suriah-international-organization
Kasus yang terjadi di Suriah pada dasarnya merupakan fenomena politik akibat kegagalan Arab Spring dalam mendemokratisasi pemerintahan Suriah (Foto: Ahmad Said Rifqi/reviewnesia.com)

Latar Belakang

Kasus yang terjadi di Suriah pada dasarnya merupakan fenomena politik akibat kegagalan Arab Spring dalam mendemokratisasi pemerintahan Suriah, hingga pada akhirnya telah digolongkan sebagai Konflik Bersenjata Internal (non-Internasional) melalui perang saudara di Suriah antara kubu rezim pemerintah dengan oposisi masyarakat sipil Suriah, secara harfiah terdapat dua tipe mengenai konflik yang diatur dalam Hukum Humaniter Internasional, yaitu Sengketa atau Konflik Bersenjata yang bersifat Internasional (International Armed Conflict) dan Konflik Bersenjata yang bersifat (non-Internasional Armed Conflict). Namun seiring perkembangan konflik di Suriah ditinjau dari kondisinya menyebabkan konflik Suriah menjadi konflik yang bersifat Internasional (International Armed Conflict) karena adanya keterlibatan negara lain khususnya diluar kawasan Timur Tengah.

Konflik di Suriah merupakan peristiwa yang penting untuk dikaji, karena dalam konflik Suriah telah menelan banyak sekali korban jiwa, data PBB serta empat kelompok pembela HAM (Hak Asasi Manusia) di Suriah telah menyatakan pada November 2013, Oxford Research Group telah melaporkan mengenai setidaknya sebelas ribu anak-anak dibawah umur di Suriah telah terbunuh akibat konflik tersebut, serta sumber lain menyatakan jumlah korban telah menggapai kisaran seratus ribu jiwa di tahun 2013, dimana selama tiga tahun konflik terjadi.

UNHCR (United Nations High Comissioner Refugee) merupakan Agensi dari negara-negara anggota UN untuk pengungsi ikut berpartisipasi dalam mengumpulkan persentase penduduk Suriah, serta bagaimana perkembangan mereka seiring konflik berjalan khususnya para pengungsi Suriah, karena berdasarkan data yang telah dikemukakan oleh UNHCR sedikitnya telah ditetapkan sejumlah dua juta warga Suriah sebagai pengungsi di empat negara tetangganya, yaitu Yordania, Irak, Libanon, dan Turki. Ratusan ribu lainnya tinggal di luar wilayah tersebut tanpa akses terhadap bantuan internasional, dimana mereka menggunakan akses mandiri dengan sisa harta yang mereka miliki untuk melewati batasan negara yang akan dituju untuk mengungsi.

Arus Perkembangan Pengungsi di Eropa

Dengan adanya konflik serta persekusi telah menyebabkan terjadinya perpindahan terpaksa atau yang disebut dengan forced displacement, hal ini menyebabkan skala global meningkat secara tajam di tahun 2015, hingga mencapai tingkat tertinggi yang pernah ada sebelumnya. Dengan lonjakan angka tersebut yang sekaligus mewakili gambaran penderitaan besar manusia, seperti yang dilaporkan oleh UNHCR, merupakan kepanjangan dari United Nations High Commissioner for Refugees yakni Badan PBB untuk urusan pengungsi.

BACA JUGA: Responsibility to Protect Antara Libya dan Suriah

Dalam laporan tersebut di tunjukkan dalam Tren Global tahunan UNHCR, yang telah melakukan pengamatan terhadap forced displacement di segala penjuru dunia dengan berdasarkan data dari pemerintah, mitra kerja salah satunya adalah IDMC atau Internal Displacement Monitoring Centre yaitu merupakan Pusat Pemantauan Pemindahan Internal, serta berdasarkan pada laporan dari UNHCR sendiri, ditunjukkan bahwasannya pada akhir tahun 2015 jumlah penduduk yang melakukan perpindahan terpaksa telah mencapai total 65,3 juta jiwa, sedangkan di tahun-tahun sebelumnya tercatat sejumlah 59,5 juta jiwa.

