krisis ossetia
Potret duka yang dirasakan masyarakat Ossetia akibat krisis yang terjadi (Foto: fordhamobservercom/reviewnesia.com)
15 Shares

Konflik Ossetia Selatan dimulai tahun 1989 berawal dari adanya konflik etnis Georgia dan Ossetia di Ossetia Selatan. Kemudian tahun 1990-1991 adanya gerakan separatis Ossetia Selatan dengan Georgia. Tahun 1992 Ossetia Selatan memerdekakan diri dari Georgia secara sepihak melalui referendum yang tidak diakui. Tahun 2001, Rusia menuduh Georgia membantu Pemberontak Checen. Tahun 2002 Ancaman serangan militer Rusia ke Georgia. 2004 pemilu parlemen Ossetia selatan yang mana tidak diakui oleh pemerintah Georgia. 2005, tawaran status ekonomi dari pemerintah Georgia yang ditolak oleh Ossetia Selatan dan tetap menginginkan kemerdekaannya.

Pada Tahun 2006, konflik Rusia Georgia, pemerintah Georgia meminta pasukan penjaga perdamaian Rusia yang melakukan rotasi di Ossetia Selatan harus memilih visa sah. Berlanjut di 2007, Georgia menuduh Rusia menuduh Rusia melanggar batas wilayah udaranya dengan masuknya kapal Rusia ke Georgia sebanyak 2 kali. Agustus 2008, konflik di Ossetia selatan mulai pecah.

Bagan 1.1

Analisa Konflik Krisis Ossetia
Bagan klasifikasi konflik dalam krisis Ossetia (Foto: Syelda Titania/reviewnesia.com)

Ketika tahun 1990 Ossetia Selatan merdeka dan memproklamirkan kedaulatannya, milisi dari Negara Georgia justru melakukan serbuan. Moskow juga mengirimkan pasukan yang mendukung pihak Ossetia Selatan. Perang tersebut menjadi penyebab dari larinya sekitar 100 ribu masyarakat Ossetia dari Georgia dan Ossetia Selatan ke Rusia. sekitar 20 ribu warga Georgia ke Georgia. Jika tahun 1989 penduduk Ossetia Selatan masih 165 ribu orang, saat ini jumlahnya kira-kira tinggal setengah dari populasi. 

Baca Juga: Upaya Indonesia dalam Menangani Pengungsi Rohingya di Aceh

Georgia melemparkan tuduhan kepada Rusia yang hendak melakukan aneksasi terhadap kedua kawasan tersebut dan beerusaha untuk menghindari upaya keanggotaan Georgia ke dalam NATO. Tuduhan Georgia terhadap Rusia juga dilancarkan setelah pecahnya bentrokan senjata pada tahun 2008. Namun, seolah-olah tidak melakukan serangan terhadap provinsinya yang membelot itu, dalam konferensi pers, Presiden Mikheil Saakashvili menyampaikan kepada para wartawan Barat, bahwa negaranya menjadi korban invasi Rusia.

Krisis Ossetia berawal dari adanya keinginan Georgia untuk merebut kembali Ossetia Selatan pada awal tahun 1990-an. Sehingga banyak memunculkan gerakan separatis di wilayah Georgia. Namun, disisi lain gerakan separatis juga muncul di wilayah Ossetia Selatan dan Abkhazia yang membuat setengah dari wilayah Ossetia Selatan berada di bawah kendali Rusia untuk membantu menyamai kekuatan separatis yang ada di wilayah Georgia. Namun, sebagian besar etnis Ossetia Selatan tetap berada di bawah kendali Georgia dengan pasukan penjaga perdamaian Rusia yang berada di wilayah tersebut. 

Tidak lama kemudian Georgia memunculkan serangan militer dalam upaya untuk merebut kembali wilayah Ossetia Selatan. Serangan Georgia ini dimaksudkan untuk menjatuhkan korban dari milisi Ossetia Selatan dan pasukan penjaga perdamaian Rusia yang menentang serangan Georgia itu sampai pada suatu serangan bahwa Georgia menembak jatuh sebuah pesawat Rusia yang akhirnya Georgia berhasil menguasai sebagian besar wilayah Tskhinvali. Menanggapi hal tersebut, Rusia kemudian bereaksi dengan mengerahkan Unit Angkatan Darat dan Pasukan Udara Rusia di Ossetia Selatan. Rusia mengklaim tindakan ini sebagai intervensi kemanusiaan yang diperlukan demi penegakan perdamaian.

Bagan 1.2

Analisa Konflik Krisis Ossetia
Runtutan konflik yang terjadi dalam krisis Ossetia (Foto: Syelda Titania/reviewnesia.com)

Pendorong langsung adanya konflik senjata ini adalah ketika Rusia tidak terima dengan adanya intervensi kemanusiaan yang dilakukan oleh Georgia sehingga akhirnya Rusia mengerahkan tenaga militernya untuk menyerang kembali kepada pihak Georgia.

Respons Rusia adalah meningkatkan eskalasi konflik hingga menjadi perang terbuka dalam kasus ini menjadi suatu sorotan penting yang kemudian perang ini mencapai puncaknya pada tahun 2008. Serangan Rusia ke Georgia pada Agustus 2008 sangat mengagetkan dunia internasional yang pada saat itu berbarengan dengan olimpiade Beijing. Rusia menyerang pasukan Georgia yang ada di Ossetia Selatan. Namun, Georgia pada saat itu ingin mempertahankan wilayahnya, dimana Ossetia Selatan sendiri ingin memisahkan diri dari Georgia. Masing-masing pihak saling menuduh dan menolak untuk mengakui siapa yang memulai serangan.

