Korea utara
Korea Utara menembakkan dua rudal jarak pendek dari provinsi Hamgyong Selatan ke Laut Timur. (Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)

Kepala staf gabungan Seoul mengatakan bahwa Korea Utara menembakkan dua rudal jarak pendek dari provinsi Hamgyong Selatan ke Laut Jepang yang dikenal sebagai Laut Timur.

Rudal ditembakkan sejauh 450 kilometer dan mencapai ketinggian maksimum 60 kilometer, kata ketua Gabungan Kepala Staff angkatan bersenjata (JCS) Korea Selatan mengatakan setelah pertemuan darurat Dewan Keamanan Nasional Korea Selatan menyatakan”keprihatinan yang mendalam” terhadap peluncuran tersebut.

Juru bicara Kementrian Pertahanan Jepang Juga mengonfirmasi adanya peluncuran rudal oleh Korea Utara ini. “Kemungkinan rudal balistik. Rudal itu tidak jatuh di dalam wilayah Kepang dan juga diyakini tidak jatuh di dalam zona ekonomi eksklusif Jepang,” ujar jubir tersebut, sebagaimana dikutip Reuters.

Peluncuran rudal ini bukanlah peluncuran yang pertama, tetapi merupakan peluncuran rudal kedua oleh Korea Utara karena sebelumnya, Korea Utara juga dilaporkan meluncurkan rudal jarak menengah. Presiden AS Joe Biden mengatakan bahwa tes itu melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB, tetapi dia tetap terbuka untuk diplomasi dengan Pyongyang.

Peluncuran ini juga dilakukan setelah Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin mengunjungi Korea Selatan untuk membahas situasi di Semenanjung Korea. Korea Utara sendiri sudah mengakui bahwa mereka memang melakukan uji coba rudal terbaru, yang disebut dengan “proyektil taktis terpadu” baru dengan mesin yang berbahan bakar padat. Hal ini merupakan provokasi substantif pertama Korea Utara setelah pelantikan Presiden AS, Joe Biden.

Baca Juga : Transfigurasi Kebijakan Luar Negeri Korea Selatan Masa Pemerintahan Moon Jae In

KCNA melaporkan bahwa, penembakan rudal tersebut di awasi oleh pejabat senir, Ri Pyong Chol, bukan oleh pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Uji coba ini di sebut berhasil karena dua proyektil dengan tepat mengenai target 600 kilometer ke laut Jepang.

Baca Juga  7 Pelanggaran Lalu Lintas di Arab Saudi Terbaru

KCNA juga mengatakan bahwa senjata itu bisa membawa muatan 2,5 ton. Ri Pyong Chol mengatakan bahwa uji senjata ini dangat penting dalam memperkuat kekuatan militer negara, dan mencegah segala jenis ancaman militer yang ada di semenanjung Korea.

AS sendiri menempatkan 28.500 tentara di Korea Selatan untuk melindungi Korea Selatan dari tetangganya yaitu Korea Utara, sementara Pyongyang mengatakan mereka membutuhkan senjata nuklir untuk mencegah adanya invasi dari AS.

Pyongyang sendiri sedang berada dibawah sejumlah sanksi internasional karena program senjata nuklirnya di mana resolusi Dewan Keamanan PBB melarang pengembangan rudal balistik.

Presiden mengatakan resolusi PBB 1718 itu telah dilanggar karena adanya pengujian rudal tersebut. Selain mendapat teguran dari orang nomor satu di AS, teguran juga berdatangan dari Jerman, Prancis, dan Inggris.

Pyongyang sendiri telah membuat kemajuan yang sangat pesat dalam pengembangan senjata nuklirnya di bawah Kim JOng Un. Tahun lalu, Pyongyang juga melakukan serangkaian uji coba senjata yang disebut “artileri jarak jauh” tetapi yang lainnya digambarkan sebagai rudal balistik jarak pendek.

Belum selesai ketegangan yang di karenakan adanya peluncuran dua rudal nalistik ke laut Jepang, Korea Utara tampak bersiap untuk meluncurkan kapal selam baru yang mampu menembakkan rudal balistik berkemampuan nuklir. Intelejen AS dan Korea Selatan memantau hal ini secara menyeluruh perkembangan di galangan kapal Sinpo Utara.

Melansir dari The Telegraph, citra satelit terbaru dari galangan kapal, di pantai Timur semenanjung, menunjukan bahwa dermaga kering terapung telah diposisikan di samping dermaga peluncuran untuk aula konstruksi yang luas di mana persiapan kapal selam sedang diselesaikan.

Para ahli dari think tank Stimson Center memberikan Analisisnya yang di posting di situs web 38 North yang menunjukan bahwa kapal selam baru mungkin hampir selesai atau siap untuk duluncurkan dalam waktu dekat. Peristiwa yang baru-baru ini terjadi menunjukan bahwa Pyongyang kembali pada starategi diplomatik “api dan amarah” di masa lalu.

Baca Juga  The Grand Theory; Konstruktivisme

Sumber :

*) Penulis adalah Nafiisah Rizqillah Maharani berasal dari Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) UMM.