Regionalisme, Globalisasi, dan Interdependensi
Peningkatan saling ketergantungan antar negara-bangsa akan mengurangi adanya kemungkinan negara-negara di suatu kawasan untuk terlibat dalam konflik (Foto: Siska Silmi/reviewnesiacom)
36 Shares

Bagi para peminat studi hubungan internasional, regionalisme diyakini memiliki hubungan yang erat dengan globalisasi. Regionalisme dipandang sebagai penyebutan identitas dan tujuan bersama yang diikuti dengan pembentukan dan penerapan dari organisasi dengan membawa ciri tertentu di sebuah kawasan.

Regionalisme juga disebut sebagai kerja sama dalam kawasan dalam menyelesaikan isu tertentu yang terjadi. Sedangkan globalisasi diartikan sebagai proses semakin meningkatnya hubungan antara masyarakat dunia, sehingga suatu peristiwa dapat mempengaruhi masyarakat dunia yang lain. Istilah lain menyebutkan bahwa globalisasi ini menjadikan dunia semakin borderless (John Baylis dalam the globalization of World Politics).

Regionalisme dan globalisasi juga berhubungan erat dengan interdependensi. Semua isu dianggap penting dan tidak ada satu pun Negara dunia yang mampu menyelesaikan permasalahan domestik secara mandiri. Sehingga kondisi yang ada mendorong beberapa Negara yang ada di suatu kawasan untuk melakukan kerja sama.

Baca Juga: 10 Citra dan Perdebatan dalam Teori Hubungan Internasional

Regionalisme yang berhubungan dengan globalisasi memiliki dua sisi, positif dan negatif. Dahulu, regionalisme selalu dikaitkan dengan kedekatan geografis. Semakin berkembang dunia, banyak muncul definisi baru. Salah satunya adalah regionalisme yang didasarkan pada aktivitas pemerintah dan non-pemerintah. Contoh regionalisme yang berdasarkan kedekatan geografis adalah Uni Eropa, ASEAN, dan Asia Pasifik.

Dari sisi positif, globalisasi ternyata menjadi pendorong tumbuhnya tatanan Negara yang melakukan kerja sama dalam upaya mendorong terbentuknya regionalisme dengan 4 keuntungan. Pertama, integrasi dan kerja sama yang menciptakan sebuah tuntutan untuk melakukan aksi kolektif dalam menyelesaikan sebuah permasalahan di kawasan. Kedua, ciri-ciri yang berhubungan dengan masalah global sering kali dibesar-besarkan, sehingga menuntut adanya kewaspadaan yang tinggi.

Ketiga, dilanjutkan dengan tatanan kerja sama Negara di kawasan dipandang sebagai wadah yang paling tepat untuk mewakili Negara-negara dalam menghadapi pasar ekonomi dan tekanan dari kemajuan dalam bidang teknologi. Keempat, kerja sama kawasan ini dapat mendorong terjadinya integrasi ekonomi secara global.

Jika melihat dari sudut pandang negatif, regionalisme dan globalisasi memiliki dampak terhadap interdependensi. Pertama, adanya tuntutan yang sangat kuat yang mengakibatkan terjadinya peningkatan derajat interdependensi. Sehingga tuntutan ini memperluas isu-isu global baru seperti ketergantungan ekonomi. Kedua, sering kali dalam interdependensi, Negara kawasan justru lebih percaya kepada Negara barat daripada potensi yang dimiliki oleh Negara-negara yang ada di kawasan.

Ketiga, regionalisme dan globalisasi dianggap menimbulkan masalah baru yang lebih kompleks. Keempat, karena adanya kepercayaan terhadap Negara di luar kawasan, regionalisme justru mendorong dan menimbulkan tekanan dari Negara-negara besar yang menghambat aktivitas kerja sama dan kohesi regional.

Melihat sisi lebih dan kurang, regionalisme kemudian terbagi menjadi dua bagian, regionalisme lama dan baru. Pada regionalisme lama, kerja sama Negara di kawasan dipelajari dan dikalkulasi bahwa Negara masih bertindak secara rasional, apalagi jika menyangkut aspek ekonomi. Negara belum mengalami kehilangan batas kawasan yang berarti.

Sangat berbeda dengan regionalisme baru yang lebih banyak dipengaruhi oleh aktor selain Negara karena menganggap bahwa kerja sama di kawasan lebih dibentuk oleh transformasi global. Regionalisme baru tidak lagi menitikberatkan pada konsep kerja sama dan integrasi di kawasan. Akan tetapi lebih fokus kepada globalisasi. Kerja sama dalam fase regionalisme baru dipandang dengan sifat yang begitu bervariasi dan sangat dinamis.

