Gunboat Diplomacy
Diplomasi kapal perang merupakan salah satu bentuk alternatif dalam berdiplomasi (Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)

Gunboat diplomacy atau yang dikenal dengan diplomasi kapal perang adalah sebuah usaha atau aksi yang dilakukan oleh suatu negara dengan penggunaan kekuatan angkatan laut untuk mengatur hubungan internasional tapi tanpa mendeklarasikan peperangan.

Gunboat diplomacy mulai dikenal sejak abad ke 19 yakni ketika kapal-kapal perang negara Eropa bermanuver di sepanjang pantai perairan negara kecil yang akan mereka rebut dengan aksi terus menembakkan meriam ke arah daratan.

Tujuan dari penembakan tersebut adalah untuk mendapatkan pengaruh dan negara sasaran dapat dengan segera menyerahkan diri. Dalam studi hubungan internasional, perkembangan gunboat diplomacy sering kali digunakan oleh negara adikuasa atau super power untuk menguasai negara kecil dengan menggunakan taktik imprealisme.

Negara besar akan terus menggunakan kekuatan militer yang terlihat tidak seimbang dengan terus memanfaatkan kondisi belum adanya hukum internasional yang berlaku dan mengatur sikap negara-negara terutama mengenai intimidasi antar negara di dunia.

Contoh dari gunboat diplomacy adalah kapal perang yang digunakan oleh Amerika dengan tujuan agar negara di Amerika Latin dan Amerika Tengah tidak menentang politik dan kebijakan Amerika.

Khususnya mengenai kebijakan Amerika untuk dapat memperoleh kawasan yang mereka anggap sebagai American Destiny. Taktik diplomasi ini sampai sekarang masih gencar dilakukan oleh Amerika untuk menindas dan mengintimidasi negara kecil yang ada di dunia.

Saat ini Amerika bahkan menggunakan sarana modern dengan armada kapal induk yang beroperasi dan melakukan kegiatan patroli di seluruh samudra. Ketika ketegangan antara China dan Taiwan memuncak saat China melakukan latihan militer di Selat Taiwan, Amerika juga segera mengirimkan kapal induknya ke selat tersebut sebagai bentuk dari deterrence yang ditujukan kepada China agar meredam aksinya untuk menyerbu Taiwan.

Begitu juga jika ada kawasan lain yang bergejolak, seperti sengketa Laut China Selatan yang saat ini sedang memanas, Amerika juga berusaha untuk mengirimkan armada kapalnya untuk mendekati wilayah tersebut.

Melalui kehadiran armada kapal yang berkuatan 12 kapal dan 100 pesawat tempur, upaya gunboat diplomacy yang dilakukan Amerika ini diharapkan memberikan efek deterrence atau menakut-nakuti negara lain yang terlibat dalam sengketa Laut China Selatan. Apalagi saat ini perkembangan hubungan internasional dan kekuatan dunia sudah beralih menuju ke arah kekuatan multipolar.

Negara-negara yang dahulu dikenal sebagai korban dari gunboat diplomacy seperti Korea Selatan, India, dan China juga sudah melakukan hal yang serupa untuk mengintimidasi negara lain demi mencapai kepentingan nasional negara masing-masing.

Gunboat diplomacy dipandang sebagai taktik modern yang dapat digunakan oleh negara maju maupun negara berkembang dalam rangka mencapai tujuan. Dimana dalam gunboat diplomacy selalu menggunakan prinsip yakni mengejar dan mendapatkan suatu tujuan atau kepentingan dengan upaya memaksa negara lain tanpa menimbulkan konflik atau memakan dana yang begitu besar.

Baca Juga : Diplomasi Kuliner

Prinsip tersebut tidak pernah ditinggalkan dan tidak pernah berubah, tetapi yang saat ini berubah adalah strategi atau karakter yang digunakan negara dalam melakukan misi dengan armada kapal perang. Misalnya, angkatan laut Iran menunjukkan kemampuan mereka dalam menembakkan rudal dari kapal selam ke kapal permukaan.

Tujuan dari latihan ini adalah untuk mengirimkan informasi ke negara lain terutama negara yang suka melintasi Selat Hormuz, bahwa Iran mampu menutup selat tersebut apabila ia merasa terancam. Selat Hormuz merupakan selat yang sangat penting dan strategis dalam diplomasi maritim Timur Tengah terutama untuk AS dan sekutunya.

Beberapa hari dari latihan yang dilakukan oleh angkatan laut Iran, kapal terbesar angkatan laut AS dengan dikawal kapal angkatan laut Inggris dan Prancis berlayar melintasi Selat Hormuz tersebut.

Pelintasan yang dilakukan AS dan sekutunya tersebut menyampaikan misi bahwa AS mampu memberikan respons cepat khususnya untuk menghadapi Iran. Aksi yang dilakukan oleh Iran dan AS dengan sekutunya tersebut merupakan bentuk dari gunboat diplomacy yang terjadi dalam hubungan internasional kontemporer.

Tujuan dari kegiatan pelintasan tersebut adalah sama, yakni untuk saling unjuk kekuatan dan memengaruhi opini pemimpin dan pengambil kebijakan di negara lain.

Gunboat diplomacy ini juga terjadi di Kawasan Asia, seperti USS George Washington yang berpartisipasi dalam latihan bersama Invicible Spirit di Laut Jepang. Latihan bersama ini dilakukan untuk memberikan jawaban atas terjadinya insiden tenggelamnya kapal Konvet Cheonan yang diketahui adalah milik angkatan laut Korea Selatan.

Latihan bersama yang dilakukan Jepang dan Korea Selatan ini merupakan bentuk respons untuk menunjukkan kemampuan dan kekuatan yang sekaligus menunjukkan niat AS dalam membantu Korea Selatan dari ancaman potensi yang diberikan oleh Korea Utara.

Gunboat diplomacy merupakan karakteristik diplomasi yang sering terjadi di Asia. Mengingat di kawasan ini sering terjadi operasi angkatan laut. Selain terjadi di Asia, gunboat diplomacy juga masih sering terjadi di seluruh dunia. Hanya saja gunboat diplomacy yang terjadi saat ini adalah dengan menerapkan kemajuan teknologi militer, seperti penggunaan drone, satelit, dan juga rudal.