teori hubungan internasional
Teori sebagai landasan dalam proses pengambilan keputusan(Foto: uq.edu/reviewnesia.com)
35 Shares

Morgenthau mengidentifikasi sejumlah fungsi intelektual dan politik dari teori (intelectual and political functions of theory). Disebutkan bahwa teori berfungsi sebagai justifikasi teoritik terhadap kebijakan yang diambil oleh para pembuat keputusan. Teori juga sebagai landasan dalam proses pengambilan keputusan. Morgenthau menambahkan bahwa teori memiliki peran sebagai nurani intelektual dan masukan terhadap tatanan internasional baru. Tampak jelas bahwa sebenarnya teori memiliki banyak manfaat dan kegunaan. Salah satu manfaat paling fundamental adalah bahwa teori merupakan alat bantu yang memberikan kemungkinan untuk mendeskripsikan, melakukan eskplanasi terhadap fenomena hubungan internasional yang terjadi. Berikut ulasan 10 citra dari teori hubungan internasional dari tim reviewnesia agar proses pendalaman teori menjadi lebih mudah:

1. Teori Hubungan Internasional vs Teori Politik

Kontroversi mengenai kedua hal ini berawal ketika paper berpengaruh Wight yang diterbitkan pada tahun 1966. Dalam paper ini disebutkan bahwa teori hubungan internasional adalah suatu spekulasi tentang tradisi masyarakat Negara bangsa dan komunitas internasional yang berlawanan dengan teori politik. Wight menyebutkan bahwa teori politik lebih menekankan pada spekulasi mengenai Negara yang dianggap berlawan dengan teori hubungan internasional. Ia menekankan bahwa tidak ada teori hubungan internasional yang dapat menyaingi teori politik. Hal itu dibuktikan dengan dominannya konsep negara di dalam teori politik sehingga sulit dibayangkan bagaimana komunitas dunia mempunyai hak lebih dari negara. Sementara menurutnya, ketika berbicara mengenai teori hubungan internasional, ilmuan selalu membutuhkan bahasa dari politik domestik. Pandangan Wight ini menuai banyak kontroversi.

Baca Juga: 4 Jenis Tindakan Plagiat dan Faktor Penyebabnya

2. Komunitarian vs Kosmopolitan

Perdebatan ini cukup berkembang dan dikenal luas dengan sebutan teori normatif. Teori komunitarian memiliki pendapat dan meyakini bahwa komunitas politik merupakan pemegang kunci dari hak dan kewajiban dalam masyarakat internasional. Sebaliknya, Kosmopolitan memiliki pandangan bahwa argumen moral seharusnya berlandaskan tidak pada komunitas akan tetapi pada manusia secara keseluruhan atau individu. Perdebatan antara kedua posisi ini membuka kesempatan bagi pengembangan teori hubungan internasional yang normatif dengan perdebatan yang sama pada disiplin lain seperti filsafat moral, teori sosial dan politik.

3. Realis, Rasionalis, dan Revolutionis

Masing-masing ketiganya memiliki padanan kembali kepada Machiavellians, Grotians, dan Kantians. Kelompok pertama memandang bahwa politik internasional bersifat anarkis sehingga memberikan potensi perang satu sama lain. Kelompok kedua, melihat bahwa politik internasional adalah gabungan dari konflik dan kerja sama. Sedangkan kelompok ketiga memaknai politik internasional sebagai sisi kemanusiaan.

4. Tiga Gelombang Perdebatan Besar

Sejarah abad 20 menunjukkan bahwa hubungan internasional terbagi menjadi tiga tahap, mulai dari fase idealis, tradisi idealis, dan revolusi behavioralis. Perkembangan dalam proses timbulnya perdebatan besar ini adalah karena ketidakpuasan metodologis terhadap perspektif terdahulu. Perdebatan besar pertama adalah antara idealis dan realis pada akhir 1930-an. Perdebatan besar kedua antara realis dan behavioralis pada akhir 1950-an. Serta perdebatan besar ketiga positivis versus post-positivis.

