balance of power
Balance of power adalah salah satu teori hubungan internasional yang masih eksis sampai saat ini. (Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)
0 Shares

Teori Balance of Power yang digagas oleh Morgenthau merupakan salah satu teori tertua dalam studi Hubungan Internasional. Pada dasarnya, teori ini memiliki relevansi historis yang melatarbelakangi Morgenthau dalam mengemukakan teori Balance of Power ini. Selama periode perang yang terjadi di China tahun 403–221 sebelum Masehi. Perang tersebut adalah perang yang terjadi antara lima negara di daratan China yang saling bersaing kekuatan militernya serta hendak saling menguasai antara satu dengan yang lain.

Selain itu, Perang Peloponesian tahun 431–404 sebelum Masehi juga menjadi fakta sejarah yang serupa. Tentang bagaimana kemunculan kekuatan Athena yang membentuk koalisi negara kota sekitar yang terancam. Beberapa kejadian tersebut menginspirasi Morgenthau dalam teorinya mengenai Balance of Power ini.

Konsep yang menjelaskan pola perang dan damai yang telah berlaku di antara negara-negara selama ini. Perlakuan secara hati-hati perimbangan kekuasaan dipercaya para ahli akan mampu menciptakan peradaban.

Dalam Balance of Power tidak hanya mengandung ungkapan yang mengarah kepada kemampuan militer dan penangkalan saja, tetapi juga terhadap seluruh struktur yang mengandung hubungan antar negara. Balance of Power juga sering diartikan sebagai kemampuan dari entitas politik tertentu untuk memaksakan kehendaknya pada pihak lain.

Perimbangan yang terjadi kemudian dipahami dalam tipe-tipe Balance of Power, yaitu Unipolar, Bipolar, dan Multipolar. Unipolar merupakan kondisi dimana hanya ada satu negara yang mempunyai kekuatan besar dibandingkan dengan kekuatan lain. Bipolar merupakan kondisi ketika terjadi pemusatan kekuatan di dua negara atau dua blok.

Sedangkan multipolar merupakan kondisi di saat setidaknya terdapat tiga negara atau blok yang mempunyai kekuatan yang sangat besar. Hal ini terjadi ketika pada abad 19 dimana ada beberapa kerajaan atau negara saling beraliansi satu sama lain untuk melawan kerajaan yang lebih besar.

Sistem Balance of Power dianggap berada di antara keteraturan dunia (world order) dan kekacauan internasional (international chaos). Keteraturan itu dapat terwujud dikarenakan adanya security dilemma yang membuat negara-negara lebih berfokus pada peningkatan kekuatan militer yang mereka miliki sehingga mereka tidak memiliki kesempatan untuk menyerang negara lain dan akhirnya terjadilah Balance of Power.

Baca juga: 5 TINGKAT ANALISA DALAM HUBUNGAN INTERNASIONAL

Balance of Power sendiri memiliki asumsi dasar bahwa ketika sebuah negara atau aliansi negara meningkatkan atau menggunakan kekuatannya secara lebih agresif, negara-negara yang merasa terancam akan merespons dengan meningkatkan kekuatan mereka. Hal tersebut dikenal dengan counter balancing coalition. Terdapat dua keadaan agar sistem Balance of Power dapat berfungsi secara efektif.

Pertama, sekelompok negara dapat membentuk keseimbangan kekuatan ketika aliansi telah ada. Kedua, dua negara berbeda dapat saling melakukan perimbangan kekuatan dengan cara menyesuaikan kekuatan militer masing-masing antara yang satu dengan yang lain.

Ernest Hans mengasumsikan empat syarat bagi eksistensi Balance of Power, yaitu:

  1. Peran aktor-aktor yang berdaulat, yang muncul karena tidak adanya satu otoritas yang menguasai aktor-aktor tersebut.
  2. Distribusi kekuatan yang relatif tidak seimbang di antara aktor-aktor politik yang membentuk sistem tersebut.
  3. Persaingan dan konflik yang berkesinambungan di antara aktor-aktor politik yang berdaulat.
  4. Pemahaman implisit di antara para pemimpin negara yang besar bahwa kesinambungan distribusi kekuatan akan menguntungkan mereka

Balance of Power dalam sistem kekuasaan ini muncul untuk menghasilkan tiga kondisi. Pertama, keberagaman kedaulatan negara yang muncul haruslah tidak tunduk pada keterpaksaan dari salah satu legitimasi kedaulatan negara lain yang lebih berkuasa.

Kedua, kontrol secara terus-menerus dari kompetisi akibat langkanya sumber daya atau nilai-nilai konflik. Ketiga, distribusi status, kekayaan, dan potensi kekuatan di antara aktor politik yang masuk dalam suatu sistem.

Secara sistemik, Balance of Power digunakan untuk mencegah terjadinya sistem hegemoni yang didefinisikan sebagai sebuah dominasi negara terhadap negara atau kelompok negara lain.

Dengan kata lain, Balance of Power muncul karena adanya suatu pengaruh besar dalam bidang militer dan teknologi oleh negara yang memiliki kekuatan yang besar, yang kemudian disebut sebagai hegemoni.

Namun, dari berbagai penjelasan mengenai bagaimana Balance of Power tersebut, teori ini memiliki kelemahan yang menilai bahwa sebuah kekuatan negara sebagai ukuran dari sebuah proses perimbangan kekuatan.

Meski dapat dikatakan secara sederhana, seperti apa yang telah dipaparkan oleh Morgenthau, penggagas teori Balance of Power, bahwa kekuatan nasional diukur dari ukuran geografi wilayah, populasi penduduk yang dimiliki, serta tingkat kemajuan teknologi sebuah negara atau aliansi sebuah kekuatan.

0 Shares