diplomasi kuliner
Saat ini kuliner menjadi trend dalam dunia diplomasi (Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)
0 Shares

Pada tahun 2012, Hillary Clinton menyatakan bahwa makanan adalah salah satu alat efektif untuk meningkatkan pemahaman dan komunikasi antar bangsa dalam percaturan dunia internasional. Tidak lama setelah itu, Amerika Serikat mewujudkan hal tersebut dengan membentuk Department of State’s Diplomatic Culinary Partnership Initiative yang khusus menangani strategi food culinary. Terlepas dari itu, Diplomasi kuliner sebenarnya telah berjalan cukup lama di dunia politik dan penggunaan kata tersebut sudah dipakai semenjak awal tahun 2000.

Adapun Diplomasi kuliner juga dapat terjadi dalam bentuk sebuah jamuan makan yang dilaksanakan oleh suatu pihak dalam sebuah pertemuan. Atau sebuah gerakan yang cukup gencar menggunakan kuliner khas suatu negara untuk menarik dan menjalin relasi dengan negara lain. Seperti ungkapan Presiden Soeharto bahwa semua masalah manusia akan terselesaikan bila perut sudah terisi. Diplomasi kuliner adalah sebuah cara baru untuk melakukan diplomasi yang menyenangkan.

Baca Juga: 5 Negara Terapkan Makanan Sebagai Identitas Nasional

Selain Amerika Serikat, penerapan gastrodiplomacy pun dilakukan oleh Thailand yang kaya akan kulinernya dan banyak digemari oleh para turis. Dimana sesungguhnya sebelum Amerika Serikat menerapkan program gastrodiplomacy pada tahun 2012, Thailand telah menjalankan Diplomasi kuliner, dengan programnya yaitu “Global Thai” yang sudah berjalan sejak tahun 2002 dan terus membuahkan hasil yang baik. Jika menilik dari kesuksesan tersebut tidak mengherankan apabila Korea Selatan melakukan hal serupa di dalam meningkatkan citra positif negaranya. Sebagaimana kampanye gastrodiplomacy Korea Selatan tersebut diwujudkan melalui penyebaran Korean Food Globalization.

Terlepas dari hal tersebut, Korean Food Globalization yang digencarkan oleh Korea Selatan untuk membuat budaya masakan Korea Selatan dapat dinikmati oleh banyak orang di seluruh dunia. Pengembangan ini juga dilakukan untuk memperluas budaya masakan Korea baik domestik maupun internasional serta untuk membantu meningkatkan peluang bisnis yaitu untuk pertanian, kehutanan, perikanan, restoran, pariwisata dan budaya. Dengan demikian, melalui Korean Food Globalization diharapkan dapat meningkatkan citra Negara Korea Selatan. Di sisi lain, dilaksanakannya Korean Food Globalization dikarenakan industri pangan global merupakan salah satu industri yang paling menjanjikan dengan pendapatan yang lebih besar daripada industri elektronik, mobil dan baja.

Kimchi yang merupakan salah satu makanan tradisional Korea dan dijadikan sebagai kampanye gastrodiplomacy-nya Korea Selatan, dengan budayanya Hansik. Kimchi Diplomacy ini terpilih sebagai salah satu dari lima makanan sehat di dunia oleh majalah kesehatan Amerika. Hal lain yang dilakukan dalam pengembangan Korean Food melalui kampanye gastrodiplomacy, seperti melakukan impor produk makanan Korea Selatan yang diawali dari didirikan restoran dengan cita rasa Korea. Hingga berbagai produk-produk olahan makanan ataupun minuman lainnya seperti mie instan buatan Korea ke berbagai negara.