Foreign Policy’s Role in Promoting Development: The Brazilian Case

Georgia mengklaim bahwa kelompok separatis Ossetia Selatan melanggar kesepakatan gencatan senjata yang mengakibatkan kematian orang-orang Ossetia Selatan. Kemudian pemimpin Ossetia Selatan memerintahkan masyarakat untuk mengungsi. Pengungsi diarahkan ke Ossetian Utara yang merupakan bagian dari Rusia. Yang akhirnya melibatkan Rusia ikut turun tangan dalam konflik ini, warga Ossetia Selatan yang di antaranya adalah orang Rusia meminta perlindungan pada militer Rusia. Titik puncak peperangan tepatnya terjadi pada 7 Agustus 2008, saat itu Georgia melakukan serangan besar-besaran pada ibukota Ossetia Selatan yaitu Tshkhinvali. Serangan ini sebelumnya telah disetujui karena kedua belah pihak telah menyepakati adanya gencatan senjata. Kemudian terjadi pengeboman oleh pihak Rusia di wilayah pusat kota Georgia. Aktor dalam konflik ini adalah Presiden Goergia, Presiden Rusia, dan gerakan separatis Ossetia Selatan.

Bagan 1.3

Analisa Konflik Krisis Ossetia
Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya krisis Ossetia (Foto: Syelda Titania/reviewnesia.com)

Presiden Georgia (Mikhail Saakashvili) yang terpilih menjadi Presiden untuk kedua kalinya pada tahun 2008 dan adanya keinginan untuk memenuhi janjinya untuk menjaga integritas bangsanya dengan cara mempertahankan wilayah-wilayah di negaranya yang berkeinginan untuk memisahkan diri. Jika Presiden Georgia (Mikhail Saakashvili) tidak dapat mempertahankan wilayahnya, hal tersebut membuktikan bahwa kondisi pemerintahan sedang kacau dan tidak stabil serta adanya kegagalan dalam pemerintah dalam mengatasi permasalahan yang terdapat di dalam negara tersebut.

Pada dasarnya, gerakan separatis Ossetia Selatan muncul karena adanya ketidakadilan pemerintah dalam pembagian distribusi kekuasaan serta pemenuhan hak dan kewajiban kepada masyarakat yang tidak merata. Hal tersebut menjadikan negara lain seperti Rusia ingin menguasai wilayah Ossetia Selatan. Sehingga, menimbulkan kekhawatiran dari Presiden Georgia (Mikhail Saakashvili) mengenai adanya rencana pengambilan alih wilayah Ossetia Selatan oleh Rusia dan hal tersebut membuat Mikhail Saakashvili menjaga keutuhan negaranya. Apabila Ossetia Selatan sudah berhasil memisahkan diri dan memperoleh kemerdekaan, dapat mendorong wilayah-wilayah lain di Georgia seperti Abkhazia untuk melepaskan diri dari Georgia pula.

Review Responsibility to Protect Antara Libya dan Suriah (Sebuah Analisis Studi Perbandingan)

Presiden Rusia (Dmitry Medvedev) yang melakukan intervensi dalam konflik antara Georgia dan Ossetia Selatan karena kondisi ekonomi dan militer negara Rusia atau dalam faktor geografis yang menjadi pertimbangan utama dalam pertahanan dan keamanan. Hal tersebut juga didukung dengan tindakan Rusia yang tidak nyaman dengan keberadaan pakta pertahanan Atlantik Utara yang tepat berada di perbatasannya. Konflik Georgia dan Ossetia Selatan dianggap sebagai ancaman bagi Rusia karena perbatasan Rusia secara langsung. Tidak hanya itu, tindakan intervensi Rusia juga tidak lepas dari adanya kepentingan Rusia untuk menguasai wilayah Ossetia Selatan. Hal ini didukung oleh tindakan pemerintah Rusia yang memberikan bantuan ekonomi terhadap Ossetia Selatan dan Abkhazia.

Gerakan separatis di Ossetia Selatan tersebut muncul karena adanya ketidakstabilan politik yang disebabkan karena penghapusan status daerah otonom Ossetia Selatan. Sehingga menimbulkan konflik karena pada dasarnya para Nasionalis Ossetia Selatan ingin menyatukan wilayahnya dengan Ossetia Utara yang sudah menjadi bagian dari Rusia. Rusia pun sering memberikan bantuan dalam aspek ekonomi dan militer kepada Ossetia Selatan. Sehingga, menjadikan Ossetia Selatan ingin memisahkan diri dari Georgia dan memilih untuk menjadi negara merdeka dibantu dengan adanya intervensi dari Rusia. Dengan melalukan kompromi melalui diplomasi dengan cara menempatkan Tentara yang bukan dari Rusia di perbatasan dengan Ossetia Selatan dan Abkhazia, karena kemungkinan dapat disetujui oleh Rusia.

Hal tersebut menjadikan pengaruh Rusia di daerah Kaukasia tetap terjaga. Presiden Rusia (Dmitry Medvedev) menemui Presiden Uni Eropa (Nicholas Sarkozy) dengan tujuan untuk menyetujui perdamaian antara Rusia dan Goergia.

15 Shares