asean community
Asean Community sebagai wadah untuk menyatukan masyarakat Asean. (Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)

Integrasi merupakan fenomena yang sangat kompleks dan mempunyai beberapa pengertian, definisi yang tepat tentang integrasi masih menjadi perdebatan, integrasi sangat erat kaitannya dengan regionalisme, sebagian teoritisi berpandangan bahwa integrasi sebagai suatu kondisi yang terdapat rasa saling memiliki terhadap komunitas tertentu. Integrasi bisa mewujudkan daya ikat yang kuat diantara unit politik, social, dan ekonomi.

Integrasi menurut Martin Griffiths dapat didefinisikan dalam empat hal yakni pergerakan menuju kerja sama antar negara, transfer otoritas kepada institusi supranasional, peningkatan penyamaan nilai-nilai dan, perubahan menjadi masyarakat global, pembentukan komunitas masyarakat politik yang baru.

Negara-negara anggota ASEAN dalam menghadapi arus globalisasi tidak dapat dipungkiri harus mempunyai ikatan yang kuat dalam unit-unit. Integrasi adalah proses yang disadari, keinginan mendapatkan keuntungan ekonomi adalah motif utama dalam integrasi, negara kecil tidak mungkin bersaing dengan negara besar karena potensi dan kekuatan ekonomi yang berbeda.

Untuk memaksimalkan keuntungan maka negara-negara kecil akan melakukan integrasi guna memiliki daya saing yang lebih baik. Selain itu tujuan politik dan social juga tidak bisa diabaikan.

Menurut Walter S. Jones, ada beberapa kondisi yang mendahului dan menjadi pendorong integrasi yakni asimilasi sosial berupa toleransi perbedaan budaya, kesamaan nilai, keuntungan yang diperoleh, kedekatan hubungan dimasa lampau, pentingnya akan integrasi itu sendiri dan ekspektasi pertimbangan biaya serta pengaruh eksternal yang menjadi katalisator tumbuhnya integrasi.

Baca Juga : Rivalitas China, AS dan ASEAN dalam Sengketa Laut China Selatan

ASEAN Community mencita-citakan sebuah kawasan Asia Tenggara yang terikat dalam suatu kemitraan sebagai sebuah komunitas masyarakat yang saling peduli (caring societies). ASEAN Community dicanangkan melalui Deklarasi Bali Concord II Tahun 2003 dan direncanakan terbentuk pada 2020.

Komitmen untuk mewujudkan komunitas ASEAN dipercepat dari tahun 2020 menjadi tahun 2015 dengan ditandatanganinya “Cebu Declaration on the Acceleration of the Establishment of an ASEAN Community by 2015” ASEAN Community berdiri di atas tiga pilar yang saling terkait erat, yakni pilar politik-keamanan ASEAN, pilar Ekonomi ASEAN, dan pilar komunitas sosial-budaya ASEAN.

Dalam prosesnya, Di tahun yang bersamaan blueprint komunitas ekonomi ASEAN disahkan di Singapura. Menyusul dua tahun kemudian komunitas politik-keamanan ASEAN dan komunitas sosial-budaya ASEAN di Thailand.

Tujuan dari pembentukan Komunitas ASEAN adalah mempererat integrasi ASEAN menghadapi perkembangan konstelasi politik internasional. ASEAN menyadari perlu menyesuaikan cara pandangnya agar lebih terbuka menghadapi permasalahan-permasalahan internal dan eksternal.

ASEAN menyadari perlunya meningkatkan kekompakan, kohesivitas dan efektifitas kerjasama. Kerjasama-kerjasama ASEAN tidak lagi hanya berfokus pada kerjasama-kerjasama ekonomi namun harus didukung oleh kerja sama lainnya di bidang keamanan dan sosial budaya.

Untuk menjaga keseimbangan itu, pembentukan Komunitas ASEAN 2015 didasari atas 3 pilar, yaitu Komunitas Keamanan ASEAN, Komunitas Ekonomi ASEAN dan Komunitas Sosial Budaya ASEAN.

Dibentuknya ASCC, dengan tidak adanya istilah warga negara ASEAN,  bertujuan untuk menciptakan sebuah keinginan untuk tinggal bersama (we feeling ). Dengan demikian, salah satu sasaran utama dari ASCC adalah untuk menjaga dan memajuan warisan budaya dan identitas regional ASEAN.

