Belt and Road
(Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)

Dalam beberapa tahun terakhir ini, kebangkitan Cina dalam berbagai bidang terutama perihal kekuatan ekonominya menjadi sorotan dunia internasional, terutama negara-negara di kawasan Asia Timur.

Bangkitnya kekuatan Cina ini menjadi daya saing yang cukup ketat bagi negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat. Kekuatan ekonomi yang sangat mumpuni, disertai dengan strategi keamanan yang kuat membuat Cina menjadi negara yang sangat diperhitungkan posisinya saat ini di dunia internasional.

Dari sektor ekonomi misalnya, Cina telah banyak mengeluarkan inisiasi dan gagasan yang sedang digencarkan, seperti misalnya, gagasan One Belt One Road (OBOR). Dengan gagasan OBOR Cina menjadi salah satu negara yang peningkatan mengenai energinya cukup tinggi.

Pengamanan mengenai energi merupakan hal yang sangat krusial bagi Cina mengingat saat ini ia adalah negara industri besar yang membutuhkan banyak pasokan energi. Dalam strateginya untuk pengamanan energi, Cina tidak banyak memfokuskan perhatiannya bukan hanya pada negara-negara yang memang menjadi sumber energi.

Cina mulai memasok minyak dari negara lain dikarenakan perkembangan dan pertumbuhan ekonominya yang sangat cepat mengakibatkan kegiatan industrialisasinya juga semakin berkembang, sehingga membutuhkan lebih banyak energi.

Sejak tahun 1979 hingga 1994 produktivitas Cina mengalami kenaikan hingga 3,9% pertahun. Sebelum memasok bahan energi dari Kazakhstan, Cina memasok energi dari negaranya sendiri. Hingga pada tahun 2005, produksi minyak Cina hanya sebesar 3,7 juta barel/hari, sedangkan konsumsinya mencapai 6,8 juta barel/hari, dan kebutuhan ini terus meningkat setiap tahunnya.

Wilayah Asia Tengah yang menjadi fokus utama Cina adalah wilayah Kazakhstan. Wilayah tersebut memang telah terbukti menjadi pemasok energi minyak dan gas bagi Cina selama ini. Kazakhstan dipilih karena secara ekonomi, Kazakhstan memiliki keadaan yang lebih baik di bandingkan negara-negara di Asia Tengah lainnya pasca masa komunisme, Kazakhstan juga memiliki potensi cadangan minyak lebih banyak dengan jumlah mencapai 30 miliar barel dan gas alam sebanyak 84 triliun kubik.

Untuk memperlancar jalannya transaksi energi dengan Kazakhstan, strategi yang dilakukan Cina adalah membeli saham perusahaan minyak pemerintah Kazakhstan yang bernama Aktyubeimunaigas sebanyak 60,3% di tahun 1997. Kemudian Cina dengan pemerintah Kazakhstan juga membentuk join venture dengan penandatanganan kesepakatan untuk pembangunan jalur pipa minyak dengan nama Atyrau-Alashankou.

Selain Cina, Jepang juga memiliki hubungan baik dan ikatan kuat dengan negara-negara di Kawasan Asia Tengah. Dan dengan konteks yang sama, Jepang juga memiliki kepentingan mengenai pemasokan kebutuhan energi nasionalnya.

Baca Juga : Rivalitas China, AS dan ASEAN dalam Sengketa Laut China Selatan

Oleh karena itu, pemerintah Jepang telah melakukan sejumlah investasi melalui perusahaan-perusahaan Jepang yang berada wilayah Asia Tengah, seperti INPEX Corporation yaitu perusahaan eksplorasi minyak dan gas terbesar milik Jepang. Pasokan energi dari Asia Tengah sangat penting bagi Jepang, pemerintah Jepang telah melakukan sekuritisasi bagi keamanan pasokan energinya.

