Post-Brexit
PPI Cabang Lancaster mengadakan rekaman langsung untuk podcast “DISKO” (Diskusi Kontemporer). (Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)

Pada tanggal 1 Maret 2021, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Cabang Lancaster (the United Kingdom/ UK) telah mengadakan rekaman langsung/live record untuk podcast “DISKO” (Diskusi Kontemporer).

Kegiatan tersebut membahas mengenai stand dan hubungan bilateral Indonesia terhadap UK yang sudah memulai implementasi kebijakan paska Brexit (British Exit). Bapak Khasan Ashari, Deputy Chief of Mission to the UK, Ireland and IMO, yang baru dilantik di tahun ini hadir sebagai narasumber.

Mengawali materi paparannya, Bapak Khasan menegaskan bahwa  salah satu prioritas diplomasi Indonesia adalah di bidang ekonomi. Menurutnya, Brexit merupakan momen yang dapat dimanfaatkan meski tidak dapat dipungkiri pasti terdapat tantangan dan hambatan.

Tantangan tersebut bisa saja hadir dari berbagai aspek seperti persaingan dengan Commonwealth of Nations. Peluang juga terbuka bukan hanya kepada Indonesia tapi  juga negara-negara lain di seluruh belahan dunia.

Lebih lanjut, beliau mencontohkan perbandingan perdagangan kopi Kenya yang lebih menjadi preferensi pemerintah UK dibanding kopi dari Indonesia. Meski demikian, ASEAN termasuk Indonesia merupakan mitra kerja sama prioritas pemerintah UK pasca Brexit.

Sehingga beliau sangat optimis bahwa Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara lain yang  telah memperbaharui perjanjian  perdagangan terlebih dahulu. Oleh karena itu, kerja sama yang baik seharusnya dilakukan tidak hanya dengan mitra di UK namun juga dari para pengusaha dalam negeri.

Baca Juga : Ertuğrul dan Diplomasi Publik Erdoğan

Terkait diplomasi kesehatan, Bapak Khasan menegaskan bahwa stand Indonesia cukup jelas.  Berangkat dari aspek kemanusiaan yang menjamin pasokan vaksin terdistribusi secara merata tidak hanya kepada negara maju, namun juga kepada negara berkembang.

Beliau juga menambahkan bahwa Indonesia sudah memiliki ikatan kerja sama dengan AstraZeneca UK. Sehingga pasokan vaksin nasional dapat diamankan. Indonesia juga telah menjalin ikatan kerja sama jangka panjang yang dimanifestasikan ke dalam United Kingdom – Indonesia Consortium for Interdisciplinary Sciences (UKICIS).

Baca Juga  5 Agenda PBB untuk Perdamaian Dunia

Adapun universitas yang tergabung di dalamnya ialah The University of Warwick, The University of Nottingham, Coventry University (UK) – Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada (Indonesia). Melalui UKICIS, kedua negara akan menjalankan kerja sama jangka panjang utamanya di bidang riset ilmiah, termasuk resiliensi pandemi, climate change and natural hazard.

Mengakhiri paparannya, Bapak Khasan menggambarkan bahwa keterwakilan pekerja berkewarganegaraan Indonesia yang berkarier di Organisasi Internasional (OI) masih sangat minim. Momentum Brexit dapat menjadi pilihan bagi warga negara Indonesia yang hendak bekerja di OI.

Menimbang banyak sekali OI yang berkantor pusat di UK, seperti Amnesty International ataupun International Maritime Organization (IMO). Peserta juga mendapatkan informasi terkait hal  teknis tentang bagaimana  prosedur dan  tata cara mendaftar di OI.

Selain itu, beliau juga menjelaskan bagaimana tips and tricks dapat diterima dan bekerja di Kementerian Luar Negeri sebagai diplomat. Mengingat peserta yang hadir banyak yang berasal dari jurusan Hubungan Internasional dan berkaitan dengan kapasitas beliau sebagai Ex – Direktur Sekolah Dinas Luar Negeri tahun 2020.

Pemaparan tersebut mendapat antusiasme dan feedback yang positif dari para peserta yang hadir. Adapun peserta yang hadir berasal tidak hanya dari para pelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di UK, tapi juga oleh para pelajar Indonesia di mancanegara dan masyarakat umum.

Di UK tersendiri, para pelajar yang tergabung ialah berasal dari University College London, Manchester, Liverpool, Durham dan Stirling. Sedangkan dari mancanegara, dihadiri oleh para pelajar  dari Indonesia, seperti UGM, UI dan UNAIR, serta dari United Arab Emirates.

Sumber :

PPI Lancaster