SDG's
Pencapaian Sustainable Development Goals (SDG’s) pasca pandemi. (Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)

Himpunan Mahasiswa Program Studi Korps Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Potensi Utama (HMPS KOMAHI-UPU) sukses menyelenggarakan kegiatan Forum Diskusi II pada Senin (19/04/2021).

Diskusi Ilmiah mengangkat tema “Tantangan Mewujudkan Agenda Pembangunan Global di Level Lokal Pasca Pandemi” yang menghadirkan Ketua Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Asra Virgianita sebagai pemateri. Kegiatan dipandu oleh Intan Rodiah Gusman yang juga diikuti oleh jajaran dosen dan mahasiswa dari Hubungan Internasional UPU.

Asra mengutip dua kata kunci dalam dimensi pembangunan global era kontemporer saat ini yakni proses dan perubahan. Kedua kata tersebut menjelaskan bahwa dewasa ini isu pembangunan global tidak lagi terbatas pada masalah kemiskinan dan ketidaksetaraan.

Tetapi ada yang lebih dominan dan menjadi perhatian dunia internasional, isu lingkungan hidup. Melalui kerangka Sustainable Development Goals (SDG’s), manusia di bumi harus memperhatikan agar pembangunan yang terjadi tidak memberikan dampak negatif bagi manusia dan generasi yang akan datang. Sebab, lingkungan hidup adalah variabel yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan manusia.

Jika menilik aktor yang berperan dalam pembangunan saat ini, sudah tidak terbatas pada aktor pemerintah pusat atau negara sebagai aktor resmi. Tetapi juga sudah melibatkan berbagai institusi internasional, pemerintah sub-nasional (pemerintah provinsi, kota, dan kabupaten), LSM, yayasan, dan sociopreneurs.

SDG’s sendiri merupakan kelanjutan dari beberapa perjanjian internasional mengenai lingkungan sebelumnya. Perjanjian-perjanjian yang lebih dulu diadopsi oleh masyarakat internasional adalah UN Summit on Human Environment 1972, Earth Summit 1992, dan Millennium Development Goals (MDGs) 2000.

Baca Juga : 4 Faktor Penggerak Pembangunan Indonesia Melalui Skenario Transformatif 2045

Sebagai penerus langsung dari MDG’s, SDG’s memperbaiki beberapa catatan khusus selama pengimplementasian MDG’s. Di antaranya adalah kurang terlibatnya masyarakat sipil dan berbagai stakeholder selain negara dalam mewujudkan agenda pembangunan.

Baca Juga  7 Fakta Menarik Mengenai Kawasan Asia Pasifik

SDG’s memiliki sifat partisipatoris, komprehensif, dan ambisius. Tujuan-tujuan dalam SDG’s juga lebih banyak, yaitu sebanyak 17 tujuan dibandingkan dengan MDG’s yang hanya 8 tujuan.

Asra menjelaskan, bahwa pemerintah Indonesia sendiri sudah berupaya untuk mencapai SDG’s. Pemerintah sudah mencoba mengarusutamakan SDGs ke dalam RPJMN 2015-2019 dan RPJMN 2020-2024 yang melingkupi seluruh aspek pembangunan di Indonesia. Pemerintah melalui Perpres No. 59 tahun 2017 juga telah mengatur pencapaian SDG’s di Indonesia.

Sementara itu di tingkat lokal, beberapa daerah telah memiliki Rencana Aksi Daerah (RAD) SDG’s. Pemerintah juga telah membangun SDG’s Center di berbagai kampus di Indonesia. Namun, Asra mengatakan bahwa pada saat ini kampus-kampus tersebut masih berpusat di Jawa, meskipun ada beberapa yang berada di luar Jawa seperti Universitas Hasanuddin.

Upaya pencapaian SDGs di tingkat lokal, khususnya kota memiliki pengaruh yang sangat signifikan. Hal ini dikarenakan menurut UNDP, sebanyak 55% populasi dunia pada saat ini merupakan penduduk kota.

Dalam konteks lingkungan, meskipun hanya mencakup 3% dari total luas daratan di bumi, namun kota menyumbang 60 hingga 80 persen dari total konsumsi energi dan setidaknya 70 persen dari emisi karbon.

Mengakhiri paparannya, Asra menjelaskan beberapa tantangan pencapaian SDG’s di level lokal pada masa pasca pandemi. Menurut Asra, setidaknya terdapat 7 tantangan yang harus dihadapi, yaitu pengimplementasian program dari pemerintah, kurangnya kesadaran masyarakat, pengolahan sumber daya, pelemahan ekonomi dan fiskal, rendahnya inovasi, melambatnya pembangunan infrastruktur pendukung, dan meningkatnya ketidaksetaraan.

Asra mengajukan beberapa solusi yang dapat diambil untuk menjawab tantangan-tantangan di atas. Pertama, menurut Asra pemerintah harus terus dan bahkan meningkatkan pengarusutamaan SDG’s beserta melakukan pemantauan secara berkelanjutan.

Baca Juga  10 Negara Mengalami Resesi Ekonomi Akibat Covid-19

Kedua, bahwa sosialisasi SDGs yang terstruktur dan masif juga harus terus dilakukan oleh seluruh stakeholder kepada masyarakat. Ketiga, dibutuhkan kolaborasi antara sektor publik dan privat. Kolaborasi ini dapat dilakukan dalam beberapa sektor, seperti pengolahan sumber daya, inovasi, pembukaan lapangan kerja, kewirausahaan berbasis kearifan lokal, dan pembangunan infrastruktur.

Keempat, Asra menilai bahwa peran LSM dan universitas lokal dapat dioptimalisasi untuk membangun kesadaran atas pencapaian SDG’s dan pemberdayaan di level lokal. Serta, kolaborasi antar pemerintah daerah dapat lebih ditingkatkan, terutama bagi daerah-daerah yang berdekatan secara geografis.

Penulis :

*) Penulis adalah Hafizh Nabiyyin Sekretaris Umum HMPS KOMAHI-UPU
**) Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi reviewnesia.com