Hal ini adalah pertama kalinya dalam catatan sejarah dengan mencapai batasan total 60 juta jiwa. Termasuk juga dalam jumlah total sebesar 65,3 juta jiwa tersebut yaitu 3,2 juta orang diantaranya berada di negara-negara industri dan sedang menantikan keputusan suaka di akhir tahun 2015 lalu, hal ini merupakan jumlah terbesar yang pernah dicatat oleh UNHCR, sebesar 21,3 juta pengungsi di seluruh dunia dengan total diantaranya sebesar 1,8 juta lebih tinggi dari tahun 2014 sehingga merupakan jumlah pengungsi dengan angka tertinggi sejak awal tahun 1990-an, dan juga sebesar 40,8 juta manusia yang terpaksa untuk memilih meninggalkan rumahnya namun masih berada di dalam batas-batas negaranya dengan ditunjukkan angka yang meningkat sebesar 2,6 juta manusia dari tahun 2014 yang merupakan jumlah pengungsi terbanyak yang pernah ada.

Jika dibandingkan dengan 7,349 milyar total penduduk bumi, 1 dari 113 orang diantaranya merupakan Asylum Seeker atau pencari suaka, serta Refugee atau pengungsi. Hal ini merupakan sebuah tingkat resiko yang belum pernah ditemui UNHCR sebelumnya. Secara umum, dapat dikatakan bahwa seiring berjalannya waktu jumlah orang-orang yang melakukan perpindahan terpaksa di dunia terus mengalami peningkatan karena lebih banyaknya jumlah migran daripada jumlah populasi bumi sendiri.

Dalam sebagian besar wilayah, fenomena forced displacement ini terus meningkat setidaknya terhitung sejak pertengahan tahun 1990, namun selama lima tahun terakhir peningkatan tersebut telah mengalami lonjakan drastis.

Hal itu merupakan akibat dari arus besar keluarnya pengungsi yang berlangsung lama karena terjadinya situasi-situasi seperti konflik yang berlarut-larut di Somalia maupun Afganistan yang hingga saat ini telah memasuki tiga hingga empat dekade mereka, terjadinya konflik yang menimbalkan situasi dramatis, dimana kejadian baru atau kejadian lama yang muncul kembali seperti halnya situasi konflik di Suriah yang kini menjadi yang terbesar, dan juga di Sudan Selatan, Yemen, Burundi, Ukraina, dan Republik Afrika Tengah dalam periode lima tahun terakhir, dan adanya penurunan kecenderungan solusi yang dapat ditemukan bagi para pengungsi sejak setelah berakhirnya Perang Dingin.

Kembali pada sepuluh tahun yang lalu dari tahun 2015, tepatnya di akhir tahun 2005, UNHCR telah mencatat bahwa dalam setiap menitnya terdapat total 6 orang yang telah melakukan migrasi. Namun di tahun 2015, angka tersebut telah jauh lebih meningkat menjadi 24 orang di setiap menitnya bahkan hampir dua kali lipat frekuensi orang dewasa. Dari seluruh negara di penjuru dunia ini yang telah tercakup dalam laporan Tren Global, terdapat beberapa negara yang lebih menonjol, diantaranya yakni Suriah dengan jumlah kepadatan migran maupun pengungsi mencapai 4,9 juta, 2,7 berasal dari Afganistan, dan 1,1 juta merupakan penduduk asal Somalia. Ketiga negara tersebut bersama-sama telah menyumbang lebih dari jumlah total setengah pengungsi di bawah mandat UNHCR di seluruh dunia.

Beberapa dari negara-negara seperti Kolombia dengan penduduk 6,9 juta, 6,6 juta asal Suriah, dan Irak dengan penduduk sebesar 4,4 juta jiwa, sementara itu ketiga negara tersebut merupakan negara penyebab pengungsi terbesar di dunia. Namun di tahun 2015 lalu, Yemen juga merupakan negara terbesar penyumbang pengungsi baru, yaitu dengan jumlah 2,5 juta manusia atau sebesar 9% dari total populasi penduduknya.

