Rohingya
Hampir 40 tahun yang lalu, Arab Saudi menerima puluhan ribu pengungsi Rohingya yang mengalami penganiayaan di Myanmar. (Foto: Ahmad Said Rifqi/reviewnesia.com)

Sebagian diantara kita mungkin masih bingung untuk membedakan antara pengungsi (refugee) dan pencari suaka (Asylum Seeker). Secara sederhana, baik pengungsi ataupun pencari suaka adalah sekelompok orang yang terusir dari suatu daerah atau negaranya disebabkan karena adanya bencana alam, konflik sosial, peperangan, maupun politik. Status perlindunganlah yang membedakan keduanya.

Definisi Pengungsi mengacu pada Konvensi 1951 tentang Status Pengungsi, UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees) menjelaskan “setiap individu yang memiliki rasa takut sehingga menjadi alasan kuat menjadi korban penganiayaan yang disebabkan oleh adanya alasan ras, agama, kebangsaan, serta keanggotaan kelompok sosial tertentu dan keanggotaan partai politik tertentu yang berada di luar negara kebangsaannya dan tidak menginginkan perlindungan dari negara tersebut.”

Sedangkan pencari suaka (Asylum Seeker) Individu yang mengaku dirinya sebagai pengungsi namun masih menunggu penetapan status dari UNHCR. UNHCR dapat menetapkan pencari suka sebagai pengungsi jika berdasarkan verifikasi orang tersebut memenuhi syarat yang ditetapkan. Misalnya, keselamatan jiwanya terancam di negara asal karena pandangan politik atau kepercayaan yang dianutnya.

Hampir 40 tahun yang lalu, Arab Saudi menerima puluhan ribu pengungsi Rohingya yang mengalami penganiayaan di Myanmar. Sekarang, Arab Saudi meminta Bangladesh yang mayoritas Muslim mengeluarkan paspor untuk sekitar 54.000 Rohingya. Muslim etnis Rohingya adalah etnis minoritas yang berasal dari negara yang terletak di bagian Rakhine, negara Myanmar. Namun, negara Myanmar menolak untuk mengakui etnis ini sebagai warga negara. Etnis Rohingya yang tinggal di Arab Saudi tidak memiliki paspor dari negara manapun. Bahkan anak-anak Rohingya yang lahir di Arab Saudi dan berbahasa Arab tidak diberikan kewarganegaraan Saudi.

Baca Juga : Tindakan Terorisme Global Dalam Pandangan Islam

Baca Juga  Arab Saudi Akan Menangkap Pelanggar Protokol Kesehatan

Perlakuan Junta Militer kepada etnis Rohingya terlihat begitu mendiskriminasi sehingga mereka kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Etnis Rohingya kemudian memilih untuk mengungsi ke Arab Saudi tercatat tepatnya sejak tahun 1968 lalu etnis ini diterima di Arab Saudi di bawah kepemimpinan Raja Abdul Aziz, etnis ini diberi tempat tinggal di Kota Mekkah.

Pada tahun 1980, Raja Abdul Aziz mengeluarkan izin untuk bermukim dan tinggal di Arab Saudi. Hal ini disampaikan langsung pada Forum Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Jeddah. Sebanyak 7 negara dari 57 negara anggota perwakilan OKI terjun langsung ke lokasi untuk membantu penyelesaian konflik etnis Rohingya. Ketujuh negara tersebut adalah Indonesia, Malaysia, Mesir, Turki, Djibouti, dan Arab Saudi.

Berdasarkan ketujuh negara tersebut, Arab Saudi merupakan negara dengan kekuatan ekonomi yang baik. Bahkan Arab Saudi juga membantu dengan memberikan dana dan obat-obatan hingga bantuan infrastruktur kepada para etnis Rohingya. Bantuan yang diberikan tersebut lebih mengatasnamakan negara bukan organisasi.

Rohingya mendapat perlakuan istimewa dari Arab Saudi terkait izin tinggal keimigrasian. Mereka diberikan loket khusus di Imigrasi Arab Saudi untuk memperpanjang iqomah (izin tinggal) dan keperluan lainnya namun tetap tidak memiliki paspor. Hal ini karena Kedutaan Besar Myanmar di Riyadh tidak mengakui bahwa Rohingya sebagai warga negaranya dan pihak Arab Saudi sudah menetapkan mereka sebagai pencari suaka.

Anak-anak yang lahir secara otomatis mendapat perlakuan yang sama dan mendapat izin tinggal di Arab Saudi dengan mengikuti orang tuanya. Jika salah satu orang tua berasal dari negara lain misal ibu dari Indonesia maka Arab Saudi mengizinkan anak tersebut untuk pulang ke Indonesia mengikuti ibunya  dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Baca Juga  Citizen Diplomasi Fiki Naki Dayana

Meskipun mereka mendapat perlakuan istimewa dari kerajaan Arab Saudi namun terdapat suku Rohingya yang melakukan pelanggaran keimigrasian dan pelanggaran kecil lainnya yang menyebabkan mereka dideportasi.

Dalam UNHCR bahwa pengembalian pengungsi ke negara asal dapat dilakukan secara sukarela melalui proses repatriasi atau secara paksa dengan cara deportasi. Sampai saat ini Pemerintah Arab Saudi masih dibingungkan dengan masalah deportasi Rohingya ke negara asal karena tidak adanya jaminan keamanan malah justru keadaan semakin tidak kondusif.

Pemerintah Arab Saudi juga meminta negara Bangladesh untuk bisa menerima suku Rohingya yang di deportasi. Menurut Momen dalam konferensi pers di ibu kota, Dhaka dilansir dari DW bahwa banyak pengungsi atau deportan tidak pernah datang ke Bangladesh dan tidak tahu tentang negara. Mereka hanya mengetahui budaya Arab Saudi dan berbicara bahasa Arab.

Sumber Bacaan:

Ashari, Khasan. (2015). Kamus Hubungan Internasional. Nuansa Cendekia. Bandung.

UNHCR. The UN Refugee Agency https://unhcr.org/id/pencari-suaka.