perubahan iklim
Perubahan iklim disebabkan oleh berbagai faktor. (Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)

Waktu demi waktu manusia semakin menunjukkan perkembangan dalam segala aspek, begitu juga dengan dampak perkembangannya. Sejak zaman revolusi industri di Inggris beberapa abad silam, manusia dan alam seakan selalu bertolak belakang dalam sebuah kemajuan kehidupan.

Banyak hal yang dikembang dan disebarluaskan oleh manusia secara luas namun terkadang minim perhatian untuk alam. Segala aspek lingkungan mulai dicemari oleh limbah dan pemakaian barang barang industri mulai dari segi produksi hingga konsumsi. Udara, tanah, air, semuanya tidak lagi mengalami sebuah kemurnian yang benar benar murni dengan lahirnya banyak industri buah kaki tangan manusia modern.

Lagipula manusia sendiri yang membuat, manusia yang mengambil manfaat, manusia yang merugi, manusia juga yang memperbaiki lagi. Ketika dampak keseluruhan untuk bumi dirasakan secara luas dan menyeluruh, maka perhatian perhatian masyarakat luas mulai terasa, mulai mengambil titik yang lebih jauh untuk mengendalikan perkembangan industri tanpa harus merusak alam.

Sebut saja beberapa brand apparel olahraga yang dalam satu produknya menggunakan tiga belas sampah botol plastik, dimana produk mereka tercipta, dan samudra menjadi lebih bersih kemudian.

Beberapa tempat minum kopi tidak lagi menyertakan sedotan plastik dan menggunakan sedotan stainless untuk menanggulangi sampah plastik. Meski belakangan lucu, salah kaprah. Sedotannya sudah baik stainless, namun gelasnya masih plastik. Membingungkan. Dan memang kebanyakan manusia seperti itu.

Pada akhirnya setiap aspek industri memiliki komoditi sampah mereka sendiri dan memiliki titik pembuangan tersendiri. Beberapa menggelap gelapkan pembuangan, beberapa lainnya berbaik baik dengan penduduk setempat dengan berbagai kegiatan amal yang memberi perhatian.

Baca Juga : Perkembangan dan Hubungan Politik, Lingkungan Hidup dan Globalisasi

Seolah mereka adalah sebuah perusahaan yang baik padahal merusak alam sedikit demi sedikit. Perusahaan elektronik dari seluruh dunia mengaku bahwa mereka memang sengaja membuat produknya agar tahan dipakai maksimal beberapa tahun saja agar para konsumen mau membeli barang baru mereka di periode mendatang.

Akibatnya sampah elektronik pun bertumpukan. Berbagai sirkuit, medium dan kabel kabel yang dahulu dirangkai dengan susah payah menjurus seakan robot usang yang tak lagi dipakai.

Diatas Adalah Contoh Barang Papan dan Pangan, Lalu Bagaimana Dengan Sandang?

Menarik memang, manusia yang menciptakan, manusia yang menghancurkan kini manusia kembali yang membentuk sebuah jalan keluar. Menyasar sasaran konsumen anak muda di berbagai penjuru dunia, trend thirft shop atau membeli pakaian berhasil meracuni kawula muda di seluruh dunia. Motifnya bermacam macam, mulai dari mencari fashion dengan harga termurah hingga menemukan yang langka ditemukan di pasaran secara luas.

Baca Juga  Covid-19; Indonesia - Philippines Economic Recession Response

Satu hal, manfaatnya bagi lingkungan adalah agar tidak tercipta lagi sampah industri sandang yang berdampak buruk bagi lingkungan. Namun yang harus menjadi pengertian disini adalah sebuah pemahaman yang harus dipahami bersama. Tanpa tedeng aling aling untuk mengajak orang banyak menyelamatkan lingkungan dengan dalih harus membeli produk thrift, orang sering salah paham tentang bagaimana produk thrift itu sendiri.