Baca Juga  Japan’s Security Alliance Dilemma, Writer of the Article: Koji Sonoda

Adanya perang di Suriah ini telah mendorong setidakya sejumlah 4,9 juta penduduk untuk pergi ke sebuah pengasingan sebagai pengungsi dan sebanyak 6,6 juta penduduk telah berupaya dijadikan sebagai pengungsi internal, dengan total sama halnya dengan sekitar setengah dari jumlah populasi penduduk di Suriah sebelum terjadinya perang tersebut. Sedangkan situasi yang terjadi di Ukraina yang merupakan negara secara geografisnya berdekatan dengan kawasan Eropa dengan Suriah serta Irak, ditambah lagi dengan datangnya pengungsi serta migran yang melalui jalur Mediterania sebanyak lebih dari satu juta orang, dimana orang-orang ini sebagian besar berasal dari setidaknya sepuluh negara penghasil pengungsi terbesar di dunia.

Hal tersebut merupakan faktor-faktor penyebab adanya dominasi perpindahan di Eropa yang terjadi pada tahun 2015. Dengan jumlah keseluruhan, negara-negara di Eropa telah menghasilkan 593.000. Ditunjukkan dalam laporan Tren Global yang menyatakan bahwa sebanyak 441.900 klaim suaka di negara Jerman, dimana bahwasannya populasi pengungsi telah meningkat sebesar 46% dari tahun 2014.

Kebijakan Pintu Terbuka oleh Pemerintah Jerman Terhadap Pengungsi Suriah

Dengan ditetapkannya penerimaan pengungsi Suriah oleh Jerman ini merupakan representasi dari kebijakan Open Door yang diinisiasi oleh pemerintah pusat. Terbentuknya kebijakan Open Door ini didukung oleh Partai Demokratik Kristen (CDU), yang merupakan aliansi partai yang mendukung pemerintahan Angela Merkel. Selain didorong oleh dukungan tersebut, adapun mengenai pengambilan keputusan ini dengan dilatarbelakangi oleh 3 hal, yaitu dari segi legalitas teritorial, perasaan bersalah secara kolektif, serta adanya pandangan pragmatistik.

Adapun alasan lain mengapa Jerman memutuskan untuk menerapkan kebijakan Open Door ini yakni karena adanya perasaan bersalah secara kolektif yang dimiliki oleh masyarakat Jerman. Akibat dari semenjak berlangsungnya Perang Dunia II, kejahatan perang yang dilakukan Jerman di bawah kediktatoran Adolf Hitler seperti Holocaust atau pembantaian masal mengakibatkan masyarakat Jerman hingga saat ini merasa telah menanggung beban tanggung jawab dalam menebus kesalahan mereka yang terjadi di masa itu.

Tidak hanya itu, tetapi juga bahwasannya kebijakan Open Door Jerman merupakan sebuah refleksi dari budaya Willkommenskultur, yang merupakan budaya untuk menerima orang asing agar ikut bersama sama dalam membangun perekonomian yang lebih baik.

Setelah diterapkannya kebijakan Open Door oleh Jerman. Muncul berbagai pengaruh yang positif terhadap kebijakan tersebut, termasuk terjadinya peningkatan popularitas bagi Perdana Menteri Angela Merkel, dimana image Angela Merkel sebelumnya disebut sebagai penerus Adolf Hitler namun kini telah menuai banyak pujian dengan di sebut sebagai sosok “Malaikat Penolong” oleh para pengungsi dan simpatisan. Namun tetap saja, dampak negatif yang dihasilkan cukup besar.

Selain menurunnnya popularitas Merkel akibat dari krisis pengungsi yang semakin terus meningkat, dengan lonjakan jumlah pengungsi sehingga memunculkan berbagai tekanan yang datang dari berbagai pihak. Datangnya kritik dari luar negara yakni oleh Perdana Menteri Rusia yang menilai bahwasannya kebijakan yang dicetuskan oleh Angela Merkel itu “membahayakan”, terdapat pula tekanan yang berasal dari dalam negeri yakni oleh kubu oposisi nasionalis Alternative für Deutschland atau AFD.

Melalui peran trauma politik juga dapat mengakibatkan pada sebuah ancaman yang akan mempengaruhi perilaku serta kebijakan luar negeri. Dengan diterapkannya Kebijakan Open Door ini adalah untuk menangani krisis pengungsi yang terjadi di Eropa oleh Jerman, Hal ini juga bertujuan untuk menjadikan sebuah harapan baru bagi Jerman dalam membangun serta meningkatkan citra positif Jerman. Sehingga pada tahun 2015, masyarakat Jerman juga telah menunjukan solidaritas mereka terhadap para pengungsi dengan total sebesar 86% masyarakat Jerman ikut membuka suara untuk memberikan dukungan terhadap penerimaan pengungsi di negara mereka.

