pekerja migran tiongkok
Banyak para pekerja migran china yang juga susah mencari pekerjaan (Foto: pinterest/reviewnesia.com
0 Shares

Sejak era reformasi ekonomi Tiongkok pada awal tahun 1980-an banyak masyarakat Tiongkok dari pedesaan berbondong-bondong dalam melakukan migrasi ke kota-kota besar atau kota industri di Tiongkok atau dikenal dengan pekerja migran. Namun, para pekerja migran ini ternyata menghadapi berbagai kesulitan. Mulai dari adanya eksploitasi pekerja, gaji yang rendah, dan kurangnya perlindungan terhadap pekerja. Sehingga mereka sangat kesulitan dalam menyuarakan hak-hak mereka sebagai pekerja migran. Pada musim semi tahun 2017 antologi terjemahan pertama dari puisi pekerja migran diterbitkan.

Sebuah buku yang berjudul “Iron Moon” merepresentasikan tulisan dalam bentuk puisi sebagai bentuk keterbukaan terhadap bagaimana menjadi pekerja migran. Disusun untuk menemani film dokumenter yang diprakarsai oleh penyair dan kritikus Qin Xiaoyu. Penyair migran tersebut telah menuliskan mobilitas sosial yang terjadi dan juga adanya eksploitasi yang mereka alami.

Baca Juga:
5 Negara Terapkan Makanan Sebagai Identitas Nasional
Review Film Teiichi Battle of Supreme High

Tahun 1910-1920, Tiongkok melakukan pergerakan budaya baru yang didorong oleh kekhawatiran guna terciptanya negara yang modern dalam mengambil tindakan untuk masyarakat pinggiran yang terkekang oleh sistem feodal lama. Sehingga mereka mampu keluar dari keterbelakangan dan kemiskinan.

Pada tahun 1980, semuanya berubah semenjak Tiongkok melakukan reformasi dalam era keterbukaan di bidang agrikultur melalui kebijakan sosialisme pasar. Hal tersebut membuat banyaknya para pekerja migran dari pedesaan ikut bekerja di tambang, konstruksi, dan jalur pembangunan kota. Dari berbagai macam pekerjaan itu, tidak adanya jaminan keamanan kerja. Bahkan mereka pun minum dari air sungai yang airnya sudah tercampur oleh polutan dan bahan kimia yang itu sangat membahayakan kesehatan mereka. Tidak hanya itu, selama bekerja di lapangan, mereka juga menghirup gas-gas beracun yang bisa secara langsung merenggut nyawa mereka. Para pekerja migran pedesaan ini sangat berisiko cedera akibat mesin vampiric yang bisa saja sewaktu-waktu melukai anggota badan mereka, bahkan bisa menyebabkan kematian dalam sekejap.

Para pekerja migran yang bermigrasi dari desa ke kota-kota yang ada di Tiongkok diperlakukan dengan tidak baik. Mereka diberikan gaji yang tidak sesuai dengan pekerjaan mereka yang begitu berat dan membahayakan. Tidak ada asuransi kesehatan, dan jaminan untuk keselamatan mereka.

Mereka bekerja dengan upaya yang begitu maksimal di proyek-proyek bangunan yang mereka kerjakan. Namun, ketidaknyamanan dalam pekerjaan itu tidak menyurutkan para pekerja imigran lainnya untuk datang ke kota-kota besar di Tiongkok. Gelombang imigran semakin bertambah setiap tahunnya. Hal itulah yang mengakibatkan munculnya permasalahan tentang kepadatan penduduk yang menjadi perhatian yang cukup besar bagi Pemerintah Tiongkok.

Pemerintah Tiongkok mengeluarkan kebijakan “hukou”, yang merupakan pendataan yang berisi berbagai persyaratan untuk para pekerja imigran yang datang ke kota-kota besar di Tiongkok. Hukou sendiri diterbitkan untuk menjamin kesehatan, kehidupan, sistem pendidikan anak-anak, dan lain sebagainya. Namun, kebijakan Hukou ini tidak berjalan sesuai harapan. Adanya reformasi kebijakan justru lambat laun membuat hak-hak para pekerja migran tidak dapat tersampaikan karena aksesnya yang sangat minim.

Puisi-puisi mereka merepresentasikan beban yang sangat dalam dari perjalanan kisah yang mereka alami. Mereka menempatkan diri sebagai golongan telah mengorbankan kesehatan, masa muda, dan akal sehat mereka demi keuntungan dan kenikmatan yang dapat dikonsumsi oleh banyak orang. Namun, ironisnya, bahasa sering dianggap sebagai alat yang tidak berfungsi dengan baik untuk menyampaikan pesan.

Para penyair yang menulis mengenai adanya kejadian pemotongan anggota badan mereka saat bekerja itu dapat membangkitkan fatalisme dengan cedera yang dialami. Tentu saja, para penulis pekerja migran bukanlah orang yang hanya peduli dengan keadaan ekonomi kapitalis Tiongkok yang saat itu dalam keadaan berantakan. Tetapi mereka juga peduli dengan kerusakan lingkungan yang ada. Tindakan menulis puisi ini adalah cara mereka yang tidak memiliki suara untuk detasemen yang mereka rasakan. Hal-hal yang dianggap layak dan patut sebagai bentuk perjuangan sehingga mereka bisa mendapatkan hak-hak mereka kembali. Tindakan menulis puisi ini juga dipandang sebagai bentuk komunikasi yang efektif. Mereka sering menyebutnya sebagai sebagai cri de coeur , panggilan untuk aksi sosial.

0 Shares