david marsh and paul furlong ontology and epistemology
Ontologi dan epistemologi merupakan pijakan dasar untuk dapat menjelaskan suatu fenomena dan siklus keilmuan dengan benar (Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)
6 Shares

Bagi para penempuh studi ilmu sosial dan politik, penjelasan mengenai ontologi dan epistemologi merupakan pijakan dasar untuk dapat menjelaskan suatu fenomena dan siklus keilmuan dengan benar. Berikut beberapa poin penjelasan mengenai aliran positivis dan non-positivis yang dapat dibaca dan dipelajari berdasarkan penjelasan David Marsh dan Paul Furlong.

Positivisme

David Marsh dan Paul Furlong menjelaskan bahwa positivisme memiliki beberapa karakteristik, mulai dari segi ontologi dan epistemologi. Secara Ontologi, Menurut Marsh dan Furlong, dalam positivistik konsepsi tentang realitas sosial adalah natural (Foundationalist). Artinya realitas sosial tidak perlu direkayasa, ataupun di konstruksi karena sudah ada sebagaimana mestinya. Positivistik melihat bahwa semua hal yang terlihat dan diucapkan merupakan realitas sosial yang observable. Artinya aspek-aspek yang tak tampak (unobservable) dapat diabaikan.

Pada aliran positivistik, mereka mengenal sebuah istilah dengan sebutan realitiy is a sweater. Pada bagian yang lain, dalam positivis semua penjelasan yang bersifat ilmiah harus memiliki ciri atau bersifat kausalitas. Aliran ini percaya bahwa tidak ada gejala alam yang bersifat isolatif, kebetulan, atau dengan tidak sengaja terjadi, karena semuanya merupakan bagian dari rotasi rasional yang sudah diatur dalam hukum alam ataupun kehidupan sosial.

Baca Juga: 10 Citra dan Perdebatan dalam Teori Hubungan Internasional

Positivisme juga memiliki beberapa karakter dalam aspek epistemologi. Karakter-karakter ini akan menjawab pertanyaan, tentang apa yang dapat kita ketahui mengenai realitas sosial dan bagaimana kita bisa mengetahui itu? Positivis memiliki elemen keilmiahan yang sangat valid dan handal. Sehingga setiap penemuan dalam cabang ilmu ilmu positivistik dinilai dapat diuji berkali-kali untuk membuat atau membuktikan suatu kebenaran. Hal ini mudah saja, karena positivis dapat mengamati semua realitas yang nampak luar (observable).

Selain itu, terdapat juga tujuan dalam penelitian positivis yang bertujuan untuk menjelaskan sebuah realitas, menentukan ide, suasana dan situasi yang sangat jelas yang ditempuh dengan menggambarkan secara rinci dan mengungkapkan gagasan serta temuan fakta yang dianggap relevan dan dapat menjelaskan sebuah realita sosial. Kemudian, karakteristik di atas membuat klaim kebenaran positivis dapat diklaim secara universal dan di generalisir pada kasus lain, apabila terlihat gejala sosial yang sama.

Positivis juga memiliki ketentuan khusus yaitu menggunakan teori sebagai alat yang netral. Sebab itu ilmuwan positivis haruslah bersifat objektif dan tidak terlibat terhadap realitas sosial. Karakter tersebut membuat ilmuwan positivis harus berjarak dan tidak terlibat dalam meneliti realitas sosial. Karakteristik lain positivis adalah menggunakan logika berpikir deduktif (umum-khusus). Hakikat dari logika deduktif adalah sebuah premis dapat digunakan untuk meramalkan konklusi secara logis ataupun sekedar mengonfirmasi kebenaran teori.

Non-Positivisme

Sejarah non positivisme sudah lama berkembang sejak zaman Yunani Kuno. Sebab itu, tradisi non positivisme kerap disebut sebagai tradisi Aristotelian. Gagasan non positivisme banyak mendapat sumbangan dari Max Weber. Dia menolak adanya penjelasan yang berdasarkan atas generalisasi atau laws di dalam ilmu sosial. Manurut Weber  manusia dapat dibagi dalam dua strata, yaitu the animal level artinya bersifat mekanistik dan biologis dan the rational level yaitu selalu memberikan makna dari setiap tindakannya.

David Marsh dan paul Furlong menjelaskan bahwa non positivisme memiliki beberapa karakteristik ontologi dan epistemologi yang berseberangan dengan positivis. Secara ontologi, konsepsi realitas sosial dalam non positivis adalah anti-foundalist, artinya semua realitas sosial harus dibangun dari konstruksi sosial.Positivis meyakini bahwa realitas sosial yang sesungguhnya adalah apa yang berlangsung dibalik yang nampak, dipraktekkan, dan dikatakan. Tidak semua yang nampak harus dijadikan data yang observable. Karena setiap gejala sosial bisa jadi memiliki arti dan makna yang berbeda. Sebab itu, non-positivis populer dengan reality is a skin.

Anti Positivistik juga memiliki karakter utama dalam aspek epistemologis. Penelitian dalam non-positivis ditujukan tidak hanya untuk menjelaskan, namun juga memahami realitas sosial. Hal itu menyebabkan, kevalidan dan kehandalan fakta dalam non-positivis barulah dapat tercapai apabila kedalaman informasi diperoleh. Ada pula, hal yang terpenting dari non-positivis adalah interpretation. Penelitian dalam non-positivis bersifat fokus dan khusus agar dapat memahami realitas sosial secara utuh. Sehingga menolak adanya generalisasi dan klaim kebenaran yang universal.

Beberapa ketentuan dalam pendekatan positivis adalah subjektivitas ilmuwan dalam menggunakan teori. Sebab itu, ilmuwan teori dituntut untuk berpihak, tidak berjarak, dan terlibat. Ada pula, ilmuwan non-positivis memiliki logika berpikir induktif (khusus-umum), sehingga tidak berpretensi membuktikan kebenaran teori. Non-positivis berupaya menunjukkan keragaman operasi sosial yang mungkin sama atau berbeda dengan tesis dalam teori.

Apa yang telah dijelaskan diatas kiranya dapat kita ketahui bahwa positivis dan non-positivis memiliki karakter yang sangat berbeda antar satu sama lain. Positivis menekankan pendekatan yang bebas nilai, foundalist, nampak luar dan deduktif. Sedangkan non-positivis menekankan pada interpretasi, looks beyond, understanding realities, dan induktif.

Selain itu posisi ilmuwan dalam positivis, dituntut untuk tidak berpihak, berjarak dan tidak terlibat. Sedangkan ilmuwan non-positivis dituntut untuk berpihak, tidak berjarak dan terlibat. Penjelasan pada bagian keempat juga membuktikan bahwa penulis adalah ilmuwan positivis. Hal itu dapat dilihat dari karakter-karakter positivis yang terkandung dalam paper penulis.

Di luar itu semua, dapat kita pahami bahwa setiap pendekatan baik itu positivis ataupun non-positivis, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan dalam meneliti realitas sosial. Bukanlah masalah apakah seorang ilmuwan adalah positivis atau non-positivis. Hal yang terpenting adalah, para ilmuwan sosial haruslah konsisten dengan posisi keilmuan mereka masing-masing.

6 Shares