Dalam rangka meningkatkan citra positifnya tersebut melalui diplomasi publiknya sama seperti halnya Korea Selatan, Indonesia pun memanfaatkan peluang potensi kulinernya. Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan berbagai jenis suku, dengan total sekitar 300. Ditambah dengan ratusan tahun pertukaran budaya telah melahirkan keanekaragaman dalam kuliner Indonesia yang mencerminkan beragam tradisi dan budaya tradisi negara. Di samping itu, secara umum juga makanan Indonesia dinilai sangat kaya akan rempah-rempah demikian juga dengan teknik memasaknya yang juga dipengaruhi budaya dari beberapa negara pada masa era kolonialisme dan merupakan potensi untuk dapat dikembangkan. Keunikan kuliner Indonesia juga memegang penting dalam negara antara lain: bidang diplomasi, pariwisata, dan ekonomi.

Seperti yang diketahui bersama, bahwa corak pendekatan diplomasi memiliki beberapa dimensi. Dimulai dari keamanan, ekonomi, politik, budaya, hingga diplomasi di atas meja makan atau yang dikenal dengan diplomasi kuliner. Sesuai dengan kondisi dunia era modern ini yang ditopang dengan globalisasi, maka diplomasi kuliner dipandang sebagai jalur yang tepat untuk menciptakan pemahaman lintas budaya dengan pemanfaatan kekayaan kuliner nusantara. Diplomasi kuliner ini menjadi bagian dari diplomasi publik yang juga tergolong ke dalam soft diplomacy. Kuliner dinilai memiliki peran yang sangat strategis untuk pencapaian kepentingan nasional. Sebab diplomasi kuliner merupakan jalan terbaik untuk memenangkan hati dan pikiran dengan cara mengisi perut yang lapar.

Mengingat hal tersebut, maka inovasi praktek berdiplomasi hadir melalui dunia kuliner yang disebarkan ke seluruh penjuru dunia dinilai merupakan cara yang lebih efektif daripada diplomasi pada umumnya. Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas maka hal ini dilakukan melalui diplomasi kuliner ataupun gastrodiplomacy yang merupakan praktek penyebaran tradisi kuliner baik melalui state actor ataupun non-state actor, yang bertujuan untuk menyebarkan nilai, budaya, dan juga tradisi. Pada kenyataannya, diplomasi kuliner biasanya dilakukan oleh aktor resmi dari negara seperti diplomat dan duta besar. Mereka dianggap dapat memiliki peran dalam mencanangkan misi dari sebuah kegiatan diplomasi di meja makan.

Tetapi wajah diplomasi kuliner ini tidak hanya diisi oleh aktor negara. Beberapa aktor lain seperti chef Indonesia yang diundang dalam acara pameran makanan juga merupakan perpanjangan makna dari diplomasi kuliner. Sebagai perwakilan Indonesia, para juru masak telah mengubah arti diplomat yang sekarang tidak lagi hanya perwakilan dari negara secara resmi saja, namun chef juga memiliki fungsi yang sama dengan diplomat resmi yaitu sama-sama mempromosikan Indonesia. Selain itu juga, aktor non-negara lainnya yang turut membantu diplomasi kulinerIndonesia seperti salah satunya yaitu perusahaan nasional PT. Indofood, melalui produknya yang bernama Indomie.

Indonesia dinilai memiliki tingkat diplomasi kuliner yang masih rendah. Dapat dilihat dari keberadaan restoran khas Nusantara di mancanegara yang jumlahnya tidak sebanding dengan banyaknya restoran mancanegara di Indonesia. Permasalahannya terletak pada banyaknya tantangan yang dihadapi pemilik bisnis restoran mulai dari regulasi yang ketat serta modal yang terbatas. Selain itu terdapat tantangan lainnya seperti, bagaimana mengembangkan sebuah payung merek atau ikon yang kuat untuk berbagai kuliner Indonesia dengan khalayak sasaran yang berbeda. Diplomasi Kuliner merupakan potensi besar yang perlu digali secara lebih maksimal dalam rangka untuk meningkatkan citra positif suatu negara dengan tujuannya yaitu dapat mempengaruhi terhadap hubungan kerja sama antar negara dan meningkatnya pertumbuhan ekonomi Negara. Gastrodiplomacy juga dapat dianggap sebagai strategi yang populer untuk diplomasi publik dan nation branding.

0 Shares