rivalitas di laut china selatan
China, AS dan ASEAN berebut hegemoni di tempat ini. (Foto: cnnindonesia/reviewnesia.com)
0 Shares

Laut China Selatan yang meliputi sekitar 3.500.000 kilometer persegi yang mengelilingi Selat Malaka dan Selat Taiwan dan terdiri dari lebih dari 250 pulau kecil dan terumbu karang, diyakini memiliki sumber daya alam yang dapat memberikan manfaat bagi negara-negara di sekitarnya. China sebagai konsumen minyak nomor dua terbesar setelah AS, mengimpor 52 persen minyaknya dari Timur Tengah dan mencoba meningkatkan kebutuhan minyaknya dari Laut China Selatan. Selain sumber daya minyak, Laut China Selatan menjadi daya tarik perikanan bagi negara-negara di sekitarnya. Laut China Selatan diperkirakan berkontribusi sekitar 12 persen dari total produksi ikan di seluruh dunia terutama oleh China, Vietnam, dan Thailand.

China yang tidak meratifikasi ZEE mengklaim wilayah Laut China Selatan dengan garis sembilan garis putus-putus (nine dash line). China menduduki pulau-pulau termasuk Kepulauan Spratly dan Paracel dan mulai mengambil kekuatan besar untuk melindungi wilayahnya dari negara lain. Laut China Selatan menjadi pusat daya tarik dengan lokasi yang strategis dan sumber daya alamnya. Secara geografis, Laut China Selatan adalah bagian maritim dari China, Taiwan, Filipina, Vietnam, Brunei, Malaysia, Indonesia, dan Singapura. Peraturan tentang dividennya didasarkan pada Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di bawah Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS).

Baca Juga: Rarotonga, Gerakan Denuklirisasi di Kawasan Pasifik Selatan

Stabilitas Laut China Selatan menjadi masalah penting yang akhir-akhir ini kembali memanas pasca aksi latihan militer yang dilakukan China dan mengundang reaksi dari dunia internasional seperti Amerika, ASEAN, dan India. Ketegangan di Kawasan Laut China Selatan dipandang sudah mencapai titik krisis pasca Amerika Serikat mengirimkan bomber nuklir sebagai bentuk respons untuk menunjukkan kekuatan kepada China. Amerika juga menunjukkan aksi lain dengan menggelar latihan di dekat Kepulauan Paracel. Agenda yang dilakukan Amerika tersebut sebagai bentuk reaksi atas klaim China pada beberapa pulau dan beberapa daerah yang dinilai kontroversial lainnya.

Stabilitas di Laut China Selatan semakin bergejolak karena China mengatakan dapat merespons apa yang sudah dilakukan oleh Amerika dengan kekerasan. Hal tersebut disebabkan karena Amerika yang dinilai sudah menggerakkan kekuatan militernya di Laut China Selatan dengan melakukan latihan bersama dengan dua kapal induk milik Amerika di jalur perairan strategis. Sementara Amerika tidak akan tinggal diam dan terus berupaya untuk menghentikan penguasaan China di wilayah tersebut. Selain sebagai upaya untuk perimbangan kekuatan, aksi yang dilakukan Amerika menunjukkan kepada beberapa sekutu bahwa Amerika masih merupakan negara super power di dunia.

Angkatan laut Amerika bahkan mengatakan akan terus melakukan latihan sebagai upaya untuk memaksimalkan kekuatan pertahanan udara dan memperluas jangkauan serangan di wilayah maritim. China menganggap apa yang sudah dilakukan oleh AS adalah bentuk perpanjangan dari motif tersembunyi sebagai langkah untuk memperkeruh keamanan di wilayah Laut China Selatan. Namun China akan terus berupaya mempertahankan tekad untuk dapat menjaga integritas teritorial, kedaulatan, serta kepentingan maritimnya di wilayah tersebut.

Sementara itu, ASEAN menilai bahwa perjanjian mengenai pengelolaan laut tahun 1982 di AS harus menjadi dasar dari pengaturan hak dan kedaulatan di jalur perairan yang disengketakan. Vietnam atas nama 10 negara blok menyepakati bahwa UNCLOS 1982 adalah dasar untuk menentukan hak kedaulatan, hak maritim, yuridiksi serta kepentingan yang sah atas zona maritim. ASEAN menyayangkan sikap negara yang tidak bertanggung jawab dan melanggar aspek hukum internasional masih terjadi. Mengingat saat ini, ASEAN dan dunia masih fokus untuk memerangi pandemi.

China melakukan klaim atas hampir semua bagian dari Laut China Selatan, termasuk negara-negara ASEAN. Bahkan China dan Filipina pernah terlibat konflik bersenjata karena klaim teritori tersebut. Penyebab sengketa ini semakin panjang karena tiap negara melakukan justifikasi wilayah Laut China Selatan sebagai bagian dari kedaulatan negara mereka. Faktor identifikasi mengenai kedaulatan yang tidak pernah selesai menjadi penyebab pemicu konflik dari negara yang bersengketa. Sikap konfrontatif AS dengan segala kekuatan yang dimiliknya juga menjadi penyebab semakin keruhnya stabilitas keamanan di Laut China Selatan. Jika AS dan China enggan melakukan negosiasi dengan baik dalam mengelola konflik secara konstruktif di kawasan Laut China Selatan, kedua Negara berpotensi untuk menyelesaikan ini dengan menempuh jalur lain, seperti menggunakan kekerasan dan berujung pada perang.

Melihat akar masalahnya, persoalan klaim teritori ini memang berada di AS dan China. AS yang hadir dengan sikapnya yang konfrontatif, sementara China yang mengklaim wilayah LCS hingga 80% dengan modal Sembilan garis putus-putus (nine dash line) yang beredar di tahun 1947 dan 2009. Hal tersebut justru sangat berdampak kepada kedaulatan Indonesia yang bersinggungan langsung dengan Laut Natuna di Kepulauan Riau. Indonesia harus mampu mengambil sikap yang tegas atas sengketa di LCS. Mengingat bahwa China tidak akan menerima pendekatan diplomatik yang biasa.

Seperti yang diketahui bahwa strategi China adalah dengan menempuh realisme politik, mengabaikan segala bentuk diplomasi dan aspek hukum internasional termasuk UNCLOS 1982. Indonesia harus mampu menolak sepenuhnya klaim China atas Laut Natuna karena dipandang tidak memiliki dasar pijakan hukum dan tidak pernah diakui dalam UNCLOS 1982.

Di sisi lain, Filipina dan India siap untuk melakukan kegiatan navigasi di Laut China Selatan dengan tujuan untuk menjaga perimbangan kekuatan di kawasan tersebut. Filipina dan India siap bekerja sama untuk melawan sikap tegas China di Laut China Selatan. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk untuk memperluas kerja sama kemitraan strategis antara kedua negara. Filipina juga telah berkomitmen akan memberikan respons terberat kepada China jika latihan angkatan laut China sampai meluas ke wilayah Filipina. Kemitraan strategis ini juga menunjukkan bahwa Filipina dan India akan merapat untuk mendukung AS dalam menjaga keseimbangan teritorial di Laut China Selatan. Bentuk dukungan yang dilakukan oleh India kepada Filipina adalah perpanjangan konflik perbatasan antara India dan China di perbatasan Himalaya.

0 Shares