kerja sama teknologi infrastruktur dengan rusia
Kalimantan timur menjadi provinsi pilihan bagi rusia untuk peningkatan kerja sama (Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)
4 Shares

Provinsi Kalimantan Timur merupakan salah satu pintu gerbang pembangunan di wilayah Indonesia bagian timur. Daerah ini memiliki potensi bisnis cukup beragam, seperti potensi bisnis perkebunan, peternakan, kehutanan, pertambangan, perikanan dan kelautan, serta pariwisata. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur, sektor pertambangan mendominasi perekonomian Kalimantan Timur yaitu sebesar 51,95% dari total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalimantan Timur.

Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kalimantan Timur menyebutkan bahwa kinerja ekspor migas Kalimantan Timur tahun 2016 sebesar US$ 3,78 Miliar sedangkan ekspor non-migas tahun 2016  sebesar US$10,06 Miliar. Ekspor non-migas Kalimantan Timur masih didominasi oleh pertambangan batu bara sebesar 63,68%. Hal ini menunjukkan bahwa ekspor batu bara menjadi kegiatan yang  dominan dilakukan di Provinsi Kalimantan Timur.

Baca Juga: Kerja sama Bilateral Jerman dan Indonesia Bidang Sains dan Teknologi

Pembangunan jaringan kereta api di Pulau Kalimantan menjadi penting. Sehingga diharapkan dengan adanya angkutan massal tersebut, pergerakan ekonomi di kawasan terpencil Kalimantan dapat meningkat lebih cepat dan dapat mengurangi isu kesenjangan antar wilayah. Hasil kesepakatan berupa Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, yang dipimpin oleh Awang Faroek (Gubernur Kalimantan Timur) dan perwakilan dari Russian Railways yaitu Direktur Kalimantan Rail PTE. Ltd. Andrey Shigaev pada 7 Februari 2012. 

Kerja sama ini merupakan bentuk realisasi di bidang pembangunan infrastruktur perkeretaapian khususnya angkutan batu bara, sekaligus kerja sama perdana dalam bidang teknologi infrastruktur. Penanaman investasi yang telah dilakukan berdasarkan ketertarikan oleh pihak Russia Railways terhadap potensi perekonomian di Kalimantan berdasarkan promosi potensi investasi yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi di Moscow pada tahun 2011.

Pembangunan rel kereta api ini merupakan kerja sama yang pertama bagi perusahaan swasta Rusia. Tahap pertama proyek ini diharapkan selesai pada tahun 2017. Realisasi proyek jalur kereta api ini dengan investasi sebesar 2,4 Miliar Dollar Amerika, diharapkan proyek ini dapat menampung sekitar 2.500 tenaga kerja lokal di Kalimantan Timur. Selain itu, sebanyak 10.000 pekerja tambahan juga dibutuhkan untuk proyek lainnya yang berhubungan dengan, namun, warga lokal tetap akan menjadi prioritas dalam perekrutan pekerja.

Selain itu, kerja sama yang ada juga akan memudahkan Kalimantan Timur untuk membangun jalur kereta api. Proyek kerja sama ini merupakan katalisator pertukaran budaya yang kuat antara Rusia dengan Indonesia. Dengan tujuan memberikan kontribusi yang signifikan dalam perkembangan sosial daerah berdasarkan pendidikan dan perbaikan taraf hidup masyarakat.

Rusia memilih Indonesia sebagai partner dalam pembangunan kereta api tersebut dikarenakan Indonesia memiliki potensi yang sangat besar terutama dalam bidang bisnis. Bentuk kerja sama yang terjadi antara Indonesia – Rusia dalam pengadaan infrastruktur berupa pembangunan proyek kereta api batu bara di Kalimantan Timur yang merupakan kerja sama antara BUMN milik Pemerintah Rusia yaitu Russian Railways dan anak perusahaannya PT Kereta Api Borneo. Russian Railways bergerak di bidang infrastruktur kereta api di Rusia dan sudah lama berdiri sejak periode perang dunia pertama, dimana posisi dari kereta api juga merupakan sebuah alat transportasi vital bagi pemerintah Federasi Rusia.

Pembangunan rel kereta api di Kalimantan Timur akan menghubungkan tiga daerah, yakni, Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Penajam Paser Utara, dan Kota Balikpapan. Diperkirakan rel kereta api yang dibangun sepanjang 203 Kilometer. Berdasarkan data sementara yang dimiliki oleh Dinas Perhubungan Kalimantan Timur, jalur kereta api batu bara tersebut melintasi Kutai Barat sepanjang 120 Kilometer, Penajam Paser Utara sepanjang 23 Kilometer, dan Kota Balikpapan sepanjang 17 Kilometer. Jalur kereta api tersebut sedikitnya akan melintasi sungai dan beragam konsesi. Pembangunan tersebut direncanakan tidak akan melalui hutan lindung maupun hutan konservasi di Kalimantan Timur. Jalur yang digunakan paling banyak yaitu melintasi Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan perkebunan.

Pembangunan jalur kereta api akan dilakukan melalui dua tahap. Pada tahap pertama yaitu dengan pembangunan jalan sekitar 190 Kilometer dari Kabupaten Kutai Barat hingga pelabuhan di Kota Balikpapan. Jalan yang akan dibangun pada tahap pertama rencananya akan digunakan untuk pengangkutan batu bara, baik untuk ekspor maupun untuk kebutuhan dalam negeri. Kemudian, pada tahap kedua akan dilakukan perpanjangan jalan menuju Provinsi Kalimantan Tengah dengan transisi menggunakan traksi listrik. Di samping itu, jika Pemerintah Indonesia menyetujui proyek tambahan, maka jalur kereta api juga akan dibangun untuk mengangkut hasil perkebunan, pertanian, komoditi lainnya, dan juga menjadi angkutan penumpang.

Investasi dari proyek pembangunan rel kereta api ini juga menjadi salah satu bagian dari Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), salah satunya yaitu melalui peran Pemerintah Daerah untuk mengembangkan setiap daerahnya masing-masing, seperti melalui kerja sama internasional. Hasil dari kerja sama pembangunan rel kereta api tersebut akan berpotensi mendorong realisasi investasi berskala besar di sektor ekonomi. Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa kerja sama luar negeri ini juga merupakan kerja sama pertama di bidang infrastruktur teknologi dan transportasi.

4 Shares