDM masyarakat Indonesia akan sama bagusnya dari Jepang. Namun yang menjadi permasalahan di Indonesia adalah jumlah penduduknya yang berkali lipat lebih banyak dari Jepang serta tingkat keberagaman suku dan adat yang sangat banyak.

Baca Juga  A Framework for Nonviolence and Peacebuilding in Islam

Andai saja seluruh masyarakat Indonesia dan pemerintah memiliki semangat tinggi untuk mengubah karakter menjadi lebih baik dan maju, maka bukan hal yang mustahil jika Indonesia akhirnya mampu menjadi “Macan Asia” yang sesungguhnya seperti yang telah dilakukan oleh pemerintah Jepang.

Dari sini, kita dapat melihat bahwa baik tidaknya kualitas suatu negara tidak serta merta hasil kerja keras pemerintah saja. Dibutuhkan adanya kolaborasi dan sinergi dari seluruh elemen masyarakat untuk menciptakan kemajuan dalam bernegara bersama dengan pemerintah.

Masyarakat Indonesia yang kita lihat sekarang sangat banyak menuntut pemerintah untuk bertanggung jawab terhadap perubahan hidup dan keadaan negara mereka. Namun realita sosial yang ada tidak menunjukkan adanya kehendak bagi masyarakat Indonesia itu sendiri untuk mengubah karakter dan diri mereka sendiri terlebih dahulu. Padahal, masyarakat sebagai elemen negara sifatnya lebih penting dan memiliki kuasa lebih besar untuk mengubah kualitas diri mereka sendiri menjadi lebih baik.

Indonesia negara besar yang memiliki berjuta potensi. Sangat disayangkan hingga saat ini kita seluruhnya belum mampu bangkit untuk mandiri di atas kaki sendiri. Jika masyarakat kita memiliki kesadaran untuk merevolusi mental mereka tanpa harus melalui rekayasa seperti yang dilakukan pemerintah Jepang, penulis percaya perubahan dan kemajuan yang terjadi dapat berjalan lebih maksimal karena dilakukan tanpa paksaan.

Revolusi mental yang sesungguhnya dapat dimulai sejak dini tanpa menunggu instruksi pemerintah, sebab sesungguhnya yang membutuhkan perubahan adalah masyarakat kita sendiri sebagai poros utama dalam kehidupan bernegara. Masyarakat baik, negara baik, pun berlaku pula sebaliknya.

Referensi :
Ong, Susy. 2017. Seikatsu Kaizen: Reformasi Pola Hidup Jepang. Jakarta: PT.Elex Media Komputindo.