Hal ini karena adanya sebuah koneksi antara Kebijakan Pintu Terbuka dengan masa lalu Jerman. Oleh sebab itu, melalui faktor historis masa lalu jerman telah memainkan peran penting sehingga dijadikan alasan Jerman menerapkan kebijakan Open Door guna memperbaiki citra positif Jerman terhadap dunia.

Peran IOM dalam Menangani Permasalahan Pengungsi Suriah di Jerman

Terkait dengan bagaimana peran IOM dalam menangani permasalahan pengungsi Suriah yang sangat melampaui batas maksimal di negara Jerman, telah terbentuk beberapa Program yang sangat membantu dan sangat bermanfaat bagi para pengungsi Suriah di Jerman, diantaranya :

1. Program Penempatan dan Humaniter (Placement and Humanitarian Program)

Dalam menjalankan program Penempatan dan Humaniter, terdapat beberapa persyaratan dan prosedur yang perlu dipenuhi bagi setiap pihak yang ingin ikut terlibat ke dalam program ini, dalam hal ini IOM berperan dalam beberapa hal antara lain, yakni:

  • Migration Health Assessments

IOM akan melakukan pengecekan kesehatan bagi setiap migran yang akan mengikuti program ini, seperti pemberian vaksinasi apabila dibutuhkan. Kemudian setelah dilakukan pengecekan, IOM akan melakukan Penilaian kesehatan migrasi yang merupakan salah satu layanan manajemen migrasi IOM yang paling mapan. Atas permintaan pemerintah negara penerima, IOM memberikan para migran evaluasi kesehatan fisik dan mental untuk tujuan membantu mereka dengan transmigrasi, pekerjaan internasional, memperoleh visa sementara maupun permanen, atau pendaftaran dalam program bantuan migran tertentu.

Guna mencerminkan perbedaan nasional dalam kebijakan dan praktik imigrasi, persyaratan dan protokol penilaian kesehatan bervariasi di antara negara-negara penerima. Persyaratan ini mungkin spesifik untuk penyakit tertentu yang menjadi perhatian kesehatan masyarakat, seperti tuberkulosis, atau penyakit lainnya.

  • Pre-Departure Assistance

Bantuan yang ditetapkan oleh IOM mengenai pra-keberangkatan juga dapat memainkan peran penting dalam mendukung migran untuk menjadi anggota yang produktif dan aktif dari komunitas penerima begitu mereka tiba. Migran yang terinformasi juga cenderung menjadi korban eksploitasi dan lebih siap untuk tetap aman selama pengalaman migrasi mereka.

Hal ini dengan adanya kerjasama antara pihak-pihak berwenang yang bertanggung jawab atas masalah integrasi di Austria, Republik Ceko, Jerman, Hongaria, Italia, Belanda, Portugal dan Slovakia dengan Asosiasi Dunia Layanan Ketenagakerjaan Umum atau Association of Public Employment Services terbentuk sebuah proyek yang disebut HEADSTART yang didanai oleh the European Union Integration Fund, the Ministries of Interior of Italy and Austria, dan the Central Agency for the Reception of Asylum Seekers in the Netherlands (COA).

  • Pre-Departure Provision of Information on Cultural Orientation

Dalam persyaratan ini, IOM telah menyediakan CO atau Cultural Orientation untuk berbagai negara termasuk Australia, Kanada, Finlandia, Norwegia, dan Amerika Serikat, dengan nilai program gabungan yakni lebih dari USD 6,6 juta, yang tersebar di sekitar 30 negara, serta menargetkan sebanyak 58.700 peserta. Meskipun pendekatan CO dan konten kurikulum sangat beragam sesuai dengan kategori klien serta realitas dan persyaratan negara tujuan, ada tema luas yang dibagikan dan berlaku. Hal yang menjadi tugas serta tujuan CO disini yakni, yang pertama, memberikan para peserta informasi faktual tentang negara tujuan. Kedua, membantu mereka dalam mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk berhasil di lingkungan baru mereka, mis. cara mencari akomodasi, cara mendapatkan pekerjaan, cara mengakses fasilitas perawatan kesehatan.

