diplomasi digital
diplomasi digital adalah sebuah seni jenis baru untuk melakukan diplomasi publik (Foto: Ahmad Said Rifqi/reviewnesia.com)

Covid-19 merupakan sebuah pandemi yang menular karena diakibatkan oleh adanya virus corona, yaitu sebuah virus jenis virus baru. Wabah Covid-19 tidak hanya menjadi isu etnis di suatu negara, tetapi juga isu global. Virus ini didapatkan pertama kali di wilayah Wuhan China, pada tahun 2019 kemudian di diagnosa sebagai pandemi yang mengenai organ tubuh manusia yaitu adalah sistem pernafasan. Penyebaran virus corona ini sangat cepat dan juga mematikan. Selain itu rasa yang timbul apabila terpapar virus corona ini yaitu diantaranya demam, lelah, dan batuk kering. Kemudian pasien yang terpapar virus corona ini juga merasakan nyeri, sakit dibagian tubuh, hidung tersumbat, flu, sakit tenggorokan atau diare yang datang secara silih berganti .

Merujuk pada sebuah data rata-rata pasien yang dapat terkonfirmasi Covid-19 kisaran usia 30 sampai 89 tahun. Terhitung dari tanggal 22 mei 2020, menurut WHO sudah ada 4,9 juta kasus manusia diberbagai negara terkonfirmasi Covid-19. Di waktu yang sama Covid-19 telah merenggut nyawa manusia disebagian dunia yaitu sekitar 327 ribu. Pada umumnya gejala yang muncul akibat terpapar Covid-19 akan timbul dalam kisaran waktu 2 hari sampai dengan 2 minggu. Pandemi Covid-19 bukan satu-satunya pandemi yang terjadi di dunia ini.

Baca Juga: Eksistensi Indonesia Melalui Diplomasi 4+1

Ada berbagai macam pandemi yang sudah terjadi sebelum virus corona ini menyerang, yaitu seperti pandemi Flu Babi yang di akibatkan oleh virus H1N1 terjadi di tahun 2009, sekitar 1,4 milyar manusia di dunia terpapar virus ini bahkan virus ini sampai membunuh hingga beribu-ribu manusia. Selain itu, dunia juga digemparkan dengan adanya pandemi Spanish Flu yang muncul di tahun 1918-1920 yang menginfeksi kurang lebih 500 juta manusia di dunia. Kemudian dari pada itu, dalam catatan sejarah pandemi terparah terjadi pada saat pandemi Black plague (the plague) atau sering disebut dengan Black Death, lebih dari setengah penduduk benua Eropa meninggal dunia akibat terinfeksi virus ini.

Berbagai tindakan telah dilakukan tetapi masih banyak negara yang kesulitan untuk mengatasi dampak dari adanya Covid-19, yaitu salah satu tindakannya dengan cara menekan laju penyebaran atau sering disebut dengan flattening the curve. Sebagian negara telah mendeklarasikan keberhasilannya dalam menangani kasus Covid-19, akan tetapi sebagian besar juga masih berkerja keras dalam mengatasi pandemi Covid-19. Adanya era globalisasi inilah yang menjadikan teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat kearah lebih modern. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membawa sebuah media baru yang bisa dihubungkan dengan pemakaian jaringan internet dan memperluas koneksi komunikasi yang bisa di akses oleh manusia.

Diplomasi adalah proses negosiasi dan komunikasi antar negara, tujuannya untuk menyelesaikan konflik tanpa menggunakan perang. Selain itu diplomasi digital adalah sebuah seni jenis baru untuk melakukan diplomasi publik, dengan memanfaatkan adanya perkembangan teknologi modern terutama pada bidang infomasi dan komunikasi melalui jaringan internet yang merupakan menjadi sebuah elemen utama. Selain itu diplomasi digital juga didefinisikan sebagai suatu jawaban dari dunia diplomasi yang mampu menerapkan teknologi modern dan jaringan internet. Seiring dengan adanya globalisasi dimana semua tertuju pada era digitalisasi modern dan menjadi sebuah alasan utama terjadinya perubahan dalam dunia diplomasi publik.

Hadirnya diplomasi digital ini menegaskan betapa pentingnya pemakaian media sosial dan diplomasi digital sering kali disebutkan dengan nama lain yaitu diantaranya e-diplomacy, cyber diplomacy, dan juga twiplomacy. Peran diplomasi digital yaitu salah satunya dengan adanya penggunaan sosial media dan teknologi informasi yang bertujuan untuk menambah jaringan dalam diplomasi serta menumbuhkan hubungan yang strategis. Untuk itu dalam artikel ini penulis akan memaparkan bagaimana peran diplomasi digital yang di jalankan oleh Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dimasa pendemi, serta akan menjelaskan tentang sebuah aplikasi yang bernama safe travel dan bagaimana manfaatnya bagi warga negara Indonesia.

