Konsep Regionalisme
Regionalisme dan hegemoni berkaitan erat dengan politik global. (Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)

Agar dapat memetakan fenomena mengenai subjek dan objek analisis dalam studi hubungan internasional, diperlukan adanya indikator yang dijadikan acuan untuk melihat lebih dalam setiap fenomena yang dianalisis.

Hal tersebut dapat dilakukan dengan melihat karakteristik struktural, hubungan power, dinamika dan pola interaksi ekonomi, serta perilaku negara dalam sistem internasional.

Selain itu, tipe pemerintahan, kebijakan yang diambil oleh pemimpin negara, dan budaya politik juga menentukan keberhasilan untuk menganalisis permasalahan dunia. Terlebih lagi, pengalaman masa lalu dan karakter pemimpin juga menjadi acuan utama sebuah analisis.

Bagi kaum neo-realisme, ada dua hal penting yang dipandang sangat berpengaruh dalam hegemoni dan regionalisme, yakni tekanan sistem internasional baik secara politis dan juga ekonomi.

Regionalisme dipandang sebagai aliansi dan bentuk kerja sama yang dapat diresmikan melalui perjanjian, perilaku kolektif yang melahirkan blok baru dalam peta perpolitikan dunia. Sementara impian untuk mencapai integrasi baik secara ekonomi atau pun politik sangat ditentukan oleh aspek geopolitik dan geostrategis.

Tujuan untuk dapat membentuk integrasi ekonomi tidak datang dari keinginan untuk mengejar kesejahteraan namun lebih kepada hubungan langsung antar negara yang kaya secara ekonomi dan memiliki bargaining power yang diperhitungkan yang terbagi ke dalam empat kategori sebagai berikut:

1. Regionalisasi

Proses kerja sama di kawasan yang lebih mengarah kepada pertumbuhan integrasi sosial dan ekonomi secara tidak langsung. Sehingga proses ini berdampak terhadap munculnya saling ketergantungan di antara negara-negara dalam suatu kawasan tertentu.

Regionalisme ini juga dinyatakan sebagai bentuk regionalisme informal atau yang sering dikenal dengan sebutan regionalisme lunak. Hal yang paling menjadi perhatian dalam regionalisme ini adalah jaringan sosial, kegiatan pasar, dan proses migrasi lintas batas.

2. Regional Identity

Kerja sama ini didasarkan pada kesamaan identitas di kawasan. Dengan memperhatikan bahwa tujuan utama dari regionalisme ini adalah menciptakan perjanjian perdamaian dan kerja sama yang saling menguntungkan di berbagai aspek dan penguatan area saling ketergantungan pada negara-negara super power.

Regionalisme ini juga dikenal dengan kerja sama kawasan yang didasarkan pada kesadaran bersama dari negara-negara yang memiliki keistimewaan dan ciri khas di mata dunia.

Baca Juga : 4 Teori Integrasi Dalam Regionalisme

3. Regional Interstate Cooperation

Regionalisme ini memandang bahwa kerja sama antar negara dalam suatu kawasan harus didasarkan atas persetujuan pemerintah atau rezim yang berlaku dan melalui proses negosiasi.

Jika negara-negara yang ingin bekerja sama telah mendapatkan persetujuan dari pemerintah atau rezim yang berkuasa, kerja sama dapat dilangsungkan dalam bentuk formal atau pun informal yang tetap mengacu kepada aturan yang mengikat yang sudah disepakati bersama.

4. Integrasi Regional

Kerja sama yang berfokus pada integrasi ekonomi kawasan. Didasarkan pada kebijakan bersama mengenai kerja sama dan dirangkai khusus untuk menghapus atau mengurangi hambatan bersama dalam konteks barang dan jasa.

Kerja sama ini akan selalu memperhatikan aspek regulasi pasar dan hambatan non-tarif. Ada beberapa dimensi yang dapat digunakan untuk memperhatikan integrasi ekonomi dalam kerja sama ini yakni harmonisasi kebijakan, institusionalisasi, dan adanya otoritas yang efektif.

5. Regional Cohesion

Regionalisme ini merupakan kombinasi dari keempat bentuk regionalisme yang sudah dijelaskan sebelumnya dan terkonsolidasi dengan baik. Dalam konsep ini, dilihat peran dan hubungan yang jelas antar negara dan aktor lain. Dalam regionalisme ini, globalisasi selalu dipandang sebagai faktor pendorong terjadinya kerja sama kawasan.

Regionalisme juga dipandang sebagai sebuah respons negara-negara lemah dalam tatanan politik global yang anarki. Kerja sama antar negara di dalam kawasan khususnya konsolidasi negara dunia ketiga didorong oleh adanya kesadaran, semakin tumbuhnya harapan ditambah lagi adanya ketakutan negara termaginalkan oleh kebijakan dan sikap negara-negara super power.

Terdapat empat cara bagaimana negara hegemon mendorong regionalisme sebagai upaya terciptanya institusi regional di suatu kawasan. Pertama, kelompok sub-regional muncul sebagai reaksi terhadap kekuasaan hegemon dan berpotensi menjadi hegemon yang dikenal sebagai upaya adanya balance of power.

Kedua, membatasi free exercise dari kekuasaan besar. Ketiga, bandwagoning dimana negara lemah harus tetap berteman dengan musuh yang memiliki power lebih kuat dengan harapan agar negara kuat tidak menyerang karena mereka berada dalam satu aliansi.

Keempat, balancing dimana Small power dan middle power menyeimbangkan kekuatan dengan membuat aliansi antar negara sehingga akumulasi kekuatan mereka sama dengan super power.