ertugrul diplomasi
Ertuğrul telah sukses menarik atensi masyarakat global terutama masyarakat muslim (Foto: Ahmad Said Rifqi/reviewnesia.com)

Anatolia abad ke-13 adalah daerah yang memiliki sejarah penting dalam peta Kesultanan Ottoman Turki. Perjuangan kekuasaan wilayah Anatolia penuh dengan nilai politik dan keislaman. Walaupun dengan banyak pengorbanan dan permainan politik, namun pada masa itu, Islam mampu membawa kejayaan. Potret Anatolia memberikan kesan tersendiri pada percaturan dan dinamika kekuatan (power) Turki baik di regional maupun tataran global. Latar inilah yang kemudian diangkat kedalam serial drama Turki, Diriliş: Ertuğrul. Ertuğrul merupakan sosok pejuang islam yang memimpin suku Kayi untuk bertempur melawan Kekaisaran Bizantium, Tentara Salib, dan Mongol1.

Serial Diriliş: Ertuğrul (Kebangkitan: Ertuğrul) menggambarkan situasi dimana orang-orang dunia muslim tidak pernah dipermalukan. Sosok Ertuğrul yang diriwayatkan sebagai seorang tokoh yang pemberani namun berbelas kasih, membuat citra baik Turki semakin diagung-agungkan. Pada perkembangannya, drama serial ini berhasil menembus banyak penonton dari sekitar 70 negara di seluruh dunia.

Baca Juga: 10 Makna Strategis Citizen Diplomacy dalam Politik Luar Negeri

Turki melalui serial drama Diriliş: Ertuğrul telah sukses menarik atensi masyarakat global terutama masyarakat muslim untuk merasakan kembali aura kejayaan islam. Dalam politik internasionl, hal ini dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk dari ‘soft power’. Joseph S. Nye melalui konsep soft powernya menjelaskan bahwa soft power adalah kemampuan untuk mempengaruhi negara lain dalam upaya mendapatkan hasil yang diinginkan oleh pihak yang satu dengan melalui ketertarikan daripada paksaan.2 Dalam hal ini, melalui Ertuğrul, Turki berhasil membuat negara lain mengingat kembali masa-masa kejayaan islam yang dibawa oleh bangsa Turki, tanpa paksaan untuk mempelajari sejarah, justru masyarakat global menikmati tayangan ini dan tertarik untuk menyimaknya.

Penayangan Ertuğrul melalu saluran TRT (Turkish Radio and Television Corporation) dimaksudkan sebagai simbol dari upaya Turki untuk memposisikan dirinya sebagai kekuatan dunia di luar kekuatan budaya Barat. Secara berangsur-angsur tayangan Ertuğrul kemudian disiarkan di saluran televisi dan media lainnnya. Masyarakat muslim global secara sadar maupun tidak, kini seolah terhipnotis dan terpikat dengan alur cerita dan aura yang dibawa oleh Ertuğrul. Bahkan penayangan Ertuğrul sempat mengalahkan popularitas Game of Thrones di dalam pencarian saluran Youtube sebab lebih banyak orang menelusuri YouTube untuk Ertuğrul daripada karakter Game of Thrones yang lebih dulu populer sekitar 10 hari dari Ertuğrul.

Di samping itu, salah satu media ternama, yakni The Guardian, memberikan label kepada Ertuğrul sebagai ‘Muslim Game of Thrones’3. Sebab Ertuğrul telah menjadi pesaing sengit serial Game of Thrones yang tengah naik daun pada saat itu. Keduanya sama-sama berlatarbelakang di abad pertengahan dan menggambarkan sosok pejuang dengan pasukkannya yang sangat kompak.

Hanya saja terdapat perbedaan nilai, yakni yang paling mencolok adalah dalam hal nilai religiositas. Berdasarkan pada Kementerian Kebudayaan Turki, pada saat ini perfilman Turki (hangi dizi) telah membuat Turki menjadi lima besar negara pengekspor serial televisi di dunia yang merambah penonton dari Amerika Latin, Asia Tengah hingga Asia Tenggara termasuk menjadi populer di Indonesia. Serial Turki juga diikuti oleh sekitar 500 juta penonton di lebih dari 150 negara. Untuk seri “Diriliş: Ertuğrul” sendiri telah menarik minat dengan lebih dari 70 negara.

Baca Juga  Umbrella Movement: Suara Millenial Penuntut Demokrasi Hong Kong

Menyadari besarnya peluang dari soft power yang dibawa oleh serial drama Diriliş: Ertuğrul, Presiden Republik Turki, Recep Tayyip Erdoğan memanfaatkan hal ini sebagai komoditas diplomasi publiknya. Diplomasi publik sendiri adalah suatu instrumen yang digunakan pemerintah untuk membawa suatu sumberdaya sebagai alat berkomunikasi dan menarik perhatian publik di negara lain, tentunya dengan tujuan memperluas pengaruh. Erdoğan membawa serial drama Diriliş: Ertuğrul menjadi suatu komoditas yang diperhitungkan dalam kancah diplomasinya dengan negara lain, terutama negara muslim.

Keberhasilan diplomasi publik Erdoğan melalui serial Ertuğrul salah satunya terlihat di negara Pakistan, Asia Selatan. Secara terang-terangan Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, mengimbau kepada warganya untuk menonton serial drama Diriliş: Ertuğrul 4 yang lebih dikenal dengan sebutan Ertuğrul Gazhi5 di Pakistan. Khan menyampaikan bahwa serial Ertuğrul sangat direkomendasikan untuk ditonton karena menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman.

