Liberalisme Institusional
Liberalisme institusional berfokus pada institusi internasional (Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)

Liberalisme menggambarkan hubungan internasional sebagai arena negara-negara dan aktor-aktor non-negara lainnya yang saling berinteraksi. Tidak seperti halnya perspektif realis, yang memiliki sudut pandang bahwa negara sebagai aktor utama, perspektif liberal memandang bahwa aktor-aktor non-state juga memiliki peran sangat penting dalam percaturan politik global. Oleh karena itu, liberal memandang pluralisme sosial adalah sebuah kenyataan yang harus diterima dalam percaturan politik global.

Para pendukung perspektif liberal menekankan aksi dan kepentingan individu maupun kelompok yang dapat berkontribusi dalam sebua aksi dan berbagai kepentingan negara. Bagi perspektif liberal, kompetisi yang terjadi dalam hubungan internasional atau hubungan antar negara adalah suatu fenomena nyata yang melibatkan berbagai aktor.

Adapun beberapa bagian-bagian penting yang diyakini dapat mendukung fasilitasi kepentingan individu dan juga kelompok serta negara, yaitu berdirinya institusi politik. Para teoritisi perspektif liberalisme percaya bahwa, di dalam sistem yang bersifat anarki, kerja sama merupakan cara terbaik untuk menuju tercapainya sebuah kepentingan bersama. Untuk itulah maka kehadiran organisasi-organisasi baik di tingkat regional maupun internasional sangat dibutuhkan.

Woodrow Wilson menyatakan tentang mengubah hubungan internasional dari perumpaan ‘hutan politik’ yang digambarkan dengan sistem kekuasaan yang anarki dan berganti ke ‘kebun binatang’ yang digambarkan dengan pergaulan yang erat satu sama lain dan teratur sehingga tercipta kondisi yang damai. Perubahan tersebut dicapai melalui pembentukan organisasi internasional, salah satu contoh yang dapat kita lihat adalah Liga Bangsa-Bangsa.

Para teoritisi kaum liberal institusional setuju bahwa institusi internasional dapat membuat kerja sama lebih mudah dan jauh lebih memungkinkan, tetapi mereka tidak menyatakan bahwa institusi internasional dapat menjamin transformasi hubungan internasional dari yang awalnya digambarkan seperti ‘hutan’ menjadi ‘kebun binatang’.

Baca Juga  Diplomasi Masker China di Asia Tenggara

Kaum liberal institusional memfokuskan perhatiannya pada fungsi hukum dan peran institusi internasional, dengan tesis yang menyatakan bahwa hukum dan institusi internasional mendorong penyesuaian dan kerja sama internasional.

Baca Juga : 10 Citra Dan Perdebatan Dalam Teori Hubungan Internasional

Institusi internasional dapat berupa organisasi-organisasi internasional formal yang mewakili negara-negara, tetapi juga aturan-aturan resmi, kesepakatan-kesepakatan, dan konvensi-konvensi yang memfasilitasi interaksi antar negara.

Menurut kaum liberal institusional, institusi internasional merupakan suatu organisasi internasional yang memiliki peran penting bagi terciptanya perdamaian dunia, contohnya yaitu, NATO atau Uni Eropa. Organisasi internasional juga dapat dikatakan sebagai wadah atau tempat yang memliki seperangkat aturan yang mengatur tindakan negara-negara dalam bidang tertentu, seperti penerbangan atau pengapalan.

Seperangkat aturan ini juga dapat disebut ‘rezim’. Institusi dapat bersifat universal, dengan keanggotaan global, seperti PBB, atau institusi dapat bersifat regional atau sub-regional, seperti misalnya Uni Eropa. Dan ada juga institusi yang bersifat fundamental, seperti kedaulatan negara atau perimbangan kekuatan. Institusi fundamental ini bukanlah yang difokuskan oleh kaum liberal institusional, tetapi mereka merupakan aktor utama bagi para teoritis dalam masyarakat internasional.

Pokok argumentasi dari pemikiran liberalisme institusional ini dapat ditemukan pada studi-studi tentang integrasi fungsional pada tahun 1940-an sampai dengan tahun 1950-an serta studi-studi mengenai integrasi regional pada tahun 1960-an.

Studi-studi ini memiliki pandangan bahwa cara menciptakan perdamaian dan kesejahteraan dunia dapat dicapai ketika negara-negara memusatkan kepentingan sumber dayanya dan bahkan jika mungkin membagi sebagian kedaulatannya agar komunitas yang tereintegrasi dapat dibentuk, sehingga tingkat pertumbuhan ekonomi dapat terus berkembang atau segala permasalahan bersama yang terjadi di kawasan regional dapat dipecahkan.

Para teoritisi liberal institusional menyatakan bahwa, kehadiran institusi internasional dapat membantu memajukan kerja sama di antara negara-negara di dunia. Dalam upaya mengevaluasi pernyataan tersebut, kaum liberal institusional memakai pendekatan ilmiah dan behavioralistik.

Baca Juga  6 Kesalahan Berpikir Mahasiswa Ketika Menulis Skripsi

Langkah empiris perluasan institusionalisasi antara negara-negara digunakan. Perluasan fungsi institusi internasional kini dipandang dapat membantu meningkatkan kerja sama kemudian dinilai dan disepakati. Perluasan institusionalisasi dapat diukur dengan dua dimensi, yaitu ruang lingkup dan kedalaman.

Dimensi ruang lingkup menyangkut jumlah bidang isu yang di dalamnya terdapat institusi. Sedangkan kedalaman institusionalisasi dinilai dari tiga hal, yaitu kebersamaan, kekhususan, dan otonom.

Argumen yang dimiliki oleh kaum liberal institusional ialah, tingkat institusionalisasi yang tinggi secara signifikan mengurangi efek yang mengacaukan dari anarki multipolar. Beberapa institusi dibentuk dengan tujuan karena tidak adanya kepercayaan di antara negara-negara dunia.

Mereka melakukan hal itu dengan memberikan aliran informasi di antara negara-negara anggotanya, sehingga setiap negara mempunyai informasi sedikit banyak tentang apa yang telah dilakukan oleh negara lain dan mengapa mereka melakukan hal tersebut. Dengan demikian, institusi-institusi itu ada untuk membantu mengurangi rasa khawatir antar negara anggota satu sama lain.

Selain itu, mereka menyediakan suatu forum bagi negosiasi di antara negara-negara. Institusi-institusi itu menyediakan kesinambungan dan perasaan stabilitas. Mereka memajukan kerja sama di antara negara-negara demi keuntungan timbal baliknya.

Institusi membantu menciptakan iklim seperti halnya harapan akan perdamaian yang stabil berkembang. Peran institusi internasional yang sudah disampaikan oleh aliran liberal institusional di antaranya adalah menyediakan aliran informasi dan kesempatan bernegosiasi, meningkatkan peran pemerintah dalam melakukan monitor kekuatan negara lain dan mengimplementasikan komitmen yang telah dibuatnya sendiri, serta memperkuat harapan yang muncul tentang kesolidan dari adanya kesepakatan internasional.