Diplomasi Sains
Diplomasi sains sebagai strategi dalam menghadapi permasalahan global (Foto: Siska Silmi/reviewnesia.com)

Diplomasi sains menjadi pilihan utama bagi Indonesia ketika menghadapi permasalahan global seperti saat ini. Penyebaran pandemi global COVID-19 yang kian hari meluas menjadi ancaman serius bagi Indonesia yang notabene merupakan negara berkembang yang masih jauh dari kata mandiri secara kapasitas kesehatan nasional.

Hal itu dibuktikan dengan data yang dilansir oleh Bloomberg dimana Indonesia tidak termasuk ke dalam urutan 50 negara tersehat di dunia, ini membuktikan bahwa kapasitas kesehatan Indonesia belum terlaksana secara efisien dan maksimal.

Untuk itu diperlukan keterlibatan sains untuk memenuhi kapasitas kesehatan Indonesia, sains merupakan gerbang utama dalam memajukan kesehatan pada era modern seperti saat ini, sebab pengaruh sains dan teknologi membawa pengaruh terhadap kehidupan global dan juga membawa perubahan dalam hubungan antar negara.

Guna mendukung penanganan COVID-19 di Indonesia, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyampaikan Indonesia memiliki setidaknya dua opsi dalam rangka pengembangan vaksin. Pertama yaitu membangun resiliensi yang dilakukan dengan pengembangan vaksin secara pribadi.

Baca Juga : Diplomasi Vaksin Covid-19 Pemerintah Indonesia

Kemudian yang kedua adalah membangun kerja sama dengan pihak luar negeri dalam rangka memenuhi ketersediaan vaksin baik melalui pengembangan bersama maupun distribusi dengan pembelian.

Sebagai salah satu negara yang terkena dampak buruk dari pandemi global COVID-19, Indonesia menyadari bahwa mitigasi secara mandiri untuk menanggulangi pandemi ini, tidak akan memiliki signifikansi berarti karena ketersediaan alat dan kemampuan Indonesia dalam menghadapi persoalan kesehatan nasional masih belum maksimal, maka dari itu Indonesia melibatkan pihak luar dalam menghadapi penyebaran COVID-19.

Melihat keadaan tersebut, hal ini menjadi tantangan terhadap ketahanan nasional Indonesia dalam segala aspek pada masa pandemi, maka dari itu Indonesia semakin gencar melakukan diplomasi yang lebih mengarah kepada penggunaan diplomasi berbasis sains dalam menghadapi tantangan akibat dari COVID-19.

Pada 25th Meeting of the ASEAN Coordinating Council (ACC) Indonesia melakukan diplomasi melalui Menteri Luar Negeri dalam menyampaikan sasarannya pada pertemuan tersebut yang berfokus kepada empat hal yaitu:

1. Implementasi dari hasil pertemuan Menteri Kesehatan negara-negara anggota ASEAN dan ASEAN+3 akan lebih ditingkatkan lagi oleh Indonesia pada setiap prosesnya.
2. Pengajuan untuk kesepakatan “Supply Chain and Flow of Goods during the Outbreak” dibahas dalam forum KTT ASEAN+3.
3. Menekankan perhatian terhadap seluruh warga negara ASEAN tanpa terkecuali.
4. Mengusulkan pembiayaan dalam memenuhi seluruh kebutuhan seperti kebutuhan medis dalam menanggulangi COVID-19 dibiayai dari pengumpulan ASEAN COVID-19 Response Fund yang berasal dari ASEAN Development Fund serta ASEAN+3.

Baca Juga  Kudeta Myanmar dan Dilema Intervensi ASEAN

Diplomasi Sains Indonesia terus berlanjut pada KTT khusus ASEAN. Dengan afirmasi yang disampaikan oleh Presiden Indonesia yaitu Joko Widodo terhadap suatu protokol yang diperlukan untuk memutus mata rantai persebaran COVID-19 pada daerah perbatasan. Serta, melakukan perlindungan terhadap warga ASEAN.

Jokowi juga menegaskan untuk peningkatan kerja sama agar lalu lintas barang tidak terhambat serta terus mendorong koordinasi negara-negara yang bekerja sama dengan ASEAN. Hal serupa juga disampaikan pada Pertemuan Tingkat Menteri Alliance for Multilateralism (AoM) oleh Menteri Luar Negeri Indonesia.