Dalam regionalisme lama, dipercayai adanya spill over yakni adanya integrasi ekonomi yang akan memperbesar kapasitas sektor lainnya di sebuah kawasan. Regionalisme lama dipandang cenderung skeptis yang semula menutup diri kemudian berubah menjadi begitu terbuka dan menjadi tereintegrasi. Hal itu disebabkan oleh kehadiran dari globalisasi yang menjadi penyebab meningkatnya kebutuhan akan kerja sama di kawasan untuk menyelesaikan permasalahan bersama. Adanya kegagalan dari sistem regionalisme lama yang kemudian diperbaiki dan diperbaharui dalam regionalisme baru. Penekanan pada kemunculan non-state actor yang semakin diakui dengan melibatkan Negara menjadi aktor utama dalam perjalanan regionalisme.

Regionalisme juga dipandang sebagai sebuah respons oleh beberapa Negara dalam suatu kawasan terhadap tatanan dunia yang bersifat anarki. Koalisi atau kerja sama Negara di suatu kawasan ini didorong oleh adanya kesadaran bersama, adanya tujuan yang ingin dicapai, serta perasaan takut akan termarjinalkan.

Dalam bahasa kaum neo-realis disebutkan sebenarnya hal tersebut terjadi karena masih adanya bayang-bayang atau dipengaruhi oleh kebijakan dan sikap Negara-negara yang memiliki power lebih. Globalisasi yang mendorong terbentuknya regionalisme juga membentuk adanya hegemoni. Pada saat yang bersamaan memicu terciptanya institusi regional dan memunculkan balance of power.

Selain itu, tekanan sistem internasional dan hegemoni yang muncul merupakan alasan lain terhadap munculnya regionalisme. Bagi kaum neo-realis, regionalisme adalah bentuk lain dari aliansi yang diresmikan melalui perjanjian kerja sama kolektif serta obligasi dari beberapa Negara yang terlibat. Namun, bagi kaum realisme, regionalisme justru dianggap bertentangan dengan prinsip mereka yang memandang bahwa Negara adalah sebagai satu-satunya aktor. Negara harus mampu mempertahankan diri dengan melakukan struggle for power. Bagi kaum realisme, regionalisme akan justru mempersulit mencapai apa yang menjadi kepentingan nasional masing-masing Negara.

Di sisi lain, globalisasi menyebutkan bahwa terdapat kaitan yang sangat erat antara regionalisme dengan interdependensi. Hubungan yang erat tersebut dijelaskan dengan munculnya tiga aliran dalam globalisasi. Pertama, aliran skeptis. Aliran ini berpendapat bahwa globalisasi mengakui adanya kontak antar Negara bangsa yang terjadi saat ini semakin besar dibandingkan dengan era sebelumnya. Untuk melakukan integrasi ekonomi global, dibutuhkan beberapa blok perdagangan kawasan, seperti Uni Eropa, Amerika Utara, dan Asia Pasifik. Sehingga, yang terjadi saat ini bukanlah globalisasi ekonomi, tetapi regionalisasi perekonomian dunia yang berhubungan dengan istilah interdependensi.

Kedua, aliran hiperglobalis. Aliran ini percaya bahwa globalisasi yang terjadi karena masing-masing Negara dinilai tidak mampu mengontrol perekonomian mereka yang disebabkan oleh perkembangan dunia yang begitu pesat. Kemampuan pemerintah sangat terbatas dalam menyikapi isu yang terjadi lintas batas Negara. Serta, aliran transformalis. Aliran ini meyakini bahwa tatanan global memang mengalami perubahan, tetapi masih ditemui banyak pola lama yang bertahan. Perubahan yang terjadi saat ini tidak hanya berfokus pada bidang ekonomi, tetapi juga meliputi bidang politik, sosial, dan budaya.

Dari ketiga aliran tersebut menyebutkan bahwa peningkatan saling ketergantungan antar Negara-bangsa akan mengurangi adanya kemungkinan Negara-negara di suatu kawasan untuk terlibat dalam konflik. Sebab, perilaku suatu Negara akan selalu ditentukan oleh hubungan timbal balik antar satu Negara dengan Negara yang lainnya. Hubungan saling tergantung satu sama lain akan memiliki dan memberikan dampak yang signifikan terhadap tindakan dan kebijakan Negara. Hubungan ini dicirikan dengan adanya kerja sama, ketergantungan, serta interaksi di berbagai bidang.    

36 Shares