Bahkan kawasan Asia Tengah menjadi penting bagi Jepang dalam membangun kekuatan kerja sama di dunia Internasional, seperti pada tahun 2004 pemerintah Jepang merencanakan untuk membentuk Central Asia plus Japan sebagai misi dari tercapainya Action Plan Jepang sebagai strategi Jepang dalam memperkuat status politiknya di dunia internasional.

Dengan berlangsungnya OBOR di kawasan Asia tengah, Jepang berupaya untuk mengamankan sumber energi di Kazahstan dengan cara melakukan pendekatan ekonomi melalui tindakan investasi perusahaan-perusahaan Jepang di Kazahstan. Sebagai negara yang memiliki kebutuhan besar terhadap energi, Jepang berusaha membangun kerja sama dengan kawasan Asia Tengah. Jepang sendiri merupakan negara yang membantu Kazahstan di saat awal-awal merdeka.

Jepang juga sudah berupaya untuk menyeimbangkan pengaruh China di Asia tengah melalui Kazakhstan dengan membentuk Central Asia plus Japan yang telah diselenggarakan sebelum adanya OBOR, Kepentingan China di Kazakhstan sudah dimulai sebelum adanya OBOR mengingat China juga negara industri besar yang membutuhkan sumber daya energi, dan Kazahstan merupakan “jantung” energi di kawasan Kazakhstan.

Pada studi kasus pengaruh kebijakan OBOR (One Belt One Road) China terhadap kepentingan Jepang di Kazakhstan dapat diketahui bahwa dampak yang dihasilkan dari kebijakan tersebut banyak berimplikasi ke berbagai sektor baik Jepang maupun China sendiri.

Gagasan OBOR yang mempunyai dua jalur yaitu, Silk Road Economic Belt (jalur darat) dan 21st Century Maritime Silk Road (jalur laut). Kazakhstan yang berada di kawasan Asia Tengah merupakan jalur yang akan dilalui Silk Road Economic Belt yang tentunya akan berdampak besar terkait kepentingan China di kawasan tersebut yang terkenal dengan potensi energi yang besar.

Begitu pula Jepang yang bergantung pada sumber eksternal dalam pemenuhan energi menjadikan negara-negara di Asia Tengah sebagai mitra dalam kepentingan tersebut. Selain itu Jepang juga mempunyai tujuan untuk membangun kekuatan politik lebih besar di dunia internasional mengingat Jepang sendiri dibatasi secara militer oleh Konstitusi Jepang Pasal 9, maka dari itu penting bagi Jepang membangun kekuatan politiknya dengan memperoleh dukungan dari Asia Tengah guna menutup kelemahannya tersebut.

Dari fakta-fakta di atas dapat dikatakan China dan Jepang telah mempunyai kepentingan di kawasan yang sama dan hal ini akan berdampak pada perilaku dari tiap negara. Dilihat melalui konsep Security Dilemma atau dilema keamanan maka studi kasus ini akan mengarah kepada respons dari tiap negara yang merupakan hasil dari kebijakan negara satunya, dalam hal ini China dengan gagasan OBOR yang membuka kerja sama dengan negara-negara Asia Tengah dan salah satunya adalah Kazakhstan akan sangat membantu pemenuhan China untuk menyokong pertumbuhannya dalam berbagai sektor mulai dari ekonomi hingga keamanan.

Jepang sebagai negara yang juga mempunyai kepentingan seperti yang telah disebutkan di atas di kawasan tersebut akan merasa terancam dengan tindakan yang diambil oleh China mengingat keterbatasan sumber daya yang pastinya akan semakin berkurang dan pengaruh Jepang yang akan turut melemah di kawasan tersebut.

Selain itu, untuk terus mendukung pertumbuhan China dalam pemenuhannya di berbagai sektor, ia juga mendirikan SCO (Shanghai Cooperation Organisation) guna menciptakan lingkungan yang aman dengan gagasannya memerangi terorisme, separatisme, ekstremisme dalam konvensi Shanghai ditandatangani oleh beberapa negara Asia Tengah. Hal tersebut merupakan langkah China untuk menciptakan stabilitas keamanan baik di kawasan tersebut maupun bagi dirinya sendiri.