Mengapa warisan budaya? ASEAN kaya akannya, contohnya Angkor Wat dan Preah Vihear di Kamboja, Candi Borobudur dan Taman Nasional Komodo di Indonesia, Taman Gunung Mulu dan Kinabalu di Malaysia, Kota Bersejarah Ayutthaya di Thailand, dll.

Baca Juga  5 Teori Penyebab Konflik dan Pendekatan Penanganan Konflik Internasional

Pilar sosial-budaya. Kerja sama difokuskan untuk penciptaan a caring and sharing community. Kerja sama sosial budaya mencakup bidang-bidang kebudayaan, penerangan, pendidikan, lingkungan hidup, ilmu pengetahuan dan teknologi, penanganan bencana alam, kesehatan, ketenagakerjaan, pembangunan sosial, pengentasan kemiskinan, pemberdayaan perempuan, kepemudaan, penanggulangan narkoba, peningkatan administrasi dan kepegawaian publik, serta Yayasan ASEAN.

ASEAN banyak melakukan kerja sama bidang social dan budaya. Kerja sama Kebudayaan, Berbentuk workshop dan simposium di bidang seni dan budaya, ASEAN Culture Week, ASEAN Youth Camp, ASEAN Quiz, pertukaran kunjungan antar seniman ASEAN, pertukaran berita  melalui tv, penyiaran berita dan informasi mengenai ASEAN melalui radio-radio nasional, Student Exchange Programme ASEAN, dan Pembentukan ASEAN University Network (AUN).

ASEAN juga melakukan kerja sama di bidang kebudayaan dan penerangan yang erat dengan negara-negara Mitra Wicara. Kerja sama dengan Korea Selatan di bawah Future Oriented Cooperation Projects (FOCP) meliputi pertukaran kunjungan antar seniman, insan media, pemuda dan pejabat pemerintah ASEAN dan Republik Korea yang secara teratur dilakukan setiap tahunnya.

Kerja sama dengan India meliputi pertukaran kunjungan antar jurnalis ASEAN dan India. Selain itu juga telah ditandatangani Memorandum of Understanding (MOU) on ASEAN-China Cultural Cooperation yang bertujuan untuk meningkatkan kerja sama ASEAN dan China di bidang kebudayaan.

Pendekatan

Identitas dalam kajian budaya lebih bersifat kultural dan tidak punya keberadaan di luar representasinya sebagai wacana kultural. Identitas bukanlah sesuatu yang tetap dan bisa di simpan. Melainkan sebagai suatu proses untuk menjadi. Identitas dapat dimaknai sebagai genre pada entitas tertentu.

Misalkan, pada etnisitas ras dan nasionalitas adalah konstruksi-konstruksi diskursif-performatif yang tidak mengacu pada “benda-benda” yang sudah ada. Artinya, etnisitas, ras dan nasionalitas merupakan kategori-kategori kultural yang kontingen Ia bukanlah ”fakta” biologis yang bersifat universal. Sebagai konsep, etnisitas mengacu pada pembentukan dan pelanggengan batas batas kultural yang mempunyai keunggulan tersendiri.

ASEAN Socio-Cultural Community (Komunitas Sosial Budaya ASEAN) merupakan salah satu pilar yang ingin dibangun ASEAN dalam rangka mendukung terbentuknya Komunitas ASEAN pada tahun 2015, seiring dengan dua pilar utama lainnya, yaitu pilar ASEAN Security Community dan ASEAN Economic Community .

Negara ASEAN dalam menghadapi arus globalisasi tidak dapat dipungkiri harus mempunyai ikatan yang kuat dalam unit-unit. Integrasi adalah proses yang disadari, keinginan mendapatkan keuntungan ekonomi adalah motif utama dalam integrasi, negara kecil tidak mungkin bersaing dengan negara besar karena potensi dan kekuatan ekonomi yang berbeda.

Untuk memaksimalkan keuntungan maka negara-negara kecil akan melakukan integrasi guna memiliki daya saing yang lebih baik. menurut Martin Griffiths dapat didefinisikan dalam empat hal yakni pergerakan menuju kerja sama antar negara, transfer otoritas kepada institusi supranasional, peningkatan penyamaan nilai-nilai dan, perubahan menjadi masyarakat global, pembentukan komunitas masyarakat politik yang baru.

Dalam konteks tulisan ini penekanannya lebih dikonsentrasikan pada kajian-kajian sejarah, budaya, komunikasi. Meski demikian, konsep rasialisasi atau semacam pembentukan ras mempunyai kegunaan. Gagasan tentang identitas, ras, etnisitas dan bangsa mesti dilihat dalam kerangka saling ketergantungan guna memahami integari dalam ASEAN community.

