Irak
Amerika Serikat menginvasi Irak pada tahun 2003. (Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)

Kawasan Timur Tengah seolah tidak pernah lepas dari pergolakan konflik dan air mata. Timur Tengah yang memang terkenal sebagai bagian dunia paling panas dan sensitif yang sampai saat ini masih penuh dengan kekerasan yang menghantui. Penyebutan Timur Tengah secara grafis untuk Kawasan Arab memang masih menyisakan sejumlah perdebatan.

Hal ini sejalan dengan jejak pendapat di antara beberapa sumber yang masih meragukan tentang istilah Timur Tengah itu sendiri. Irak termasuk bagian dari Kawasan Timur Tengah dan mempunyai cadangan minyak yang cukup besar, Pada bulan Juli 1979 Saddam sudah menjadi tokoh kunci dalam partai Ba’ath, dan menjadi orang nomor satu di negara tersebut.

Perang Irak-Iran (1980-1988) Saddam menyerbu bagian Barat Daya Iran, dengan harapan bisa menahan revolusi Islam syiah di Iran ke Irak, yang sebagian besar dari rakyatnya adalah Islam syiah. Perang tersebut menghancurkan perekonomian Irak. Perang meninggalkan Irak dengan pembentukan militer terbesar di kawasan teluk tetapi dengan utang besar dan berkelanjutan oleh unsur-unsur pemberontakan Suku Kurdi.

Pemberontakan tersebut terjadi selama 35 tahun pemerintahan Saddam di Partai Ba’ath dikarenakan mereka telah melakukan pembantain massal terhadap suku kurdi dan warga syiah Irak. Dibalik popuralitasnya Saddam terkenal sebagai tokoh yang keras dan kontroversi, ia pernah dilaporkan telah menghabisi nyawa orang-orang dan kelompok-kelompok yang di anggap menentang dan menjadi musuh politiknya.

Irak menginvasi Kuwait pada Agustus 1990 disebabkan oleh kemerosotan ekonomi Irak setelah perang 8 tahun dengan Iran dalam perang Irak-Iran, dengan Kuwait yang memang mempunyai ladang minyak yang bisa membuat pemerintahan Saddam membaik secara ekonomi dan ditafsir bisa membantu hutang luar negeri.

Serta bisa memperluas wilayah pemerintahan Saddam di Kawasan Timur Tengah. Irak memang menjadi negara yang tidak pernah puas pada masa pemerintahan sang serigala padang pasir yang otoriter dan juga bersifat arogan dalam kebijakan luar negerinya.

Tidak banyak yang tahu hubungan mesra antara AS dan Irak pada masa Bush dan Saddam. Kerja sama kedua negara ini terjadi jauh-jauh hari sebelum pemerintahan Bush junior berkuasa. Karena sesungguhnya antara Saddam dan AS menjalin hubungan sebelum Saddam menjadi/menduduki kursi kepresidenan di Irak.

Banyak sejarawan yang menyatakan bahwa Saddam melarikan diri ke mesir setelah pembunuhan terhadap Abdul Karim Qasim pada 1959. Di Mesir, Saddam berhubungan erat dengan CIA, karena membutuhkan perlindungan guna keselamatannya bahkan AS memberi perlindungan yang cukup ketat bagi Saddam.

Baca Juga : Kemenangan Biden dan Perubahan Kebijakan Luar Negeri Amerika

Sebelum AS menginvasi Irak dengan dugaan pegembangan senjata biologi dan pemusnah massal (WMD). Saddam merupakan tokoh yang didukung oleh AS dalam Perang Irak – Iran. AS berkepentingan jika para revolusioner Iran berkuasa maka AS (perusahaan-perusahaan minyak) tidak dapat memanfaatkan ladang minyak di Iran.

Selama perang tersebut baik AS dan sekutu lainnya juga terlihat memberi dukungan politik dan dana kepada Saddam. Bahkan ketika AS dan sekutu membantu Irak dalam perang tersebut diduga bahwa para sekutu membantu Irak dalam senjata pemusnah massal dan biologi yang digunakan dalam perang tersebut. Tidak heran bahwa pada masa itu adalah era keemasan bagi Saddam dan pihak AS.

