Neorealisme
Neorealisme, perspektif utama dalam kajian hubungan internasional. (Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)

Salah satu perspektif utama dalam kajian Hubungan Internasional kontemporer adalah Neorealisme. Asumsi sederhana neorealisme tentang anarki dan struktur sistem internasional di dalam perkembangan perspektif neorealisme menjadi dasar penjelasan tentang perilaku negara.

Termasuk struktur politik internasional, agenda-agenda dalam hubungan internasional, dan bagaimana kaum neorealisme menjelaskan secara teoritik tentang tata cara agar stabilitas dan perdamaian dunia tercapai.

Menurut Waltz, meskipun negara memiliki perbedaan dalam perilaku internasional, tetapi ada persamaan yang mendasari perilaku negara. Jika realisme klasik berpandangan bahwa perilaku negara sebagai wujud dari perilaku manusia, maka neorealisme memperjelas bahwa perilaku negara berlandaskan struktur sistem internasional.

Neorealisme berusaha menjelaskan peta besar dari politik internasional dengan melihat kondisi sistem dan struktur internasional daripada menjelaskan setiap perilaku negara. Menurut Waltz, perilaku negara sangat dipengaruhi oleh adanya sistem politik internasional.

Dimana politik internasional sendiri diartikan sebagai struggle for power dengan memberikan penekanan dan menjelaskan bahwa perilaku negara yang cenderung anarki dan konfliktual dengan tujuan agar dapat survive dan tetap eksis di mata dunia.

Neorealisme muncul sebagai kritik akan ketidakpuasan terhadap premis atas dasar yang menyatakan bahwa asumsi pemikiran realisme selalu mengindikasikan human nature sebagai penjelasan atas berbagai konflik dan perebutan kekuasaan dalam hubungan internasional yang bersifat anarki1.

Baca Juga : 3 Pandangan Khusus Kenneth Waltz dalam Neorealisme

Menurut pandangan kaum neorealisme, sifat dasar manusia yang egois dan selalu mengejar kekuasaan tidak berdampak besar pada perilaku negara dalam dunia politik internasional. Hal yang paling berpengaruh adalah struktur anarki internasional. Struktur ini memaksa negara untuk bertindak agresif dalam memperjuangkan kepentingan nasionalnya.

Neorealisme, dalam pandangan asumsi dasar realisme klasik, menganggap struktur internasional adalah anarki. Hal tersebut ditandai dengan tidak adanya otoritas internasional yang kuat untuk mengatur relasi antara tiap negara.

Baca Juga  3 Teori Utama dalam Ekonomi Politik Internasional

Pada kondisi anarki, potensi negara melakukan perang dan tingkat agresivitas yang tinggi untuk menyerang atau diserang oleh negara lain tidak dapat diperkirakan dan bisa terjadi kapan pun. Kondisi ketidakpastian dan kekhawatiran yang dialami semua negara dalam politik internasional menyebabkan setiap negara berusaha untuk meningkatkan kapabilitas keamanan (security) dan/atau kekuatan (power).

Mearsheimer mengatakan bahwa yang dimaksud dengan power adalah kapabilitas material yang sepenuhnya dikendalikan oleh negara. Neorealisme sepakat dengan realisme klasik yang berpandangan bahwa kekuatan militer dan kekuatan ekonomi adalah faktor utama penentu kualitas power suatu negara.

Maka, menurut neorealisme, negara yang kuat adalah negara yang mempunyai kapasitas kekuatan militer dan kekuatan ekonomi. Namun tidak semua tokoh dan kaum neorealisme memiliki pandangan yang sama mengenai tolak ukur seberapa besar kekuatan yang harus dimiliki Negara.

Kenneth Waltz berpandangan bahwa negara tidak harus mengejar kekuatan sebagai hegemoni  berlebihan di panggung dunia internasional. Hal tersebut disebabkan karena sistem internasional dapat menjadi anarki dan  mendorong aktor lain merasa terancam dan berbalik menyerang negara tersebut.

Dalam hal ini Kenneth Waltz dikenal dengan realisme defensif dimana negara seharusnya lebih bersifat soft dan menahan perilakunya untuk tidak meningkatkan kapabilitas power. Namun realisme defensif juga berpandangan bahwa pada level tertentu kekuatan sangat dibutuhkan untuk dapat bertahan dan sebagai alat untuk mencapai tujuan.

Berbeda dengan Waltz, Marsheimer justru berpandangan bahwa kekuatan militer dan ekonomi adalah alat negara yang harus dimiliki untuk mencapai tujuan. Setiap interaksi dan perilaku negara dalam mengeluarkan kebijakan harus bertujuan mencapai kekuatan maksimal.

Pemikiran Mearsheimer dikenal sebagai offensive realism yang memosisikan neorealisme dalam setiap interaksi negara untuk mencapai hegemoni. Terdapat dua akibat dari sistem internasional yang anarki. Akibat pertama, tidak ada lembaga hukum atau otoritas yang mampu memberikan jaminan keamanan kepada masing-masing negara.

Baca Juga  Analisa Konflik Krisis Ossetia

Menurut pandangan Rousseau, keadaan dan situasi kondisi sistem politik internasional yang anarki menciptakan munculnya rasa takut, kekhawatiran, curiga, dan sikap tidak aman dari setiap negara2.

Kondisi tersebut memunculkan akibat kedua, yaitu relevansi dari self-help, bahwa setiap negara harus mampu menolong dirinya sendiri dan tidak bergantung dengan negara lain. Waltz berpendapat bahwa keadaan anarki sistem internasional memaksa setiap negara untuk melakukan apapun yang dibutuhkan untuk menjamin keamanan negaranya.

Walaupun dengan konsekuensi peningkatan kemungkinan konflik antar negara karena adanya peningkatan kekuatan. Dalam pandangan sederhana Waltz, negara dipaksa oleh kondisi sistem internasional yang anarki untuk selalu meningkatkan power dalam bidang keamanan.

Sumber Referensi

Mearsheimer, John J., (2001), The Tragedy of Great Power Politics. W.W. Norton.

Dunne, Tim & Schmidt, Brian C., (2014), “Realism”, dalam John Baylis, et al, The Globalization of World Politics: An Introduction to International Relations, (ed.), 6th edition, Oxford University Press.

Waltz, Kenneth, (1979), Theory of International Politics, McGraw Hill.