Dari berbagai langkah yang telah dilakukan China tersebut tentunya akan memicu Jepang yang dapat dikatakan “terganggu” akan hal tersebut untuk menanggapi atau turut mengambil tindakan yang serupa guna memenuhi kebutuhannya tersendiri baik dalam sektor keamanan maupun pengamanan energi.

Dilema keamanan yang terjadi di antara kedua negara yang sama-sama berada di kawasan Asia Timur tersebut mulai terlihat dari tindakan Jepang yang mendukung India sebagai partner utamanya dalam proyek AAGC (Asia-Africa Growth Corridor) yang merupakan proyek tandingan OBOR dengan tujuan mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi berbagai negara di Asia, Afrika, hingga Oseania.

Kemudian dilanjutkan dengan adanya perundingan empat arah antara Jepang, Australia, Amerika Serikat, dan India yang membahasa skema pembentukan infrastruktur bersama sebagai alternatif dari infrastruktur inisiasi China, OBOR.

Hal ini dianggap sebagai inisiatif dari keempat negara tersebut untuk menyaingi OBOR dengan mengatakan bahwa jalur ekonomi yang dibangun oleh China tidak layak dan atas dasar ini mereka membangun alternatif tersebut meskipun dari pihak keempat negara tadi mengatakan hal ini merupakan alternatif bukan untuk menyaingi.

Ada pula langkah Jepang yang terikat perjanjian dengan Uni Eropa yang juga merupakan kesepakatan infrastruktur guna mengoordinasikan berbagai proyek yang menghubungkan Eropa dan Asia juga sekaligus sebagai alternatif OBOR.

Pasalnya sebagian Uni Eropa mengkritik proyek OBOR dikarenakan menghalangi perdagangan bebas dan merupakan alat politik untuk China, maka dari itu mereka menilai hal ini cenderung tidak membawa keadilan.

Berbagai langkah yang telah diambil Jepang di atas terlihat respons Jepang dari tiap tindakan yang diambilnya cenderung sangat kontra terhadap proyek OBOR dari China yang dianggap dapat mengganggu kepentingan Jepang sendiri yang dalam studi kasus ini melihat Kazakhstan sebagai negara di kawasan Asia Tengah dengan berbagai sumber daya yang dapat memberikan keuntungan bagi negara yang menjalin kerja sama dengannya. Respons yang diambil Jepang akhirnya berbuntut pada berbagai kerja sama Jepang yang melibatkan banyak negara terkait kebijakan alternatif dari OBOR.

Dari langkah Jepang tersebut terlihat adanya upaya untuk mengimbangi atau menyaingi apa yang telah dilakukan China, hal tersebut juga dapat dikatakan sebagai bentuk pengamanan dan pengimbangan Jepang untuk menutupi kekurangannya dalam beberapa sektor seperti keamanan hingga ekonomi.

Hadirnya kerja sama yang menjurus atau berhubungan dengan proyek OBOR China secara tidak langsung mencerminkan kekhawatiran Jepang atas proyek China tersebut dan mengimplikasikan Jepang sangat terganggu atas hadirnya OBOR sebagai gagasan China dalam menyokong pertumbuhannya.

Pada sektor keamanan dapat dilihat bahwa Jepang dengan kekurangan dan keterbatasan militernya mencari alternatif solusi dalam memenuhi hal tersebut yang kebetulan terganggu oleh OBOR dan kembali mencari solusi lain guna mengatasi adanya OBOR tersebut sekaligus memenuhi kebutuhannya sebagai negara dengan keterbatasan pada beberapa sektor tersebut.

Di sisi lain China pastinya akan merasa terancam dan terganggu dengan berbagai langkah yang diambil Jepang tadi yang cenderung tidak mendukung proyek OBOR. Hal inilah faktor utama yang menyebabkan dilema keamanan terjadi antara kedua negara satu kawasan tersebut yaitu, Jepang dan China.