Pada dekade akhir abad ke-20, gerakan-gerakan Environmentalism menjadi sebuah gerakan yang berkembang dengan cepat. (Foto: Talabul Amal/reviewnesia.com)

Berdasarkan berbagai referensi, maka dapat disampaikan bahwa perkembangan tentang alam atau lingkungan (hidup) telah terjadi sejak lama, namun pemahaman dan perhatian serius terhadap masalah-masalah alam atau lingkungan yang terjadi saat itu belum terjadi, karena masih dianggap hal-hal yang biasa saja.

Pemahaman dan perhatian terhadap alam atau lingkungan (hidup) yang saat ini dikenal sebagai Environmentalisme muncul setelah terjadinya Revolusi Industri di Prancis (Eropa) khususnya dan beberapa negara di Eropa seperti Inggris, Belanda dan Jerman pada abad 17. Perkembangan Revolusi Industri memberikan dampak pada timbulnya pencemaran alam dan lingkungan seperti yang umum terjadi saat ini. Munculnya pabrik-pabrik besar (khususnya pabrik baja) dan eksploitasi terhadap sumber daya alam dalam jumlah yang sangat besar khusunya pada batubara dan bahan bakar fosil sebagai sumber energi utama, maka menimbulkan dampak pada polusi udara dan pembuangan limbah industri kimia, dengan volume yang sangat besar ditambah dengan perkembangan urbanisasi yang pesat pula menyebabkan kepadatan penduduk.

Baca Juga: 3 Paradigma Dalam Politik Lingkungan

Upaya yang dilakukan untuk mengontrol dan mengatasi kondisi kerusakan terhadap alam dan lingkungan adalah dengan dilakukannya kesepakatan berupa British Alkali Acts yang disahkan pada 1863, yaitu suatu kesepakatan untuk mengatur polusi udara yang merugikan (gas asam klorida) yang merupakan hasil dari proses Leblanc, yaitu suatu proses yang digunakan (batu kapur dan batubara) untuk menghasilkan abu soda yang mengeluarkan polusi yang tinggi. Perkembangan Environmentalisme tumbuh dengan pesat, yang merupakan reaksi atau respon terhadap industrialisasi, pertumbuhan kota, dan udara yang memburuk akibat polusi dan pencemaran pada sumberdaya air.

Namun, bila ditelusuri lebih jauh ke belakang sebelum dimulai terbentuknya kesadaran ataupun gerakan terhadap alam atau lingkungan sebagai usaha untuk meminimalisir dampak perkembangan peradaban manusia terhadap alam atau lingkungan, maka Raja Edward I dari Inggris melalui proklamasi atau pernyataan di London pada tahun 1272 melarang melakukan pembakaran batubara karena menimbulkan asap yang kemudian menjadi masalah terhadap udara (polusi udara) waktu itu. Demikian juga jika dilihat, maka sejak abad pertengahan yang mana gereja masih sangat berkuasa pada waktu itu, maka berbagai upaya-upaya mengenai perhatian dan perlindungan tehadap lingkungan sudah dilakukan meskipun tidak dalam lingkup yang lebih luas.

Baca Juga  Regionalisme, Globalisasi, dan Interdependensi

Pada tahun 1962, Kesadaran masyarakat terhadap terjadinya krisis pada alam dan lingkungan mulai timbul dengan terbitnya sebuah buku yang bertajuk Silent Spring pada tahun 1962. Buku ini merupakan hasil kajian seorang saintis wanita yang bernama Rachel Carson. Walaupun buku ini hanya merupakan kumpulan penjelasan penulis mengenai dampak pencemaran yang terjadi akibat pertumbuhan industri kimia terhadap alam dan lingkungannya. Karya Rachel memberikan dampak terhadap kesadaran masyarakat di dunia mengenai terjadinya krisis alam dan lingkungannya yang semakin meluas akibat perkembangan sains dan teknologi di zaman modern. Kesadaran terhadap perkembangan kondisi alam dan lingkungan yang dicetuskan oleh Rachel Carson ini, bukan saja menarik perhatian dari golongan ilmuan tetapi juga turut mempengaruhi para ahli di bidang-bidang yang lain.

