terorisme
Isu terorisme semakin berkembang pasca kampanye Global War on Terrorism. (Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)

Himpunan Mahasiswa Program Studi Korps Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Potensi Utama (HMPS KOMAHI-UPU) telah menyelenggarakan kegiatan Kuliah Tamu pada hari Kamis, 14 April 2021.

Kegiatan Kuliah Tamu tersebut diselenggarakan secara daring, dengan mengundang langsung pakar Kajian Timur Tengah yang juga merupakan dosen Program Magister di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, yaitu Dr. Ahmad Sahide, M.A dan dipandu oleh mahasiswa Hubungan Internasional UPU, Kevin Satria Hidayat. Kegiatan Kuliah Tamu ini mengangkat tema “Terorisme dan Radikalisme di Indonesia”. Tema ini sendiri sedang hangat diperbincangkan publik menyusul terjadinya dua aksi terorisme di Makassar dan Jakarta.

Dalam kegiatan ini, Sahide menjelaskan secara luas dan komprehensif mengenai akar permasalahan terorisme, tidak hanya dalam konteks Indonesia, melainkan juga dunia mengingat perhatian dunia terhadap isu terorisme semakin berkembang seiring dengan dilakukannya kampanye Global War on Terrorism.

Sesi Kuliah Tamu dibuka dengan penjelasan Sahide mengenai definisi dari terorisme itu sendiri. Secara etimologi, terorisme berasal dari bahasa Latin terrere yang berarti to frighten, to terrify, to scare away, atau menghalangi.

Meski begitu, secara terminologi, tidak ada definisi yang tepat atau disepakati secara luas, sehingga terorisme menjadi salah satu konsep paling kontroversial yang ada di dalam ilmu sosial.

Baca Juga : Terorisme dalam Ideologi Konflik Asimetris dan Aspek Struktural

Melalui pemaparannya, Sahide memperlihatkan bahwa permasalahan mengenai terorisme sudah mengakar sejak abad pertengahan, dimana negara-negara Eropa melakukan ekspansi ke dunia Islam dan menghancurkan peradaban di sana.

Hancurnya peradaban Islam ini kemudian menciptakan keadaan dimana secara ilmu pengetahuan, umat Islam tertinggal dari peradaban Barat. Hingga pada abad-abad berikutnya, wilayah-wilayah Islam berada di bawah kekuasaan neokolonialisme Barat.

Baca Juga  10 Citra dan Perdebatan dalam Teori Hubungan Internasional

Hal ini kemudian membuat beberapa kelompok merasa terpanggil untuk mengembalikan kejayaan peradaban Islam. Namun, hal ini mendapatkan rintangan dengan banyaknya propaganda-propaganda Barat, westernisasi, dan pembiaran yang dilakukan sehingga negara-negara mayoritas Islam lemah secara perekonomian.

Menurut Sahide, di antara perlawanan yang dilakukan oleh umat Islam atas kemundurannya itu justru melalui perlawanan secara simbolis melalui gerakan terorisme, seperti peristiwa 9/11 dimana World Trade Center diidentifikasi sebagai simbol kapitalisme global dan bom Bali dimana klub malam identik dengan tempat berbuat maksiat.

Sahide melanjutkan bahwa satu-satunya cara untuk dapat menandingi peradaban Barat dan kembali menciptakan kejayaan peradaban Islam adalah dengan meningkatkan ilmu pengetahuan di negeri-negeri Islam. Namun, realitanya pada saat ini jajaran kampus-kampus papan atas dunia tetap didominasi oleh negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat.

Penulis :

*) Penulis adalah Hafizh Nabiyyin Sekretaris Umum HMPS KOMAHI-UPU
**) Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi reviewnesia.com