Baca Juga  National Branding Pentagon dalam Pariwisata Internasional

Dan yang ketiga, mengeksplorasi sikap yang diperlukan untuk integrasi yang berhasil, mis. fleksibilitas, pikiran terbuka, inisiatif, dan kemandirian. Oleh karena itu, CO berupaya untuk memberdayakan peserta untuk beradaptasi lebih cepat dan berhasil dengan tuntutan sehari-hari dari setiap lingkungan baru.

Dengan begitu, CO mempersiapkan para pengungsi dengan memberikan informasi praktis tentang negara tujuan, dan membantu para pengungsi dalam menetapkan tujuan yang realistis dan mengembangkan keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk berhasil dalam lingkungan baru mereka. IOM bekerja erat dengan pemerintah untuk mengidentifikasi pesan dan nilai prioritas utama yang sangat penting bagi keberhasilan pemukiman kembali pengungsi.

Orientasi pra-keberangkatan ini telah dirancang untuk membantu para pengungsi untuk mengembangkan harapan yang realistis dan menjadi mandiri secara lebih cepat. Kursus-kursus oleh IOM multibahasa, pelatih multi-etnis membantu para pengungsi.

  • Organisation of Departure and Travel

Berbagai jaringan IOM yang terhubung di seluruh dunia, terdiri dari staf operasi pergerakan yang berpengalaman, telah didukung oleh perjanjian global dengan maskapai besar yang menawarkan tarif preferensial dan layanan prioritas kepada penumpang IOM, bersama dengan aplikasi manajemen pergerakan dan protokol operasi yang berpemilik, semuanya berfungsi sebagai penjamin untuk memastikan bahwa para pengungsi diangkut dengan lancar dan aman ke tujuan akhir mereka. Mengenai layanan pergerakan untuk pengungsi yang bepergian di bawah naungan IOM mencakup beberapa hal diantaranya,

  1. Memperoleh dokumen perjalanan: izin keluar, visa transit / masuk, paspor, dll.
  2. Orientasi pra-embarkasi: jadwal penerbangan, peraturan maskapai, persyaratan bea cukai, bantuan dalam perjalanan dan pada saat kedatangan, dll.
  3. Transportasi ke dan penanganan penumpang di bandara keberangkatan: bantuan check-in, bantuan untuk bea cukai dan imigrasi formalitas, dll.
  4. Pengaturan tiket udara internasional dan domestik: potongan harga, tunjangan bagasi preferensial, rute tertentu, dll.
  5. Penyediaan pengawalan operasional atau medis: membantu penumpang dengan kebutuhan khusus, memantau dan memenuhi persyaratan medis dalam perjalanan, penghubung dengan staf penerbangan dan otoritas lainnya, dll.
  6. Bantuan dalam perjalanan: akomodasi dan makan sesuai kebutuhan, bimbingan dan arahan untuk menghubungkan penerbangan, penyesuaian pemesanan, dll.
  7. Bantuan kedatangan: bertemu dan membantu layanan pada saat kedatangan, pemberitahuan, dan penyerahan kepada pihak penerima tamu, dll.

Dalam pemindahkan sebagian besar pengungsi, IOM menggunakan layanan udara komersial terjadwal menggunakan perjanjian negosiasi uniknya dengan maskapai penerbangan terkemuka. Namun, IOM juga memiliki perjanjian siaga dengan operator charter udara untuk melakukan operasi pergerakan di lokasi-lokasi terpencil atau di mana sejumlah besar pengungsi harus dipindahkan dengan cepat.

2. Program mingguan bagi para pengungsi (Refugee Week)

Program Refugee Week ini berlangsung setiap tahun dalam seminggu di sekitar Hari Pengungsi Sedunia pada tanggal 20 Juni. Refugee Week merupakan suatu program seni, budaya, dan pendidikan nasional yang merayakan kontribusi para pengungsi ke negara tujuan, dan mendorong pemahaman yang lebih baik di antara masyarakat. Untuk pertama kalinya Refugee Week dimulai sejak tahun 1998 sebagai reaksi langsung terhadap permusuhan di media dan masyarakat secara umum terhadap para pengungsi dan pencari suaka. Namun, untuk Refugee Week saat ini merupakan salah satu inisiatif nasional terkemuka yang bekerja untuk mengatasi iklim negatif tersebut, untuk membela pentingnya perlindungan dan manfaat yang dapat diberikannya bagi para pengungsi dan masyarakat tuan rumah.

