bahasa indonesia sebagai diplomasi
Indonesia sudah melaksanakan program BIPA sebagai diplomasi bahasa (Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)
0 Shares

Bahasa Indonesia merupakan salah satu bahasa dunia yang berkembang pesat pada abad ke 20 ini. Pengajaran bahasa Indonesia kian mengalami peningkatan baik di dalam maupun luar negeri. Dengan perkembangan hubungan Indonesia dengan Negara lain dalam bidang pendidikan, budaya, dan pariwisata, menyebabkan bahasa Indonesia semakin dikenal. Dengan demikian, semakin besar kebutuhan yang dirasakan akan perlunya orang asing yang mempelajari bahasa Indonesia.

Pada tahun 2009 lalu, bahasa Indonesia telah resmi dinobatkan sebagai bahasa asing kedua oleh pemerintah Ho Chi Minh City, Vietnam. Kemudian, berdasarkan data dari Kemlu di tahun 2012, bahasa Indonesia memiliki penutur asli terbesar peringkat kelima di dunia. Tercatat yakni sebanyak 4.463.950 orang yang tersebar di luar negeri. Bahkan, Ketua DPR RI dalam sidang AIPA ke-32 pada tahun 2011 mengusulkan bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa kerja dan diterima oleh dunia internasional secara luas.

Baca Juga: Science Diplomacy; Prospek dan Tantangan Diplomasi Indonesia

Fakta-fakta tersebut mendukung usaha peningkatan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional yang sedang digalang Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Program BIPA. BIPA adalah program pembelajaran keterampilan berbahasa Indonesia mulai dari berbicara, menulis, membaca, dan mendengarkan bagi penutur asing. Antusiasme pihak asing terutama mahasiswa asing terhadap bahasa Indonesia terlihat sangat tinggi. Hal ini dipengaruhi juga oleh kemajuan yang dicapai bangsa Indonesia pada percaturan global. Terlihat bahwa dalam pergaulan internasional, Indonesia berhasil menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa penting yang harus dilirik dunia. Hal itulah yang kemudian menjadi ketertarikan pihak asing untuk mempelajari bahasa Indonesia  sebagai alat untuk mencapai berbagai tujuan, baik ekonom, politik, seni budaya, pendidikan maupun pariwisata.

Indonesia yakin bahwa BIPA dapat menjadi alat diplomasi. Selain membangun hubungan persahabatan dan kerja sama, BIPA juga berperan sebagai wadah komunikasi untuk menunjukkan Indonesia yang beragam. Sejalan dengan hal tersebut, dengan makin meningkatnya persahabatan dan kerja sama antar bangsa, pengajaran BIPA dapat pula berperan sebagai penunjang keberhasilan diplomasi Indonesia di dunia internasional. Oleh karena itu, posisi BIPA sebenarnya layak dipandang sebagai bagian dari strategi dan diplomasi Indonesia. Strategi diplomasi untuk mencapai kepentingan nasional melalui bahasa bagi penutur asing juga sudah dilakukan oleh negara lain seperti Inggris, Jerman, dan Jepang. 

Karena sifatnya yang melibatkan penutur asing, bukan orang Indonesia asli, maka pengajaran BIPA saat ini banyak terdapat di luar Indonesia. Minat penutur asing untuk mempelajari bahasa Indonesia semakin berkembang pesat. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya orang asing baik dari Negara tetangga seperti Australia maupun Negara lain di Asia, Amerika dan Eropa yang ingin belajar bahasa Indonesia dengan berbagai motif tujuan.

Saat ini bahasa Indonesia telah dipelajari di 35 negara di dunia, antara lain di Australia, Amerika, Jepang, Korea, Singapura, dan Negara-negara kawasan Eropa Barat. Orang yang berminat untuk belajar bahasa Indonesia dari waktu ke waktu semakin meningkat. Ada berbagai tujuan dan kepentingan yang melatarbelakangi banyak orang asing mempelajari bahasa Indonesia. Sebagian mereka mempelajari bahasa Indonesia dilatarbelakangi oleh tujuan dan kepentingan untuk pengkajian tentang Indonesia, untuk memperoleh kesempatan sekaligus kelancaran bekerja di Indonesia, untuk kelancaran perjalanan wisata, dan termasuk dalam rangka kerja sama pada bidang tertentu.