Diplomasi Digital Indonesia di PBB masa Pandemi COVID-19

Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk PBB di New York sudah mulai mengambil kebijakan yaitu mitigasi resiko penyebaran Covid-19 di New York, Amerika Serikat sejak tanggal 13 maret 2020. ).  Kebijakan itu sejalan dengan saran PBB yang di sampaikan oleh Antonio Gutteres merupakan seseorang sekretaris jendral PBB, wabah Covid- 19 sebagai isu global. PBB menekankan jika Covid-19 yang mejadi isu yang terhubung ke seluruh manusia di dunia serta butuh donasi dari bermacam Negeri untuk berkolaborasi dalam menanggulangi kasus ancamaan tersebut secara bersama.

Baca Juga  4 Teori Integrasi dalam Regionalisme

Kedutaan besar Indonesia untuk PBB di New York memberitahukan juga bahwa semua staff mereka akan bekerja secara daring di rumah masing-masing terkecuali bagi para petugas yang berkepentingan. Walaupun kondisi seperti ini mereka memastikan semua pekerjaan dapat ditangani dengan efektif.

Hal terpenting yang menjadi prioritas kedutaan besar Indonesia untuk PBB di New York dalam situasi Covid-19 yaitu mengutamakan perlindungan WNI yang berada diluar negeri. Tepat pada tanggal 18 maret 2020, seluruh kantor kedutaan besar Indonesia khususnya di Amerika Serikat bekerjasama untuk melakukan koordinasi dalam menanggapi dampak dari penularan Covid-19. Selain keduataan besar Indonesia di Amerika Serikat, kedutaan besar Indonesia di Washington DC, Francisco, dan KJRI Houton melakukan hal yang sama.

Perlindungan WNI yang berada di luar Negeri ketika masa Covid-19, dilakukan sebuah cara yaitu dengan menggunakan sebuah aplikasi digital yang terintegrasi oleh  perwakilan Indonesia yang bernama safe-travel. Aplikasi tersebut menyediakan berbagai pemberitahuan dan informasi terbaru yang dibutuhkan oleh WNI selama berada di luar negeri.

Pada tanggal 19 Mei 2020, Indonesia berpartisipasi dalam pertemuan virtual ECOSOC Operational Activities Segment (OAS) untuk mendiskusikan laporan Sekretaris Jenderal PBB terkait Quadrennial Comprehensive Policy Review (QCPR) dan United Nations Development System (UNDS). QCPR adalah mekanisme untuk menilai keefektifan, efisiensi, koherensi, dan dampak dari aktivitas operasional PBB dalam pembangunan internasional. Sedangkan UNDS adalah cara kerja PBB untuk membantu negara-negara dalam mencapai pembangunan berkelanjutan.

Duta Besar Mohammad Koba menekankan tiga hal dalam pertemuan tersebut: 1) UNDP harus mengumpulkan seluruh sumber daya secara terkoordinasi dan terintegrasi untuk mempercepat implementasi pembangunan berkelanjutan melalui rekomendasi kebijakan dan program yang berorientasi pemecahan masalah; 2) UNDP sebaiknya tetap menjalankan UNDS dengan arsitektur kawasan dan kantor di berbagai Negara yang sudah ada; serta 3) UNDP sebaiknya memberikan dukungan berbasis permintaan untuk membantu Negara-negara dalam menghadapi situsi pandemi global COVID-19 serta pembangunan kembali masyarakat setelah pandemi. Tiga hal ini mewakili pandangan Indonesia yang menekankan pendekatan untuk melawan pandemi global COVID-19 dan pembangunan masyarakat yang lebih baik dan tangguh.

Aplikasi Safe Travel Sebagai Upaya Diplomasi Digital Indonesia

Aplikasi Safe Travel dibuat dan dikelola oleh Kementerian Luar Negeri RI. Aplikasi ini berisi tentang informasi praktis yang dibutuhkan oleh Warga Negara Indonesia (WNI) yang akan atau sedang berada di luar Negeri dengan berbagai keperluan masing-masing (wisata, studi, TKI, bisnis, dan lain sebagainya.​ WNI dapat mengakses informasi berkaitan dengan negara tujuan yang meliputi: perbedaan waktu, kondisi keamanan, hukum dan kebiasaan setempat, persyaratan keimigrasian, kesehatan, pelayanan di KBRI/KJRI/KRI, serta kuliner Indonesia hingga tempat ibadah.

Baca Juga  Krisis Minyak Brunei Dan Dinamika Dalam Agenda Reformasi Syariah

Selain mendaftarakan perjalanan bagi WNI yang akan atau sedang berada di luar negeri, WNI juga mendapatkan pemberitahuan berupa himbauan, saran, ataupun peringatan yang berkaiatan dengan negara tujuan. Dengan aplikasi safe travel ini WNI dapat mengakses informasi dan pelayanan yang sudah disediakan oleh KBRI/KJRI/KRI. Dengan aplikasi tersebut WNI tidak lagi khawatir jika paspor hilang atau hal lain yang tidak diinginkan selama berada di luar negeri.