Dalam program Refugee Week, berbagai acara telah diadakan oleh berbagai organisasi seni, sukarela, agama dan komunitas pengungsi, sekolah, kelompok siswa dan banyak lagi. Adapun tujuan dari Refugee Week adalah sebagai berikut,

  • Untuk mendorong beragam acara yang akan diadakan, yang memfasilitasi pertemuan positif antara pengungsi dan masyarakat umum untuk mendorong pemahaman yang lebih luas dan mengatasi permusuhan
  • Untuk menunjukkan bakat dan keahlian yang dibawa oleh para pengungsi
  • Untuk mengeksplorasi cara-cara baru dan kreatif dalam menangani isu-isu yang relevan dan menjangkau di luar sektor pengungsi
  • Untuk memberikan informasi yang mendidik dan meningkatkan kesadaran akan realitas pengalaman pengungsi

Dimana, yang menjadi tujuan utama IOM dalam program ini yakni untuk menciptakan pemahaman yang lebih baik antara komunitas yang berbeda serta untuk mendorong kesuksesan integrasi, memungkinkan para pengungsi untuk hidup aman dan terus memberikan kontribusi yang berharga. Sehingga melalui Program Refugee Week, IOM berharap dapat memberikan peluang bagi para pencari suaka dan pengungsi untuk dilihat, didengarkan dan dihargai.

Sebagaimana seperti kisah nyata yang berkaitan dengan program Refugee Week ini, selaku penyedia kursus bahasa, Rosetta Stone akan menyumbangkan kursus bahasa bagi para pengungsi melalui mitra program Refugee Week. Hal ini muncul dari inspirasi oleh karya Mr Eichholz yang tinggal di Hamburg, Jerman, yang menunjukkan bagaimana seorang pria dapat membuat perbedaan besar bagi kehidupan banyak orang di sekitarnya. Sehingga Eichholz memutuskan untuk membantu para pengungsi baru yang tiba di komunitas lokalnya dengan mengajarkan mereka bahasa Jerman.

Kemudian setelah menghubungi Rosetta Stone untuk meminta bantuan untuk menemukan sebuah kesuksesan besar, lalu dibentuklah sebuah kampanye “Buy One” pada program Refugee Week tersebut. Saat ketika Eichholz menyadari akan kebutuhan mendesak bahwa para pengungsi yang tiba di daerahnya memiliki keterampilan bahasa Jerman dan betapa bersemangatnya mereka untuk belajar, Eichholz yang berusia 70 tahun siap untuk bertindak. Dimulai dengan hanya beberapa orang di ruang tamunya, ia mengembangkan proyek, mendapatkan bantuan dari Rosetta Stone dan memindahkan sesi-sesinya ke pusat komunitas setempat. Sekarang dia mengajar hingga 15 orang di kelas masternya untuk bahasa Jerman.

Sumber :

Ardilla Nina. (2018). Intervensi kemanusiaan ICRC terhadap korban konflik Suriah. eJournal Ilmu Hubungan Internasional, 6(2), 404.

Fahham., & M. Kartaatmaja. A. (2014). Konflik Suriah: Akar Masalah dan dampaknya. Jurnal Politica, 5(1), 47-48.

Elisabeth Dewi. (2012). Migrasi Internasional dan Politik Luar Negeri Indonesia. Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional. 9 (1), 5-6.

Lunyka Adelina. Kompleksitas Rezim di Uni Eropa: Upaya Penanganan Pengungsi dan Pencari Suaka. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. 19 (3), 219.

Stivani Ismawira. (2017). Migrants Crisis: Open Door Policy Analysis. Jurnal PIR. 2(1), 3-7.

Scheinert Laura. Collapsing Discourses in refugee Protection Policies: Exploring the Case of Germany’s Temporary Humanitarian Admission Programmes. Movements Journal. 3(1), 130-131.