Baca Juga  Terorisme dalam Ideologi Konflik Asimetris dan Aspek Struktural

Identitas dalam kajian budaya lebih bersifat kultural dan tidak punya keberadaan di luar representasinya sebagai wacana kultural. Identitas bukanlah sesuatu yang tetap dan bisa di simpan. Melainkan sebagai suatu proses untuk menjadi. Keinginan ASEAN melalui ASCC adalah memperkokoh rasa solidaritas sesama warga ASEAN.

Membangun rasa ke-kita-an dan solidaritas bukan berarti menghilangkan karakteristik spesifik pada masing masing negara. Namun, lebih kepada keinginan untuk memperkuat rasa kebersamaan, persaudaraan serta rasa saling peduli, memiliki terhadap komunitas yang sedang dibangun.

ASEAN banyak melakukan kerja sama bidang social dan budaya. Kerja sama Kebudayaan, Berbentuk workshop dan simposium di bidang seni dan budaya, ASEAN Culture Week, ASEAN Youth Camp, ASEAN Quiz, pertukaran kunjungan antar seniman ASEAN, pertukaran berita  melalui tv, penyiaran berita dan informasi mengenai ASEAN melalui radio-radio nasional, Student Exchange Programme ASEAN, dan Pembentukan ASEAN University Network (AUN).

Rasa saling mencintai di kalangan masyarakat ASEAN juga terus ditumbuh kembangkan melalui berbagai program pengenalan budaya, adanya rasa solidaritas yang kuat, diharapkan masyarakat ASEAN saling mendukung dalam mengatasi masalah kemiskinan, kesetaraan dan pembangunan manusia, saling mendukung dalam meminimalisir dampak sosial dari integrasi ekonomi dengan cara membangun suatu dasar sumber daya manusia yang kompetitif. serta memperkokoh identitas budaya menuju ASEAN community.

Identitas sebagai warga ASEAN harus berdasar pada kokohnya budaya toleransi masing-masing negara, yang akan menopang identitas ASEAN community. Integrasi ASEAN community bukan sebagai akhir bagi kelangsungan masyarakat ASEAN namun lebih kepada awal mencapai kesejahteraan yang baik.

Pelestarian budaya guna menopang sector pariwisata untuk mengundang turis dari berbagai negara dan berkunjung ke ASEAN. Solidaritas yang sudah terbangun melalui sejarah kelam dari penjajah membuat komunitas ASEAN lebih gigih dalam melestarikan dan menghadapi tantangan dari luar. Kerja sama dalam bidang budaya ASEAN harus lebih ditingkatkan.

Tantangan ke depan ASEAN untuk mewujudkan sebuah komunitas bersama tahun 2015 harus dilihat dari sisi positif. Sekalipun keraguan muncul, upaya membentuk sebuah ASEAN harus diapresiasi.

Tidak hanya sekedar mewujudkan 2015 ASEAN Community, tapi juga menjadi panduan bagi sebuah kawasan yang memiliki potensi  besar untuk menjadi pemain dunia di masa yang akan datang. Semoga dengan adanya ASEAN community masyarakat Indonesia dan negara lainnya dapat menjadi negara yang lebih baik dan kompetitif.

Sumber :

Nuraeni suparman, Deasy Silvya Sari, Arifin Sudirman. Regionalisme Dalam Hubungan Internasional. Pelajar Pustaka. Yogyakarta. 2010
Menuju Integrasi Pemuda ASEAN: Catatan Jelang ASEAN Community 2015 dalam http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,4-id,46688-lang,id-c,kolom t,Menuju+Integrasi+Pemuda+ASEAN++Catatan+Jelang+ASEAN+Community+2015-.phpxSelayang Pandang, 2017. DIREKTORAT JENDERAL KERJASAMA ASEAN DEPARTEMEN LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA.
Komunitas ASEAN dan kekuatan masyarakatnya: menjawab tantangan zaman dalam http://www.academia.edu/5328988/Komunitas_ASEAN_dan_Kekuatan_Masyarakatnya
UNESCO. World Heritage List. Diakses dari http://whc.unesco.org/en/list/
S. arifianto. Kontruksi teori-teori dalam perspektif “kajian budaya dan media dalam http://balitbang.kominfo.go.id/balitbang/aptika-ikp/files/2013/02/KONTRUKSI-TEORI-TEORI-DALAM-PERSPEKTIF-KAJIAN-BUDAYA-DAN-MEDIA-.pdf