Pada tahun 1967 seorang ahli sejarah, Lynn White Jr., menulis sebuah artikel yang bertajuk The Historical Roots of Our Ecological Crisis. Artikel ini memuatkan pandangannya mengenai tentang faktor utama atau penting yang menyebabkan terjadinya krisis alam atau lingkungan sekitar. Menurut Lynn, faktor utama yang menyebabkan krisis alam atau lingkungan sekitar ialah Doktrin Yahudi-Kristian (Etika Moral) yang melahirkan suatu

Pandangan umum atau worldview dalam kehidupan manusia pada masyarakat, yaitu bahwa manusia diizinkan oleh Tuhan untuk mengeksploitasikan alam atau lingkungan sekitar demi kelangsungan hidup mereka. Lynn White Jr. Menyampaikan dengan berpegang kepada pandangan umum tersebut, maka masyarakat barat (Eropa) khususnya menggunakan sains dan teknologi secara dinamik untuk mengeksploitasi alam dan lingkungan sekitar tanpa batasan. Fenomena inilah yang menyebabkan terjadinya gangguan dan kemerosotan kualitas alam atau lingkungan sekitar secara lokal dan global, sehingga mem berikan dampak yang meluar kepada masyarakat dunia.

Dengan demikian maka, isu-isu mengenai kerusakan alam atau lingkungan tersebut, telah mendapat sorotan dan perhatian di masyarakat dunia sekitar tahun 1970-an, khususnya seiring dengan perkembangan pada negara-negara Dunia ke-Tiga, yang mana saat itu terjadi eksploitasi sumberdaya alam secara besar-besar untuk mendapatkan keuntungan negara sebagai modal pelaksanaan pembangunan, seperti di Indonesia terjadi eksploitasi hutan dan minyak bumi. Namun aspek lingkungan (Environmentalisme) baru muncul pada studi Hubungan Internasional secara intensif yang ditandai dengan diselenggarakannya konferensi PBB di Rio De Jeneiro pada tahun 1992 dengan tema Global Warming, walaupun 20 tahun sebelum sudah ada perhatian terhadap masalah-masalah lingkungan pada pertemuan masyarakat dunia dengan Deklarasi Stockholm tahun 1972.

Baca Juga  Globalisasi dan Integrasi Ekonomi Afrika Selatan Pasca Bergabung dengan Keanggotaan BRICS

Pada dekade akhir abad ke-20, gerakan-gerakan Environmentalism menjadi sebuah gerakan yang berkembang dengan cepat, perangkat transnasional yang paling efektif merubah pandangan dan peraturan lingkungan hidup di lingkup global. Untuk itu, gerakan environmentalism yang bersifat global dapat dimasukkan dalam salah satu counter hegemonic globalisasi.

Batasan-batasan itu dapat dilihat dari keterlibatan gerakan ini dalam arena politik lingkungan. Gerakan-gerakan seperti ini memiliki akar sosial yang bersifat lokal-nasional. Gerakan transnasional belum memiliki basis dan kekuatan yang sudah mapan. Karena itu, orang-orang yang terlibat dalam kampanye transnasional adalah mereka yang terlibat dalam ikatan dan komunitas lokal dan didorong oleh keinginan untuk memajukan anggota tersebut. Oleh karena itu perjuangan dan gerakan terhadap alam dan lingkungan terus-menerus dilakukan baik oleh masyarakat maupun secara transnasional dalam upaya perlindungan terhadap lingkungan global, sehingga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan dan dampak globalisasi saat ini.

Perkembangan perhatian terhadap lingkungan pada era globalisasi saat ini adalah dengan munculnya beberapa konsep dan bahkan gerakan yang berkaitan dengan isu-isu yang tidak hanya bersifat lokal nasional tetapi juga sudah menjadi transnasional. Beberapa isu-isu tersebut antara lain seperti global warming, claim change, krisis sumber daya air, kerusakan hutan dan lain sebagainya.

Perkembangan isu-isu kontemporer ini bahkan menjadi bagian dari kampanye politik secara nasional maupun global bagi para politisi. Hal ini menunjukan bahwa perhatian terhadap alam dan lingkungan semakin meluas walaupun tentu tidak mudah untuk segera menyelesaikan permasalahan yang telah terjadi terhadap perubahan alam dan lingkungan. Namun paling tidak munculnya pemahaman, pengertian dan kesadaran maupun upaya-upaya terhadap perlindungan dan perbaikan alam dan lingkungan sudah sangat bagus. Karena perjuangan pada hal-hal tersebut sangat memerlukan pengorbanan biaya dan waktu.