Setelah lama berhubungan mesra dengan AS, bukannya tambah baik hubungan ke dua negara ini melainkan tambah memburuk karena ketidaktaatan saddam dan berani menentang AS dan pergantian presiden AS, Bush, yang juga arogan. Inilah yang menjadi titik awal pergolakan politik Irak di abad 21 yang di rekam oleh masyarakat internasional.

Baca Juga  Kuliah Tamu HMPS Komahi-UPU “Terorisme dan Radikalisme di Indonesia”

Invasi AS ke Irak (2003) sebagian salah satu prioritas utama kebijakan luar negeri AS yang tertunda. Karena AS disibukan oleh kejadian 9/11 dan invasi AS ke Afghanistan. AS menuduh Saddam telah melanggar keamanan internasional dengan pengembangan senjata-senjata yang dapat menghanguskan dunia.

Alasan atas kepemilikan senjata pemusnah massal, senjata biologi, menjadikan Irak yang demokratis dan lebih terbuka, dan keterkaitan Saddam dengan jaringan terorisme dan menjaga perdamaian dunia.

Rancangan dan pelaksanaan strategi perang AS berada di tangan orang-orang militer sipil Zionis Pentagon. Dengan adanya Organisai Yahudi atau lobi di negara ini tidak di herankan bahwa kebijakan Presiden Bush atas invasi Irak adalah semata-mata demi mengamankan Negara Israel dari ancaman Saddam dan Partai Sekuler Ba’ath. Begitu kuatnya pengaruh lobi ini sehingga Bush bertindak atas kendali organisasi ini.

Perspektif realis terlihat sangat jelas dilakukan oleh AS atas invasi ke Irak karena menjadi ancaman yang besar, invasi militer memang perlu dilakukan AS untuk meredam Saddam Hussein, juga karena masalah latar belakang serta keunikan tersendiri dari Timur Tengah.

AS yang telah menjadi Negara super power tidak akan tinggal diam bila ada suatu Negara yang dapat mengancam kedaulatannya. Pada hakekatnya semua Negara adalah ibarat manusia yang haus akan kekuasaan dan ingin memperoleh kekuasaan.

Tentu saja, tidak semua orang AS mendukung gagasan untuk melakukan penyerangan terhadap Irak. Dukungan menyingkirkan Saddam Hussein secara militer mancapai puncaknya pada angka 74 persen di Bulan November 2001.

Dengan pengaruh media yang ada di Amerika guna mendukung invasi atas Irak. Akhirnya, 80 persen Masyarakat Amerika percaya bahwa Rezim Saddam mendukung jaringan terorisme yang bermaksud menyerang Amerika, lebih dari 90 persen percaya bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal.

Presiden Bush beranggapan bahwa menginvasi Irak adalah jalan tengah guna menjaga eksistensi Israel dan peranan Amerika di Timur Tengah yang semakin tak tergantikan. Hubungan AS dengan Israel sangat mesra ibarat sepasang kekasih yang selalu ber bulan madu.

Sangat sedikit penulis yang menunjukan pengaruh berlebihan yang dilakukan pemerintah Israel terhadap kebijakan pemerintahan AS lewat lobi-lobi yahudi yang kuat, orang-orang di media massa, pemegang modal dan di pemerintahan.

Sebelum menginvasi Irak banyak perdebatan yang terjadi di dalam kongres, dari persiapan anak muda Amerika yang belum siap perang sampai dana yang membengkak dari perang tersebut. Namun kongres yang berlangsung saat itu Wolfowitz dan Senator Lieberman mengajukan perang atas Irak dengan alasan senjata pemusnah massal.

Zionis memang selalu memegang kunci di pemerintahan Clinton hingga sekarang, Dennis Ross, Martin Indyk, Madeleine Albright, Richard Holbork, Sandy Berger, William Cohen, dan lainnya merupakan pembuat kebijakan luar negeri Clinton atas Timur Tengah dan sebagai bidangnya mereka dipercaya untuk menindak lanjuti semua semua kebijakan bagi Timur Tengah di pemerintahan Bush yang secara garis besar berisi tentang pre-empire war.

