diplomasi
China gelar diplomasi masker dengan negara-negara di Asia Tenggara. (Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)

Covid-19 mewabah di Kota Wuhan dan menyebar ke seluruh dunia merupakan ancaman non-tradisional yang sangat berdampak bagi negara di dunia termasuk terhadap regionalisme negara-negara yang ada di Asia Tenggara.

Masing-masing negara kemudian mengeluarkan sikap dan kebijakan yang berbeda. Kebijakan berdasarkan kerja sama regional dan sikap kooperatif serta upaya saling dukung sebagai upaya menyelesaikan pandemi di kawasan Asia Tenggara.

Kebijakan yang terlihat jelas diambil oleh ASEAN adalah dengan menutup akses pintu masuk di masing-masing daerah perbatasan. Sebagian negara mengeluarkan kebijakan lockdown untuk menimalisir kerugian yang disebabkan covid-19 bagi keamanan kehidupan.

Selain di ASEAN, kekuatan yang berasal dari luar kawasan juga berperan sangat dinamis. Selain terus melanjutkan usaha melalui pertemuan tingkat tinggi dengan negara anggota, ASEAN juga terus berupaya melakukan diplomasi dengan beberapa negara di luar teritori untuk dapat menyelesaikan fenomena ini dengan langkah terbaik.

Jika tidak ditangani secara serius, tentu ancaman dari covid-19 dapat berimbas pada regionalisme khususnya di Asia Tenggara. Hal ini didasarkan pada temuan bahwa ada beberapa negara di dalam kawasan ini yang mampu menyelesaikan permasalahan covid-19 di tingkat domestik, tetapi beberapa negara yang lain justru mengalami peningkatan kasus yang terus mengancam eksistensi keamanan manusia di ASEAN.

Meski tidak dapat dipungkiri Thailand dan Vietnam dapat dijadikan percontohan untuk menyelesaikan covid-19, tetapi ASEAN juga tetap masih merasa sulit untuk bisa memitigasi permasalahan covid-19. Sehingga tak pelik menjadikan negara-negara di kawasan ini mencari mitra kerja sama untuk dapat memberikan bantuan.

Baca Juga : Peran Diplomasi Digital Indonesia Di PBB Masa Pandemi Covid-19

Salah satu negara yang kemudian digandeng menjadi mitra kerja sama adalah China. China dipandang sebagai negara yang berhasil menyelesaikan permasalahan covid-19 di tingkat domestik dan dapat menjadi contoh bagi dunia internasional termasuk Asia Tenggara.

Baca Juga  11 Poin Penting dalam Ritme Diplomasi Ekonomi Indonesia

China memandang kesempatan ini adalah kesempatan emas untuk memuluskan jalan menghindari rivalitas AS dalam kondisi pandemi covid-19. Termasuk, China berusaha menghindari statement yang kontra bagi pemerintah negara-negara anggota ASEAN.

Sebagai negara pengganti adidaya AS di ASEAN pasca ketegangan di Laut China Selatan, China mulai menunjukkan sikap kooperatif dengan negara-negara di kawasan. Pasca diumumkan menjadi pandemi global, China terus berusaha memberikan tawaran bantuan alat pelindung diri (APD) kepada negara anggota ASEAN.

Hal tersebut juga didukung oleh beberapa perusahaan transnasional China yang ikut berpartisipasi memberikan bantuan. Langkah yang diambil China ini dapat dipandang sebagai upaya membangun kembali citra positif bagi China serta konsistensi hubungan baik negara ini dengan negara di kawasan ASEAN. Terutama hubungan China dengan negara anggota dalam isu ekonomi dan usaha pemulihan ekonomi kawasan pasca covid-19.

Selain China, kerja sama untuk memitigasi juga melibatkan Jepang dan Korea Selatan sebagai bagian dari ASEAN+3. Implementasi dan koordinasi dari kolaborasi ketiga negara tersebut terlihat dari di helatnya ASEAN+3 summit meeting untuk membicarakan terkait penanganan covid-19 di Asia Tenggara.

Tujuan dari diplomasi masker yang diinisiasi oleh China dan kerja sama yang melibatkan Jepang dan Korea Selatan adalah untuk bekerja bersama karena negara-negara di kawasan memiliki ketergantungan dan kebutuhan yang sama. Mengingat bahwa China, Jepang, dan Korea Selatan juga memiliki pengalaman dalam memitigasi covid-19 di negara masing-masing.

Meski terlihat kecil, langkah kerja sama dengan ketiga negara ini sangat berharga. Apalagi diplomasi masker dan bantuan kemanusiaan yang diberikan oleh China. Sebab, negara besar seperti AS dan beberapa negara di Eropa saja terlihat sangat kesulitan dan kelangkaan patokan APD ketika pandemi global ini semakin menyebar.

Baca Juga  Upaya Indonesia dalam Menangani Pengungsi Rohingya di Aceh

Tidak hanya berhenti pada diplomasi masker, dunia internasional termasuk negara di Asia Tenggara berharap banyak pada vaksin yang diproduksi di China. Vaksin yang sudah dinanti sejak tahun 2020 lalu akhirnya dapat diperoleh dari China, Inggris Raya, dan juga Uni Emirat Arab.

Tidak heran jika banyak negara di dunia yang terdampak covid-19 menjadikan ketiga negara ini menjadi mitra dalam diplomasi kesehatan global, tidak terkecuali negara di ASEAN termasuk Indonesia. Indonesia menjadi negara yang masuk dalam daftar kerja sama yang mengharapkan vaksin covid-19 dari China, Inggris Raya, dan Uni Emirat Arab.

Pemandangan yang unik untuk ditelaah berikutnya adalah proses munculnya pandemi global ini. China sebagai sumber dari penyakit mematikan ini, lalu China juga yang berhasil menemukan vaksin. Sehingga banyak negara anggota ASEAN yang bergantung terhadap China. Apakah China adalah pihak yang paling beruntung dari kehadiran virus ini?