WNI hanya cukup mengikuti petunjuk dan persyaratan dalam aplikasi untuk mendapatkan dokumen pengganti. Safe Travel mempunyai fitur darurat, yang dapat dipergunakan untuk meminta pertolongan darurat atau cepat dalam kondisi yang mebahayakan dengan cara mengirimkan lokasi, merekam video dan menelpon KBRI/KJRI/KRI terdekat dan melaporkan kejadian yang alami.

Sumber :

Archika, N. D. (2020). Makalah Corona Virus Disease-19. https://doi.org/10.31219/osf.io/vydbg

Bainus, A., & Budi Rahcman, J. (2020). Editorial: Pandemi Penyakit Menular (Covid-19) Hubungan Internasional. Intermestic: Journal of International Studies, 4(2), 111. https://doi.org/10.24198/intermestic.v4n2.1

Dharossa, T., & Rezasyah, T. (2020). Upaya Perlindungan WNI oleh Pemerintah Indonesia melalui Pendekatan Diplomasi Digital (2014-2019). Padjadjaran Journal of International Relations, 2(1), 105. https://doi.org/10.24198/padjir.v2i1.26055

Digital, P., Kurniawati, E., Rachmawati, I., & Dewi, M. A. (2020). @ KemluRI : Diplomasi Publik Digital ? Erna Kurniawati , Iva Rachmawati , Machya Astuti Dewi | @ KemluRI : Diplomasi Publik Digital ? Pendahuluan Ide Habermas mengenai komunikasi dan kesadaran nampaknya memberi pengaruh signifikan dalam perkembangan diplo. IX(1), 83–99.

Dwikardana, S., Valerisha, A., & Yazid, S. (2018). Implementasi Diplomasi Digital Indonesia : Studi Kasus Pekerja Migran Indonesia Di Luar Negeri. 2016330027.

Glass, C. A., Cash, J. C., & Mullen, J. (2020). Coronavirus Disease (COVID-19). Family Practice Guidelines, October. https://doi.org/10.1891/9780826153425.0016b

Handayani, D. (2020). Penyakit Virus Corona 2019. Jurnal Respirologi Indonesia, 40(2), 129.

Herliandry, L. D., Nurhasanah, Suban, M. E., & Heru, K. (2020). Transformasi Media Pembelajaran Pada Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Teknologi Pendidikan, 22(1), 65–70. http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/jtp

MANDALA : Diplomasi Digital Sebagai Dampak Pandemi Global Covid-19 : Studi Kasus MANDALA : 1–6.

Indonesia, G. P., Pratama, R. E., Mulyati, S., Komering, O., Timur, U., Pendidikan, D., Ogan, K., Ulu, K., Ulu, O. K., Komering, O., Timur, U., Selatan, S., & Luring, P. (2020). Pembelajaran Daring dan Luring pada Masa Pandemi Covid-19. 1(2), 49–59. https://doi.org/10.30870/gpi.v1i2.9405

Kurnia, A., Nasution, P., Tengah, A., Tengah, K. A., & Author, C. (2020). Https://Doi.Org/10.24036/Tip.V13I1. 13(277).

Lie, L. D. J. (2020). Dampak Pandemi Terhadap Mobilitas Manusia Di Asia Tenggara. Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional, (0), 75–83. https://doi.org/10.26593/jihi.v0i0.3862.75-83

Ningsih, S. (2020). Persepsi Mahasiswa Terhadap Pembelajaran Daring Pada Masa Pandemi Covid-19. JINOTEP (Jurnal Inovasi Dan Teknologi Pembelajaran): Kajian Dan Riset Dalam Teknologi Pembelajaran, 7(2), 124–132. https://doi.org/10.17977/um031v7i22020p124

Radiananti, B. D. (2020). Diplomasi Digital dan Implementasi Aplikasi Safe Travel di Kementerian Luar Negeri. PESIRAH: Jurnal Administrasi Publik, 1(1), 1–11. http://sij-idp.ejournal.unsri.ac.id/index.php/jap%0AVolume

Syafrida, S. (2020). Bersama Melawan Virus Covid 19 di Indonesia. SALAM: Jurnal Sosial Dan Budaya Syar-I, 7(6). https://doi.org/10.15408/sjsbs.v7i6.15325

Syah, R. H. (2020). Dampak Covid-19 pada Pendidikan di Indonesia: Sekolah, Keterampilan, dan Proses Pembelajaran. SALAM: Jurnal Sosial Dan Budaya Syar-I, 7(5). https://doi.org/10.15408/sjsbs.v7i5.15314

Penulis:

*) Penulis adalah Karyati, Akademisi Hubungan Internasional Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA)
**) Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi reviewnesia.com