Indonesia juga berperan aktif pada forum International Coordination Group on COVID-19 (ICGC) dalam upaya penanganan global pandemic COVID-19 dengan menyatakan upaya kolektif dalam menyeimbangkan pembuatan serta penyaluran vaksin dan pemulihan ekonomi global pasca pandemi COVID-19.

Diplomasi Indonesia yang merujuk kepada Science Diplomasi untuk mencapai kerja sama dalam mewujudkan penyediaan vaksin dan obat-obatan COVID-19 agar dapat terjangkau oleh masyarakat terus ditegaskan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia.

Maka dari itu, arah diplomasi Indonesia menyasar kepada langkah-langkah inovatif dalam menyiasati fleksibilitas pada rezim vaksin Internasional yang telah terdata sebanyak kurang lebih 120 vaksin COVID-19 yang dikembangkan di seluruh dunia dan diatur oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) maupun Organisasi Hak Kekayaan Intelektual (WIPO).

Hal ini terus dikemukakan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia pada setiap pertemuan Internasional salah satunya pada Minesterial Coordination Group on COVID-19 (MCGC) yang dihadiri oleh Menteri Luar Negeri dari 11 Negara.

Diplomasi sains yang difokuskan oleh Indonesia pada bidang kesehatan dalam forum ini di antaranya yaitu, melakukan peningkatan kapasitas dalam respons, deteksi, dan pencegahan; memastikan alat kesehatan maupun obat yang dibutuhkan untuk penanganan COVID-19 selalu tersedia melalui joint-production; menyiasati peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan kerja sama riset obat dan vaksin COVID-19, termasuk kerja sama clinical trial; dan mengupayakan peluang partisipasi Indonesia pada scalling-up produksi obat dan vaksin baru COVID-19 ketika telah ditemukan.

Baca Juga  Peran PBB dan NATO dalam Konflik Perpecahan di Yugoslavia

Terkait pembuatan vaksin, Biofarma akan bekerja sama dengan Badan Penelitian Pengembangan Kesehatan dan konsorsium nasional. Selain itu, Indonesia melalui LIPI juga berkolaborasi dengan lembaga riset luar negeri seperti Coalition for Epidemic Preparedness Inovation (CEPI) dari Norwegia, serta manufacturer dari China yang telah diakui WHO dan bersedia memberi transfer teknologi.

Amerika Serikat menjadi satu di antara negara yang menjalin kerja sama dengan Indonesia melalui diplomasi sains. Berdasarkan data dari Kemenkes RI, dalam kerja sama yang disepakati dalam Joint Statement, Indonesia bersama ASEAN melakukan kesepakatan dengan AS untuk melaksanakan beberapa mekanisme yang berhubungan dengan diplomasi sains terkait peningkatan kerja sama beberapa di antaranya:

1) peningkatan kerja sama di bidang sumber daya manusia dengan penelitian bersama, pendidikan dan pelatihan untuk serangkaian tenaga kesehatan; 2) peningkatan kerja sama dalam mengembangkan vaksin untuk mengobati covid-19; 3) peningkatan komitmen terkait investasi dan memperkuat sistem kesehatan melalui cakupan kesehatan universal, terutama pelayanan kesehatan primer dan penguatan kapasitas sumber daya manusia di bidang kesehatan.

Kesepakatan yang dibangun oleh Indonesia bersama ASEAN dengan pihak AS merupakan bentuk diplomasi sains dalam menanggulangi dampak COVID-19. Diplomasi sains yang dilakukan ini merupakan pencapaian penting kepemimpinan Indonesia sebagai Ketua Kerja Sama Sektor Kesehatan ASEAN periode 2020-2021.

Hasil kesepakatan tersebut juga diharapkan dapat membangun jalinan berkelanjutan dengan pihak AS dalam rangka menghadapi isu kesehatan global. Selanjutnya, pihak yang menjadi mitra Indonesia dalam rangka menanggulangi dampak pandemi global COVID-19 adalah China.

Dalam hal ini, Pemerintah Indonesia menggandeng Lembaga Eijkman dan Universitas Airlangga untuk melakukan penelitian dan pengembangan vaksin dengan Pemerintah China melalui perusahaan Sinovac. Tentunya sebagai negara yang menjadi pusat penyebaran covid-19, China memiliki sejumlah antisipasi yang lebih efektif karena memiliki kesempatan langsung untuk meneliti terlebih dahulu spesifikasi virus tersebut.