Berdasar pada instruksi Khan, akhirnya saluran televisi Pakistan, PTV (Pakistan Television Corporation), mulai menyiarkan serial drama Ertuğrul Ghazi. Penyiaran ini bahkan dilakukan dengan menggunakan dalam bahasa orang-orang Pakistan sebagai bahasa pengantarnya, yakni bahasa Urdu. Penyiaran serial drama Ertuğrul Ghazi di Pakistan dilakukan bertepatan dengan awal bulan Ramadhan yakni pada tanggal 25 April 20206. Orang-orang Pakistan menyukai serial Ertuğrul karena merasa memiliki nilai yang sama dengan yang dianut oleh mereka. Ertuğrul menggambarkan nilai dari pejuang-pejuang Turki yang tangguh dan sangat patuh terhadap islam. Kepatuhan ini dieskpresikan melalui beberapa scene yang menunjukan Ertuğrul berdoa kepada Allah dan shalat sebelum pergi berperang.

Serial drama Ertuğrul juga mempromosikan seruan “Ya Allah” daripada “God Bless” ala Amerika7 ketika sebelum mengalahkan musuh-musuhnya. Bagi Khan, Ertuğrul merupakan ‘hadiah’ berharga dari Erdoğan, karena Turki memberikan bebas biaya lisensi kepada Pakistan untuk menyiarkan serial drama Ertuğrul Ghazi agar dapat dinikmati masyarakat Pakistan. Hal ini merupakan salah satu bentuk diplomasi publik Erdoğan agar mendapat tempat tersendiri di wilayah Asia Selatan, mengingat Pakistan merupakan salah satu negara yang berpengaruh di kawasan tersebut.

Dari diplomasi publik Erdoğan, hubungan bilateral Turki-Pakistan saat ini menjadi semakin erat, dan julukan “brother countries” diantara mereka menjadi suatu kebanggaan. Mengingat sejak dulu Turki memiliki arti tersendiri bagi Pakistan. Karena memang sejak kemerdekaan Pakistan pada 1947, Turki merupakan salah satu negara yang pertama kali mengakui kedaulatan Pakistan dan membantu melobi keanggotaan Pakistan di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Baca Juga  Bahasa Indonesia Sebagai Alat Diplomasi Indonesia Terhadap Publik Mancanegara

Oleh sebab itu, tidak salah apabila Erdoğan melakukan diplomasi publik di abad 21 ini dengan membawa aura kejayaan islam Turki di abad 13, era dimana Turki berjaya dengan pengaruh sosok Ertuğrul. Atas keberhasilan diplomasi publik Erdoğan ini, akhirnya serial Ertuğrul yang awalnya hanya disiarkan bagi masyarakat Turki, kini dapat juga disiarkan di layar kaca Pakistan dan bahkan di berbagai negara muslim lainnya. Hal ini memberikan pengaruh terhadap eksistensi bahasa Turki, yang mana kini bahasa Turki menjadi bahasa yang banyak di pelajari di dunia karena serial berbahasa Turki mulai banyak ditonton mengalahkan  serial berbahasa Prancis, Spanyol, dan Mandarin.

Sebab disamping kepopuleran serial drama Diriliş: Ertuğrul, serial TRT yang lainnya seperti “Muhteşem Yüzyıl” atau “Payitaht: Abdülhamid” juga menjadi populer di kalangan penonton luar negeri. Sehingga Institut Yunus Emre yang telah didirikan Turki dibeberapa negara muslim untuk meningkatkan minat bahasa dan kebudayaan Turki sejak tahun 2007, kini semakin banyak diminati.

Turki memahami betul akan kekuatan narasi identitas dan budaya. Soft power yang dimilikinya dipahami secara baik sebagai komoditas yang diperlukan untuk membangun citra baru, menulis ulang sejarah, dan menghapus fitnah. Potret Turki abad 13 yang dicitrakan oleh sosok Ertuğrul dibawanya jauh kepada abad 21 untuk menyebarkan pengaruh, nilai, dan membentuk power. Ertuğrul seolah menjadi pengingat terhadap dunia akan kekuatan islam yang patut diperhitungkan. Diantara masyarakat muslim sendiri, Ertuğrul menjadi pengingat negara-negara muslim bahwa Turki pernah berjaya dalam catatan sejarah dan ruh kejayaannya ini  yang membangun kekuatan Turki di masa kini.

Referensi:

Fatima Bhutto, How Turkey’s Soft Power Conquered Pakistan, https://foreignpolicy.com/2020/09/05/ertugrul-turkey-dizi-soft-power-pakistan/

https://www.theguardian.com/tv-and-radio/2020/aug/12/ertugrul-how-an-epic-tv-series-became-the-muslim-game-of-thrones

Krzysztof Iwanek, “Why Did Pakistans Prime Minister Promote A Turkish TV Show?” https://thediplomat.com/2020/06/why-did-pakistans-prime-minister-promote-a-turkish-tv-show/

Nashih Nashrullah , “Serial Ertugrul Turki Tentang Ottoman Berjaya di Pakistan,” https://www.republika.co.id/berita/qc122y320/serial-ertugrul-turki-tentang-ottoman-berjaya-di-pakistan

Nye, J. S. (2008). Public Diplomacy and Soft Power. The ANNALS of the American Academy of Political and Social Science, 616(1), 94–109. doi:10.1177/0002716207311699

The Guardian, “Ertuğrul: how an epic TV series became the ‘Muslim Game of Thrones”

Penulis:

*) Penulis adalah Sulistia Wargi, Akademisi Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta
**) Penulis aktif di Paguyuban Duta Bahasa Provinsi Banten dan Nasional, menjadi content writer di platform digital, serta juga bergabung di dalam Komunitas For Children Foundation. Penulis dapat dijumpai dalam akun instagram @stwargi dan E-mail : sulistiawargi99@gmail.com
***) Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi reviewnesia.com