5. Perdebatan antar Paradigma

Jika hubungan internasional didominasi oleh tiga paradigma utama yakni idealis, realis, dan behavioralis, tetapi sejak tahun 1980 tidak ada lagi paradigma yang dominan. Sehingga terjadi tawaran alternatif baru yang relatif lebih logis yakni realisme dan neo-realisme, liberalisme, globalisme, dan pluralisme, serta neo-marxisme dan strukturalisme.

6. Transnasionalisme vs Negara Sentris

Perdebatan dalam tahapan ini merujuk kepada pendapat apakah negara merupakan fokus dalam teori hubungan atau tidak? Negara sentris tentu setuju dengan pernyataan tersebut, sementara transnasionalisme mengatakan tidak. Transnasionalisme menyetujui perdebatan dari karya Maghoori dan Ramberg yang membagi ketiga perdebatan utama menjadi tiga bagian. Idealis versus realis, tradisionalis versus behavioralis, sedangkan yang ketiga adalah realis pada perdebatan pertama dan tradisionalis pada perdebatan kedua versus transnasionalis (idealis perdebatan pertama dan behavioralis pada perdebatan kedua).

Baca Juga: 3 Pemikiran Niccolo Machiavelli dalam Hubungan Internasional

7. Neo-realisme vs Neo-liberalisme

Perdebatan ini menkankan pada 6 poin perdebatan; sifat dasar dan konsekuensi anarkisme dalam hubungan internasional, kerjasama internasional, apa yang diperoleh, isu utama, intensi dan kapabilitas, serta institusi internasional. Neo-realis melihat bahwa tindakan negara umumnya didominasi oleh kebutuhan dan keamanan fisik, sementara neo-liberalis melihat bahwa ada peran dan motivasi lain. Pada poin kedua, dibandingkan neo-liberalis, neo-realis menyebutkan bahwa kerja sama internasional sangat sulit dicapai. Sementara di poin ketiga, neo-liberalis menyebutkan dan menekankan adanya kepentingan absolut yang dicapai, sementara neo-realism menyebutkan capaian relatif. Untuk poin keempat, neo-liberalis melihat pada aspek ekonomi dan politik, sementara neo-realis memberikan penekanan pada aspek keamanan. Poin kelima, neo-realis condong kepada kapabilitas ketimbang intensi, sementara neo-liberalis lebih kepada intensi daripada persepsi. Poin terakhir, neo-liberalis melihat bahwa institusi internasional dapat mengurangi anarki, sementara neo-realis pesimis dengan hal tersebut.

8. Perdebatan Pasca-Positivis

Masalah mendasar dalam perdebatan ini adalah menyangkut kritik terhadap dominasi realisme yang muncul dari 4 kekuatan utama, ciritical theory, historical sociology, feminist, dan post modern.

9. Constitutive vs Explanatory Theory

Perdebatan ini adalah isu meta teori utama yang dihadapi oleh teori hubungan internasional kontemporer. Yakni antara teori yang berusaha mencari dan menawarkan penjelasan mengenai hubungan internasional dan kelompok yang memandang teori sebagai bentuk dari realitas itu sendiri.

10. Foundationalist vs Anti Foundationalist International Theory

Kedua kelompok ini adalah bukti dan contoh konkret dari perdebatan yang terjadi dalam constitutive theory terutama yang berhubungan dengan masalah perbedaan epistemologi.

Daftar Rujukan:

Dugis, Vinsensio. 2016. Teori Hubungan Internasional Perspektif Klasik. Surabaya: Cakra Studi Global Strategis.
Ikbar, Yanuar. 2014. Metodologi dan Teori Hubungan Internasional. Bandung: Refika Aditama.
Rudy, May. 2003. Hubungan Internasional Kontemporer dan Masalah Global. Bandung: Refika Aditama.  
M. Richard & R. Kirsten. 2012. Pengantar Politik Global. Bandung: Nusa Media.

35 Shares