pemikiran johan galtung
Pemikirannya mengenai kekerasan juga dikaitkan dengan gender (Foto: Siska Silmi/ reviewnesia.com)
1 Shares

Johan Galtung menjadi salah satu seorang pemikir yang sangat penting dengan pandangannya mengenai kekerasan. Pemikirannya mengenai kekerasan juga dikaitkan dengan gender. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya para akademisi, para politisi, dan juga pihak lainnya seperti organisasi internasional yang menggunakan karyanya sebagai sebuah rujukan. Pemikirannya mengenai kekerasan terinspirasi dari Mahatma Gandhi. Seorang tokoh dari India yang berjuang untuk mengupayakan perdamaian. Dalam pemikirannya mengenai kekerasan, Johan Galtung menjelaskan beberapa tipe kekerasan yang meliputi, kekerasan langsung, kekerasan struktural, dan kekerasan kultural.

Hasil pemikirannya ini bahkan telah berhasil menjadi rujukan dalam sebuah studi perdamaian dan resolusi konflik yang salah satunya telah dipelajari oleh para akademisi Hubungan Internasional. Pemikirannya yang luar biasa ini juga telah Ia praktekkan ketika menjadi pengajar dalam studi perdamaian di berbagai universitas. Bahkan, Galtung pernah menjadi seorang negosiator dalam sejumlah konflik besar di dunia. Seperti, konflik antara Korea Selatan dan Korea Utara, konflik Israel dan Palestina, dan lain sebagainya.

Dalam menjelaskan mengenai kekerasan, Galtung menggambarkannya melalui apa yang disebut dengan “Segitiga Kekerasan”. Pemikirannya mengenai kekerasan ini merupakan sumbangsih terhadap gerakan kaum feminis yang berupaya untuk menumbuhkan kesadaran akan adanya kekerasan terhadap perempuan. Oleh karena itu, melalui pemikirannya, Galtung berusaha untuk mengubah kekerasan terhadap perempuan yang sering dilakukan menuju kondisi yang damai. Menurut Galtung, kekerasan merupakan setiap kondisi fisik, emosional, verbal, institusional, struktural atau spiritual, juga perilaku, sikap, kebijakan atau kondisi yang melemahkan, mendominasi atau menghancurkan diri kita sendiri dan orang lain. Berikut jenis kekerasan menurut pemikiran Johan Galtung :

Baca Juga: 3 Pemikiran Niccolo Machiavelli

1. Kekerasan Langsung

Menurut Galtung, kekerasan langsung bisa bermacam-macam bentuknya. Dalam bentuk yang klasik, Galtung melibatkan penggunaan kekuatan fisik, seperti pembunuhan atau penyiksaan, pemerkosaan dan kekerasan seksual. Galtung juga menggambarkan kekerasan langsung sebagai gangguan yang harusnya dihindari terkait dengan kebutuhan dasar manusia, kebutuhan untuk hidup layak, sesuatu yang menurunkan tingkat kepuasan kebutuhan riil di bawah potensi yang ada.

Galtung mempunyai perhatian khusus terhadap kekerasan berbasis gender dengan menyebut pemerkosaan, intimidasi, dan menindas adalah sebagai bagian dari kekerasan langsung. Galtung banyak melihat fakta bahwa fenomena kekerasan langsung merupakan fenomena laki-laki, di mana hampir semua kekerasan dilakukan oleh laki-laki dan menjadikan perempuan sebagai korbannya. Kekerasan yang terjadi para perempuan adalah langsung dan bersifat pribadi, yang bisa dialami oleh perempuan yang berada di ruang publik maupun ruang yang tertutup seperti rumah.

Meskipun perempuan sering kali menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki, dengan adanya struktur dan kultur di masyarakat, akhirnya membuat perempuan merasa kekerasan adalah hal yang perlu dan tidak bisa dihindari. Menurut Galtung, laki-laki melakukan kekerasan di semua tingkatan sosial, berupa kekerasan kriminal dalam keluarga dan masyarakat, juga sebagai kekerasan politik di dalam dan di antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya. Bahkan, Galtung menyebutkan perempuan yang ikut serta dalam aktivitas kekerasan politik dan terorisme, juga disebabkan oleh pengaruh laki-laki. Demikian pula ketika perempuan terlibat dalam pasukan militer dan menjadi tentara, laki-lakilah yang akan memberikan perintah untuk melakukan kekerasan, bahkan pembunuhan jika diperlukan.

2. Kekerasan Struktural

Menurut Galtung, kekerasan struktural merupakan kekerasan yang tidak dilakukan oleh individu tetapi tersembunyi dalam struktur yang lebih kecil maupun yang lebih luas. Tragedi eksploitasi merupakan bagian utama dari kekerasan struktural. Struktur yang bersifat patriarki juga telah menempatkan laki-laki pada posisi tingkat atas, dan karenanya ia mendapatkan keuntungan yang sesungguhnya dari posisinya tersebut.

3. Kekerasan Kultural

Menurut Galtung, kekerasan kultural sebagai sikap yang berlaku dan keyakinan kita yang telah diajarkan sejak kecil dan mengelilingi kita dalam kehidupan sehari-hari tentang kekuasaan dan kebutuhan kekerasan. Patriarki merupakan bagian utama dari kekerasan kultural. Hal tersebut mengakibatkan terbentuknya sikap yang berlaku dan keyakinan yang telah diajarkan sejak manusia lahir dan mengelilingi manusia dalam kehidupan sehari-hari tentang kekuasaan dan kebutuhan kekerasan. Kekerasan kultural ini menimbulkan kekerasan langsung dan kekerasan struktural terlihat sebagai sesuatu yang benar untuk dilakukan. Salah satu cara kekerasan kultural berjalan yaitu dengan cara mengubah kebiasaan moral dari salah menuju benar. Seperti contohnya, membunuh atas nama negara adalah tindakan yang benar, sedangkan membunuh atas nama pribadi adalah hal yang salah.

1 Shares