Invasi AS atas Irak dikarenakan banyaknya lobi dan organisasi yang berperan penting dalam pemerintahan yang membuat Presiden Bush harus mengikuti kemauan para organisasi dan informasi yang di buat-buat demi kepentingan oknum.

Baca Juga  3 Pandangan Perspektif Hubungan Internasional Terkait Keamanan Kolektif

Banyaknya tekanan domestik dan juga runtutan peristiwa yang terjadi di masa Bush membuat Gedung Putih kalang kabut dalam mengambil suatu kebijakan luar negerinya.

Invasi AS atas negara Irak telah memberi warna baru dalam poltik internasional, Irak yang dipimpin oleh Saddam Hussein kala itu telah menjadikan langit cerah Irak menjadi hitam kelabu karena agresi serangan militer AS.

AS yang merasa terancam dengan kemajuan Irak merasa tidak nyaman dengan situasi tersebut, pilihan itu di lanjutkan dengan invasi ke Irak. Tapi keputusan sang pemimpin Bush kala itu di sebabkan oleh beberapa organisasi dan faktor-faktor kunci dalam kebijakan luar negeri Bush, terbukti dengan adanya organisasi yang di belakang layar Gedung Putih telah menghancurkan kaum nasionalis Arab.

Bush tidak mungkin bertindak sendiri dalam semua kebijakannya dikarenakan banyak faktor yang mempengaruhinya, AS yang mempunyai sekutu mesra di Timur Tengah juga berpikir ingin menjaga/mengamankan eksistensi kekasihnya Israel dari ancaman negara-negara di Kawasan Timur Tengah lainnya dan bisa menggunakan kekayaan alam yang ada di Timur Tengah.

Zionis, AIPAC, ZPC, Media Massa, kelompok besar pro-Israel di AS, di atas dan di bawah, telah membela semua kejahatan terhadap kemanusiaan tersebut dan telah sukses menekan kedua partai besar, kongres dan pemerintahan, untuk tidak berkomentar, tidak protes terhadap kebijakan itu.

Meskipun rakyat AS tidak setuju dengan invasi tersebut namun peran media massa cukup mampu untuk membuat opini publik. kepemimpinan Bush adalah era paling boros dalam ekonomi AS, karena menghabiskan banyak dana dan anggaran militer. Hal ini dapat dibuktikan dengan tingkat keuntungan yang diperoleh AS dalam invasi ke Irak.

AS tidak pernah puas dengan kekuasaan, dalam semua kebijakannya pasti menghasilkan masalah bagi negara lain, selain itu pula AS terlalu sering menggunakan militer yang menjadi prioritas utamanya, jika AS selalu menggunakan perang dalam kebijakannya tidak dapat dipungkiri bahwa martabat AS akan semakin jatuh, karena anggapan masyarakat internasional yang mulai mengerti dengan tingkah laku AS yang mempromosikan HAM namun justu melanggar HAM itu sendiri.

Sumber :

Arthur Goldschidt Jr (1979). Cahyo, Agus N. Tokoh-tokoh timur tengah yang diam-diam jadi antek amerika dan sekutunya. Diva press, Jogjakarta hal 19.

Craig Unger, dinasti bush dan dinasti saud, hubungan rahasia antara dua dinasti terkuat di dunia, diwan,Jakarta selatan hal 107.  F.Gregori Gause 3,”Iraq and the Gulf war; Decision making in baghdad, Universitas Vermont”.

Cahyo, Agus N, Op.cit.hal 152 . bandingkan , lihat juga , craig unger, dinasti bush dan dinasti saud, hubungan rahasia antara dua dinasti terkuat di dunia,  hal 106 . CIA menyewa saddam sebagai pembunuh bayaran, saat berusia 22 tahun, untuk membunuh karim qasim. Saddam menembak  bahu terlalu cepat sehingga hanya membunuh sopir kasim dan hanya melukai sang perdana menteri. Dikutip dari “Richard sale.”saddam key in early CIA Plot”,UPI, 10 april 2003.

Petras, james. 2008, the power  of Israel in usa , zionisme mencengkeram amerika dan dunia, Zahra , Jakarta , hal 47.