Kebanyakan mengartikan thrift selalu tentang barang loak dan barang barang bekas dari pengguna dalam dan luar negeri yang tidak lagi dipakai lalu dicuci bersih dan dijual, memang ada yang seperti itu, namun hanya sebagian kecil.

Yang kebanyakan dijual oleh toko atau komunitas Thirft shop adalah barang barang pasca produksi pabrik yang tidak lolos quality control lalu dilepas di pasaran dengan harga rendah dan bentuk distribusi yang berbeda. Sebut saja mereka menjual melalui karyawan atau tangan tangan dalam lainnya.

Dilansir dari sebuah Thirft Shop tepercaya yang sudah malang melintang di dunia thrift sejak 2018 lalu, ia mengaku barang dagangannya pada awalnya memang untuk mencari mata pencaharian tanpa ada kesadaran bahwa ittu juga bisa membantu merawat lingkungan.

Penjelasannya adalah membagi beberapa kategori produk kedalam ceruk yang berbeda beda. Mulai dari original sisa pabrik, dari pabrik akan banyak produk produk yang tidak lulus kontrol kualitas, sisa produksi berlebih, produk yang dicancel oleh client vendor, hingga kesalahan kesalahan teknis seperti salah produksi warna atau jahtitan.

Sejak awal para seller sudah membuat pernyataan dan poin poin bahwa ada perbedaan antara produk asli dengan produk pabrik. Oleh karena itu mereka para konsumen bisa mendapatkan dengan harga yang jauh lebih murah.

Baca Juga  Kebijakan Indonesia Menghadapi Sengketa Laut Natuna

Fakta Tersembunyi Dibalik Fast Fashion Terhadap Perubahan Iklim

Fast fashion sesuai namanya merupakan salah satu jenis industri pakaian dengan mekanisme produksi pakaian dengan berskala besar demi menargetkan demand pada pasar.

Meningkatnya trend pada dunia fashion menjadi peluang bagi berbagai bisnis dan industri pakaian untuk memproduksi berbagai jenis trend pakaian demi meraup keuntungan di tengah-tengah kerumunan masyarakat dengan tingkat konsumerisme tinggi. dari sini bisa dilihat ada peningkatan kuantitas pada industri Fast Fashion namun tidak pada kualitasnya.

Dilansir dari Ellen Mcarthur Foundation, industri fast fashion merupakan salah satu penyumbang polusi terbesar di seluruh negara dan tingkat produksi limbah textile yang tidak terkontrol.

Bagaimana tidak, industri fast fashion menekankan pada produksi barang berkualitas tinggi dengan biaya yang rendah, penggunaan zat kimia pada warna pakaian yang digunakan memerlukan manajemen limbah khusus agar tidak mencemari lingkungan.

Selain itu maraknya limbah buangan seperti ribuan helai kain perca dan benang tak terpakai mendorong terciptanya Throw Away Culture atau budaya membuang pakaian yang tak terpakai dari konsumen Fast Fashion dengan pertimbangan harga murah dan bisa beli lagi di perusahaan yang sama dengan model baru.

Hal ini dapat menimbulkan penumpukan pakaian tak layak pakai yang terpaksa harus dimusnahkan atau bahkan tak terawat hingga menghasilkan gas metana dengan skala yang tinggi dan berpengaruh terhadap pemanasan Global.

Permasalahan kualitas produksi dan mekanisme industri Fast Fashion dengan tingkat trend masyarakat yang konsumerisme menimbulkan permasalahan lingkungan yang berdampak pada perubahan iklim dunia yang disebabkan dari produksi emisi gas karbon pabrik tekstil produksi pakaian, serta limbah kimia dari zat kimia pewarna textil menimbulkan permasalahan serius pada kualitas lingkungan, namun penerapan manajemen limbah untuk pabrik-pabrik atau perusahaan textile di bidang fast fashion tidak mudah untuk diterapkan. Maka kita perlu solusi tanggap dalam menghadapi arus pop culture dalam industri Fast Fashion.

Sumber :

*) Penulis adalah Syafiq dan Luqman berasal dari Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) UMM