Keadaan ini tidak terlepas dari keberadaan Indonesia dalam kancah kehidupan dunia internasional. Negara-negara lain merasa berkepentingan untuk menjalin hubungan ekonomi dan politik serta kerja sama dalam banyak hal dengan Indonesia. Salah satu faktor penunjang tercapainya hubungan dan kerja sama tersebut adalah dengan penguasaan bahasa Indonesia. Dengan demikian, mereka berusaha untuk dapat menguasai bahasa Indonesia. Indonesia melalui program BIPA melakukan diplomasi publik secara aktif melalui instrumen pendidikan, budaya, serta media massa dalam membentuk opini publik. Ketiga instrumen diplomasi publik ini digunakan dengan melibatkan aktor non government untuk meningkatkan government to people relation dan people to people relation. Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan kemajuan media massa serta besarnya minat para mahasiswa untuk mempelajari bahasa Indonesia guna memenuhi kepentingan mereka menjadi faktor pendukung keberhasilan pelaksanaan diplomasi publik melalui program BIPA. Kemajemukan budaya dan bahasa yang dimiliki Indonesia, kontak bahasa Indonesia antara pelaku program, serta sikap mental masyarakat dan mahasiswa Indonesia menjadi penghambat dalam pelaksanaan program BIPA.

Media massa memiliki kekuatan untuk mencapai persamaan persepsi di kalangan masyarakat dunia yang kemudian dapat membantu berhasilnya proses diplomasi secara keseluruhan. Media massa tidak hanya berperan dalam diplomasi di tingkat domestik saja, tetapi juga sebagai alat untuk diplomasi lintas Negara terkait berbagai isu yang dapat membuat situasi nasional maupun internasional menjadi lebih kondusif. Berbagai isu yang sering kali terjadi adalah terkait adanya perbedaan pemahaman yang disebabkan karena perbedaan budaya di masing-masing Negara. Di sini kemudian media bisa memiliki peran terdepan untuk mengurangi kesalahpahaman yang muncul akibat isu terkait. Media tidak hanya memiliki kekuatan sebagai alat diplomasi di lingkup domestik, tetapi juga sebagai instrumen diplomasi lintas Negara. Setiap hari pemerintah harus mengoreksi penyajian-penyajian yang keliru pemberitaannya, sekaligus menyampaikan pesan tentang strategi jangka panjangnya. Kekuatan utama pendekatan media massa adalah pada jangkauan audiennya dan pada kemampuannya membentuk kesadaran publik.

Revolusi teknologi yang menandai lahirnya abad ke-21 secara mendasar telah mengubah tatanan dunia. Prinsip keterbukaan dalam kehidupan masyarakat global dapat terwujud melalui penciptaan sistem komunikasi yang baik. Di sini lah kemudian media menjadi alat penting guna mewujudkan sistem hubungan antar Indonesia dengan dunia internasional melalui pemberitaan pelaksanaan program BIPA yang ada di Indonesia.

Peran media menjadi penghubung antar masyarakat Indonesia dengan para publik internasional yang memiliki ketertarikan terhadap bahasa Indonesia. Mobilisasi yang tinggi terhadap bahasa Indonesia sebagai salah satu aktivitas diplomasi publik terhadap dunia global menjadi sebuah hal yang mudah untuk dicapai dengan adanya peran media massa. Dalam hal ini, bahasa Indonesia menjadi alat terciptanya komunikasi untuk menjalin kerja sama bagi masyarakat dunia dan sebagai alat untuk mencapai tujuan nasional bagi Indonesia. Hal itulah yang mendasari bahwa pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing menjadi hal yang sangat potensial bagi keberlangsungan proses diplomasi Indonesia. Potensi nyata dari peran media massa tersebut dapat dilihat dengan semakin bertambahnya minat para mahasiswa asing untuk mempelajari bahasa Indonesia di lingkup domestik. 

Budaya dapat berperan dalam diplomasi publik dikarenakan budaya adalah faktor penting yang dapat digunakan untuk membangun citra dan juga menjadi strategi dalam diplomasi publik dan juga people to people relation. Dalam diplomasi publik Indonesia, budaya memiliki dua peran tersebut yakni sebagai membangun citra dan people to people relation. Di samping itu, budaya juga menjadi alat pendukung diplomasi terutama untuk menarik perhatian asing dan membangun citra positif bagi Indonesia di mata internasional. Hal itu disebabkan karena budaya terlihat lebih soft sehingga tidak terkesan politis.

0 Shares