Deng Jia Xi
Deng Jia Xi disebut sebagai sosok pahlawan muda pemberani pembela demokrasi (Foto: Ahmad Said Rifqi/reviewnesia.com)

Pemberitaan tentang gejolak politik di Myanmar sudah tersebar ke berbagai penjuru dunia mulai beberapa minggu silam. Sejak Militer Myanmar mengambil alih pemerintahan terhitung tanggal 1 Februari. Sepanjang jalanan Myanmar tak hentinya berisi para demonstran-demonstran yang menolak naiknya militer ke pemerintahan. Hal ini juga diiringi tindakan-tindakan represif dari kepolisian yang banyak menjatuhkan dan melukai warga sipil.

Tak pelak, ujaran dan opini dari masyarakat dunia dan lembaga hak asasi manusia mulai mengudara. Tentang bagaimana seharusnya suara para demonstran didengar dan agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang mengundang banyak korban. Sebab bila korban banyak yang berjatuhan dan terjadinya kejahatan genosida, maka dunia internasional tidak boleh tinggal diam.

Seperti yang diberitakan banyak media, hal ini adalah buntut panjang dari kalahnya Proksi Tadmadaw Union Solidarity and Development Party di dalam Pemilu Myanmar pada 8 November 2020. Tadmadaw hanya memenangkan 8 persen suara sementara 82% persen suara dimenangkan oleh Partai Liga Nasional Untuk Demokrasi yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi. Hal ini tentu saja membuat Tadmadaw geram, lebih-lebih ia sudah memimpin Myanmar selama puluhan tahun lamanya. Singgungan Politik yang membuatnya turun membuat ia melakukan daya dan upaya untuk kembali bisa merebut kekuasaan. Di antaranya adalah melakukan klaim kecurangan pemilu dan klimaksnya adalah melakukan kudeta.

Baca Juga: Kudeta Myanmar dan Dilema Intervensi ASEAN

Setidaknya dalam sehari usai meledaknya kudeta Militer, ada 18 demonstran yang tewas di hitamnya aspal jalanan kota. Mereka meregang nyawa dengan pukulan dan timah panas di antara tank dan kendaraan-kendaraan lapis baja di kota Burma. Sejak Panglima Tinggi Min Aung Hlaing mendeklarasikan diri sebagai pemimpin Myanmar, akses-akses kemasyarakatan mulai ditutup dan di batas batasi. Internet dimatikan, beberapa daerah disterilkan hingga menahan Aung San Suu Kyi, Presiden Win Myint dan tokoh-tokoh partai LND lainnya. Sampai di awal bulan Februari sebulan silam, Tadmadaw telah mengondisikan sebanyak 400 anggota parlemen pemerintahan Myanmar sebagai tahanan rumah.

Baca Juga  Kudeta Myanmar dan Dilema Intervensi ASEAN

Dan hari ini, yang membuat dunia tercengang, gusar, gelisah, marah, dan berbagai ekspresi kecewa lainnya adalah tewasnya seorang demonstran muda berusia 20 tahun bernama Deng Jia Xi. Fisiknya biasa saja seperti perempuan pada umumnya. Tidak dengan otot berlebih atau persenjataan yang canggih. Ia hanya bermodal t-shirt hitam bertuliskan everything will be OK, celana jeans, sepatu kets, dan google gas air mata. Badannya lunglai menghantam jalanan usai kepalanya tertembus peluru tajam yang sontak menewaskannya.

Ucapan duka cita dan bela sungkawa pun kemudian turun seakan air bah dan seluruh penjuru dunia, memberi pujian akan keberanian Deng Jia Xi dan mulai mengecam Tadmadaw dan segenap perangkat militernya lebih dalam. Deng Jia Xi disebut sebagai sosok pahlawan muda pemberani pembela demokrasi. Yang membuat seluruh dunia lebih tercengang lagi adalah bagaimana Deng Jia Xi meninggalkan seutas surat wasiat kepada ibunya agar ketika ia meninggal nanti, organ-organ tubuhnya bisa didonorkan kepada siapa saja yang membutuhkan. Seluruh dunia seakan mengelus dada dengan se iba-ibanya ketika mengetahui bahwa Deng Jia Xi adalah seorang anak tunggal di keluarganya. Membayangkan perasaan ibunya yang mendapati anaknya pulang meregang nyawa dengan sebatang timah panas di kepala adalah sebuah hal yang sulit sekali digambarkan kesedihannya.

Begitu mahalnya harga demokrasi di sebuah negara sehingga banyak nyawa yang harus terbang lebih tinggi karena tak kuasa menahan amarah pasukan pengaman yang represif luar biasa. Tentunya dunia tidak menginginkan adanya lagi perlakuan yang keras kepada demonstran dan masyarakat sipil yang ingin memberi kebaikan kepada negaranya. Hari ini Deng Jia Xi sudah terbang lebih tinggi dengan sebaik baiknya dan sehormat hormatnya. Dari atas sana ia akan melihat bagaimana penerus-penerus perjuangannya membela keadilan bagi negara agar semua bisa menemukan kepuasan dan kebebasan demokrasi kepada seluruh warga negara. Semoga pejuang keadilan Myanmar dan dunia internasional banyak belajar dari kejadian yang menimpa Deng Jia Xi.

Baca Juga  4 Poin Diplomasi Sains Covid-19 Indonesia di ASEAN

Rest In Power Deng Jia Xi.

Everything Will Be OK.

Penulis : 
*) Penulis adalah Sultan Syafiq, Akedemisi Hubungan Internasional Universitas Muhammadyah Malang.
*) Penulis aktif di Komunitas Foreign Policy Community Indonesia UMM.